Mistikus Cinta

0
Keluarga Abu Bakr Dulaf bin Jahdar (Ja'far bin Yunus) asy Syibli berasal dari Khurasan, tetapi ia sendiri dilahirkan di Baghdad atau Samarra. Ayahnya adalah seorang pemuka istana dan ia sendiri diangkat untuk mengabdi kepada negara. Sebagai Gubernur Demavend ia dipanggil ke Baghdad untuk dilantik dan di kota inilah ia bertaubat kepada Allah. Sebagai salah seorang sahabat Junaid, ia menjadi seorang tokoh terkemuka di dalam peristiwa al Hallaj yang menghebohkan itu. Namanya menjadi aib karena tingkah lakunya yang eksentrik, tingkah laku yang menyebabkan ia dikirim ke sebuah rumah sakit gila. Asy Syibli meninggal dunia pada tahun 334 H/846 M dalam usia 87 tahun.

Panggilan Terhadap Syibli

Abu Bakr asy Syibli adalah gubernur di Demavend. Ia dipanggil khalifah ke Baghdad. Maka bersama-sama dengan Gubernur Rayy dan rombongan, berangkatlah ia menghadap khalifah. Setelah dilantik dan dikenakan jubah kehormatan, mereka pulang. Di tengah perjalanan, Gubernur Rayy bersin dan mengusapkan jubah kehormatan itu ke hidung dan mulutnya. Perbuatan itu dilaporkan orang kepada khalifah dan khalifah memberikan perintah agar jubah kehormatan itu dilepaskan daripadanya, kemudian ia dihukum cambuk dan dipecat. Peristiwa ini membuka mata Syibli.

"Seseorang yang mempergunakan jubah anugerah seorang manusia sebagai sapu tangan" Syibli merenung, "dianggap patut dipecat dan dihina. Dan oleh karena itu lepaslah jubah dinasnya. Bagaimana pula halnya dengan seseorang yang mempergunakan jubah anugerah Raja alam semesta sebagai saputangan? Apakah yang akan ditimpakan kepada dirinya?"

Syibli segera menghadap khalifah dan berkata, "Wahai pangeran, engkau sebagai seorang manusia tidak suka apabila jubah anugerahmu diperlakukan secara tidak hormat, dan semua orang mengetahui betapa tinggi nilai jubahmu itu. Raja alam semesta telah menganugerahkan kepadaku sebuah jubah kehormatan di samping cinta dan pengetahuan. Betapakah dia akan suka apabila aku menggunakannya sebagai saputangan di dalam mengabdi seorang manusia?"

Ditinggalkannya istana khalifah dan bergabunglah ia dengan murid-murid Khair an Nassaj. Di situ dialaminya sebuah pengalaman yang aneh dan Khair mengirim Syibli kepada Junaid. Maka pergilah Syibli menghadap Junaid.

"Engkau dikatakan sebagai seorang penjual mutiara. Berilah atau juallah kepadaku sebutir," Syibli berkata kepada Junaid.

"Jika kujual kepadamu, engkau tidak akan sanggup membelinya dan jika kuberikan kepadamu, karena begitu mudah mendapatkannya, engkau tidak akan menyadari betapa tinggi nilainya. Oleh karena, itu lakukanlah seperti yang telah aku lakukan. Dengan kepala terlebih dahulu, ceburilah lautan ini dan apabila engkau menanti dengan penuh kesabaran, niscaya engkau akan mendapatkan mutiaramu sendiri."

"Jadi apakah yang harus kulakukan kini?" Syibli bertanya.
"Hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun," jawab Junaid.

Hal itu dipatuhi Syibli. Setelah setahun berlalu, Junaid memberikan instruksi-instruksi yang lain kepadanya. Pekerjaanmu sekarang ini bersifat komersil dan akan mencemarkan namamu. Mengemislah setahun lamanya, sehingga engkau tidak disibukkan hal-hal yang lain."

Setahun pula lamanya Syibli menyusuri jalan-jalan di kota Baghdad. Tetapi tak seorang pun yang mau memberikan sedekah kepadanya. Maka kembalilah ia kepada Junaid dan menyampaikan hal ini.

"Sekarang sadarilah nilai dirimu, karena dirimu ini tidak ada artinya dalam pandangan orang lain. Janganlah engkau membenci mereka dan janganlah segan kepada mereka. Untuk beberapa lamanya engkau pernah menjadi bendahara dan untuk beberapa lamanya engkau pernah menjadi gubernur. Sekarang kembalilah ke tempat asalmu dan berilah imbalan kepada orang-orang, yang pernah engkau rugikan."

Syibli kembali ke Demavend. Rumah demi rumah dimasukinya. Maksudnya adalah untuk memberi imbalan kepada setiap orang yang pernah dirugikannya. Akhirnya masih tersisa satu orang yang pernah dirugikannya tetapi orang itu tidak diketahui kemana perginya.

"Dengan mengingat orang itu," Syibli berkata, "aku telah membagi-bagikan seratus ribu dirham, tetapi batinku tetap tidak menemukan kedamaian."

Setelah empat tahun berlalu, Syibli kembali kepada Junaid.

"Masih ada sisa-sisa keangkuhan di dalam dirimu. Mengemislah engkau selama setahun lagi" Junaid berkata kepada Syibli.

"Setiap aku mengemis," Syibli mengisahkan, "semua yang kuperoleh kuserahkan kepada Junaid, dan Junaid membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Pada malam hari aku dibiarkannya lapar."

Setahun kemudian berkatalah Junaid kepadaku, "Kini kuterima engkau sebagai sahabatku tetapi dengan satu syarat, yaitu engkau harus menjadi pelayan bagi sahabat-sahabatku yang lain."

Maka setahun pula lamanya aku menjadi pelayan sahabat-sahabat itu. Setelah itu berkatalah Junaid kepadaku, "Abu Bakr, bagaimanakah sekarang pandanganmu terhadap dirimu sendiri?"

"Aku memandang diriku ini sebagai orang yang terhina di antara makhluk-makhluk Allah," jawabku.

"Jika demikian sempurnakanlah keyakinanmu," kata Junaid.

Pada hari itu Syibli telah memperoleh kemajuan, ia sering mengisi lengan bajunya dengan gula dan kepada setiap anak-anak yang dijumpainya akan disuapinya dengan sepotong gula dan setelah itu ia akan berkata kepada si anak, "Sebutlah Allah."

Setelah itu diisinya bajunya dengan uang dirham dan dinar. Kemudian ia akan berkata kepada mereka, "Kepada setiap orang di antara kalian yang menyebutkan Allah sekali saja, akan kuberikan uang emas."

Tetapi dibelakang hari api cemburu menggelora di dalam dadanya. Dihunusnya sebuah pedang dan berserulah ia, "Setiap orang yang menyebutkan Allah akan kupenggal kepalanya dengan pedang ini."

"Dahulu engkau memberikan gula dan emas," kata mereka, "tetapi mengapa sekarang engkau akan memenggal kepala?"

"Dahulu kukira mereka menyebut nama-Nya karena pengalaman dan pengetahuan yang sebenarnya," kata Syibli. "Tetapi kini sadarlah aku bahwa mereka menyebutkan nama-Nya; tanpa sepenuh hati dan karena kebiasaan semata-mata. Aku tidak rela namanya diucapkan oleh lidah-lidah yang kotor."

Setelah itu disetiap tempat yang dapat ditemuinya dituliskannya nama Allah. Tiba-tiba didengarlah olehnya sebuah suara yang berkata kepadanya, "Berapa lama lagikah engkau menyibukkan diri dengan sebuah nama? Jika engkau benar-benar seorang pencari, bangkitlah dan carilah Yang Mempunyai nama itu!"

Kata-kata itu sangat mempengaruhi dirinya. Ia sama sekali tidak dapat merasa damai dan tenang seperti sediakala. Sedemikian kuatnya bara cinta menguasai dirinya, sedemikkian dalamnya ia tenggelam dalam gejolak mistis, sehingga ia tidak dapat menahan diri dan mencebur ke sungai Tigris. Tetapi air sungai menyongsong tubuhnya dan melemparkannya ke pinggir. Kemudian ia meloncat ke dalam api, tetapi nyala api tidak dapat membakarnya. Maka dicarinyalah suatu tempat di mana singa-singa lapar berkumpul, dan melompatlah ia ke tengah-tengah gerombolan singa itu tetapi singa-singa itu lari berserakan meninggalkan dirinya seorang diri. Dari puncak gunung ia terjun tetapi angin menyambut tubuhnya dan mendaratkannya dengan empuk. Kegelisahannya kian menjadi-jadi.

"Alangkah celaka seseorang," Syibli berseru, yang tidak diterima air maupun api, oleh binatang-binatang buas maupun gunung-gunung!."

Tetapi seketika itu juga terdengarlah olehnya sebuah suara yang berkata, "Seseorang yang diterima oleh Allah tidak diterima oleh yang lain-lainnya."

Kemudian orang-orang merantai dan membelenggu Syibli. Mereka membawanya ke rumah sakit gila.

"Dia sudah gila, kata mereka.

"Menurut penglihatan kalian, diriku ini gila dan kalian waras," jawab Syibli, "semoga Allah menambahkan kegilaanku dan kewarasan kalian, sehingga karena kegilaan ini aku semakin dekat kepada-Nya, dan karena kewarasan itu kalian semakin jauh daripada-Nya."

Khalifah mengirimkan seseorang untuk menyembuhkan Syibli. Para penjaga datang dan secara paksa mendorongkan obat ke dalam mulutnya.

"Tidak perlu kalian bersusah-susah. Penyakit ini bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan oleh obat," cegah Syibli.

Anekdot-Anekdot Mengenai Diri Syibli

Pada suatu hari beberapa orang sahabatnya mengunjungi Syibli yang sedang dirantai.

"Siapakah kalian," Syibli bertanya kepada mereka.
"Sahabat-sahabatmu," jawab mereka.
Seketika, itu juga Syibli melempari mereka dengan batu dan mereka semua melarikan diri.
"Pembohong," Syibli meneriaki mereka. "Apakah para sahabat akan lari dari sahabat mereka hanya karena beberapa butir batu? Kelakuan kalian ini membuktikan bahwa kalian adalah sahabat kalian sendiri, bukan sahabat-sahabatku."

***

Ketika orang-orang menyaksikan Syibli berlari-lari sambil membawa bara api di tangannya.

"Hendak kemanakah engkau," orang-orang bertanya kepadanya.
"Aku hendak membakar Ka'bah, Syibli menjawab, "sehingga orang-orang hanya mengabdi kepada Yang Memiliki Ka'bah."

Di dalam peristiwa lain, Syibli sedang membawa sepotong kayu yang terbakar di kedua ujungnya.

"Aku hendak membakar neraka dengan api di satu ujung kayu ini dan Surga dengan api di ujung lainnya," Syibli menjawab, "sehingga manusia dapat mengabdi karena Allah semata-mata."

***

Sudah beberapa hari lamanya, baik pada waktu siang maupun pada waktu malam, Syibli menari-nari di bawah sebatang pohon sambil meneriakkan, "Hu, Hu."

"Apakah artinya semua ini?" sahabat-sahabatnya bertanya.
"Merpati hutan yang berada di atas pohon itu meneriakkan 'ku, ku', maka aku pun mengiringnya dengan 'hu, hu," jawab Syibli.

Diriwayatkan bahwa merpati hutan itu tidak menghentikan 'hu, hu'-nya sebelum Syibli menghentikan `hu, hu'-nya.

***

Diriwayatkan bahwa ketika Syibli pertama sekali memulai disiplin diri, beberapa tahun lamanya ia biasa mengusapkan garam ke matanya agar ia tidak tertidur. Dikatakan bahwa untuk maksud itu ia telah menghabiskan tujuh onggok garam.

"Allah Yang Maha Besar sedang mengawasi diriku," Syibli berkata. Kemudian ia menambahkan, "Seseorang yang tertidur adalah lalai dan seorang yang lalai tertutup penglihatannya."

Ketika Junaid mengunjungi Syibli, didapatinya Syibli sedang melukai kulit alis matanya dengan sebuah penjepit.

"Mengapakah engkau melakukan hal ini?" Junaid bertanya kepadanya.
"Kebenaran telah menjadi nyata, tetapi aku tidak kuat memandangnya," jawab Syibli. "Kulukai diriku dengan harapan Allah akan berkenan memandangku walaupun untuk sekilas saja."

***

Syibli sering pergi ke sebuah gua dengan membawa sekait kayu. Setiap kali ia terlena, ia memukul tubuhnya dengan kayu-kayu itu. Pada suatu kali, semua kayu yang dibawanya telah berpatahan, maka dinding gua itu dipukul dan ditendangnya.

Karena tenggelam di dalam ekstase mistis, mulailah Syibli berkhutbah kepada khalayak ramai ia mengajarkan rahasia mistik. Junaid mencela perbuatan Syibli itu.

"Kita hanya mengucapkah kata-kata itu di dalam gua," kata Junaid kepadanya, "tetapi engkau datang dan mengumandangkan kata-kata itu kepada semua orang."

"Jika demikian halnya, engkau memperoleh keleluasaan," jawab Junaid.

***

Suatu hari Syibli terus menerus mengucapkan, "Allah, Allah."

Seorang murid yang masih muda dan serius berkata kepadanya, "Mengapakah engkau tidak mengucapkan 'tiada Tuhan kecuali Allah?"'

Syibli mengeluh, kemudian ia menjelaskan.

"Aku kuatir begitu kuucapkan 'tiada Tuhan nafasku terhenti dan aku tidak sempat melanjutkannya dengan 'kecuali Allah,' Jika hal seperti itu terjadi, kecelakaan bagiku."

Penjelasan Syibli ini demikian menggugah hati si murid. Tubuhnya gemetar dan sesaat kemudian ia menemui ajalnya. Sahabat-sahabatnya datang dan memaksa Syibli untuk menghadap khalifah di Istana. Syibli, yang masih berada di dalam alunan ekstase berjalan sempoyongan seperti seorang yang sedang mabuk. Ia dituduh melakukan pembunuhan.

"Syibli bagaimanakah pembelaanmu?" khalifah bertanya kepadanya.

"Pemuda itu terbakar oleh gelora api cinta di dalam kedambaannya mendengar keagungan Allah," Syibli menjawab. "Ia telah terlepas dari segala ikatan dan telah bebas dari segala hawa nafsu. Telah habis kesabarannya dan tak dapat bertahan lebih lama lagi karena terus menerus dikunjungi utusan-utusan dari hadirat Ilahi. Gemerlap cahaya keindahan karena merenungi kunjungan Ilahi yang menyusup ke dalam qalbunya. Bagaikan seekor burung, sukmanya terbang meninggalkan raga. Apakah kesalahan atau kejahatan yang telah dilakukan Syibli di dalam hal ini?"

"Cepat antarkan Syibli ke rumahnya," khalifah memberikan perintah. "Kata-katanya demikian menggoncangkan batinku, sehingga aku kuatir akan terjatuh dari tahtaku ini."

***

Sewaktu Syibli berada di kota Baghdad, ia berkata, "Kita membutuhkan uang seribu dirham untuk membeli sepatu bagi orang-orang miskin yang hendak pergi ke tanah suci."

Seorang pemuda beragama Kristen berdiri dan berkata, "Akan kuberikan uang sebanyak itu dengan satu syarat, yaitu engkau akan membawaku serta."

"Anak muda," jawab Syibli, "engkau tidak boleh menunaikan ibadah haji."

"Kalian tidak mempunyai keledai. Anggaplah aku sebagai keledai dan bawalah aku pergi," jawab si pemuda.

Akhirnya berangkatlah mereka dan si pemuda Kristen yang menyertai mereka, dengan cekatan melayani segala keperluan mereka.

"Bagaimanakah keadaanmu anak muda?" tanya Syibli.

"Aku demikian senang memikirkan bahwa aku dapat menyertai kalian sehingga aku tidak dapat tidur," jawab si pemuda.

Si pemuda Kristen membawa sebuah sapu. Setiap kali mereka beristirahat di sebuah persinggahan, ia segera menyapu lantainya dan mencabuti semak-semak yang tumbuh di tempat itu. Ketika sampai di tempat di mana setiap orang harus memakai pakaian ihram, dilihatnya apa yang dilakukan oleh orang-orang lain dan ditirunya perbuatan mereka itu. Akhirnya sampailah mereka ke Ka'bah.

Syibli berkata kepada pemuda Kristen itu, "Dengan mengenakan sabuk itu aku, tidak mengizinkan engkau memasuki Masjidil Haram."

Pemuda itu merebahkan kepalanya ke pintu Masjidil Haram dan mengeluh, "Ya Allah, Syibli mengatakan bahwa ia tidak mengizinkan aku ke dalam rumah-Mu."

Seketika itu juga terdengarlah sebuah seruan:

"Syibli, kami telah membawanya dari Kota Baghdad dengan mengobarkan api cinta di dalam dadanya, dengan rantai cinta Kami telah menyeretnya ke rumah Kami, Syibli, berilah jalan kepadanya! Dan engkau sahabat, masuklah!"

Si pemuda Kristen masuk ke dalam Masjidil Haram untuk ikut melaksanakan ibadah Haji. Kemudian barulah teman-teman seperjalanannya masuk. Setelah selesai mereka pun keluar dari Masjidil Haram, tetapi si pemuda masih berada di dalam.

"Anak muda, keluarlah!" Syibli berteriak.

"Dia tidak mengizinkan aku keluar dari sini," terdengar jawaban si pemuda. "Setiap kali aku hendak keluar kudapati pintu tertutup. Bagaimanakah nasibku nanti?"

***

Pada suatu ketika secara bersamaan Junaid dan Syibli jatuh sakit. Seorang tabib yang beragama Kristen mengunjungi Syibli.

"Apakah keluhanmu?,' Si tabib bertanya.
"Tidak ada," jawab Syibli.
"Apa?" jawab si tabib.
"Aku tidak merasa sakit," jawab Syibli.

Kemudian si tabib mengunjungi Junaid.

"Apakah keluhanmu?" Ia bertanya kepada Junaid.

Junaid mengatakan setiap hal yang dirasakannya dengan sejelas-jelasnya. Tabib Kristen itu memberikan obat, kemudian pergi. Di belakang hari Junaid dan Syibli bertemu.

"Mengapakah engkau sudi menerangkan semua keluhanmu kepada seorang Kristen?" Syibli bertanya kepada Junaid.

"Agar si tabib Kristen itu menyadari, jika sahabat-Nya sendiri diperlakukan-Nya seperti itu, apakah yang akan dilakukan-Nya terhadap musuh-Nya nanti," jawab Junaid. Kemudian ia balik bertanya kepada Syibli, "Dan mengapakah engkau tidak mau mengatakan keluhan-keluhanmu kepadanya?"

"Aku merasa malu untuk menyampaikan keluh kesahku kepada musuh sahabatku," jawab Syibli.

***

Pada suatu ketika Syibli sedang berjalan-jalan dan dilihatnya dua orang anak yang bertengkar karena satu buah kenari yang mereka temukan.

"Bersabarlah kalian, biar aku yang membagi buah kenari ini untuk kalian," kata Syibli.

Ketika dibelah ternyata buah kenari itu kosong. Kemudian terdengarlah sebuah seruan kepada Syibli, "Teruskanlah, bagilah buah kenari itu jika engkau benar-benar seorang penengah."

Mengenai peristiwa ini di kemudian hari Syibli dengan malu menyatakan, "Semua pertengkaran karena buah kenari yang kosong! Dan lagak sebagai penengah terhadap sesuatu yang sama sekali tidak ada!"

Syaikh Syibli rah. a. berkata:

Suatu ketika, sebuah suara berbisik di hatiku, "Syibli, kamu orang yang kikir." Harga diriku berkata, "Aku bukan orang yang kikir." Lalu aku memutuskan untuk mencoba diriku sendiri. Aku berkata sendiri, "Untuk membuktikan bahwa aku bukan orang yang kikir, aku akan infakkan berapa pun jumlah uang yang kuterima, kepada fakir miskin yang pertama kujumpai setelah menerima uang itu.”

Setelah aku membuat keputusan itu, seorang laki-laki datang dan menghadiahiku uang sebanyak lima puluh dinar. Setelah menerimanya, aku segera keluar mencari fakir miskin, sebagaimana janjiku sendiri. Kutemui seorang laki-laki buta berpakaian buruk sedang menggunting rambut di tempat pemangkas rambut. Kuletakkan uang itu di atas pangkuannya. Ia berkata, “Berikan saja uang ini kepada pemangkas rambut sebagai upah menggunting rambutku."

Aku berkata, "Ini lima puluh dinar." (terlalu banyak untuk upah menggunting rambut).

Orang buta itu memalingkan wajahnya kepadaku dan berkata, "Bukankah sudah kami katakan bahwa kamu adalah orang kikir?"

Kemudian aku serahkan uang itu kepada pemangkas rambut. Namun ia menolaknya, dan berkata, "Maaf, ketika orang ini datang kepadaku, aku telah memutuskan untuk tidak menerima upah apa pun darinya, karena kemiskinannya."

Aku merasa malu, sehingga kulemparkan kantung uang itu ke sungai, dan berkata, "Terkutuk kamu, kamu sampah! Allah Swt. menghinakan mereka yang menghargaimu, sebagaimana ia telah menghinaku." (Raudh).

Syibli Meninggal Dunia

Ketika ajalnya hampir tiba, pandangan mata Syibli tampak murung. Dimintanya abu, kemudian ditaburkannya abu itu ke atas kepalanya. Ia sangat gelisah.

"Mengapakah engkau segelisah ini," sahabat-sahabatnya bertanya-tanya.

"Aku sangat iri kepada Iblis," jawab Syibli. "Di sini aku duduk dalam dahaga tetapi Dia memberi kepada yang lain. Allah telah berkata: `Sesungguhnya laknat-Ku kepadamu hingga hari Kiamat.' (QS. 38: 78). Aku iri karena Iblislah yang mendapatkan kutukan Allah itu, padahal aku pun ingin menerima kutukan itu. Karena walaupun berupa kutukan, bukankah kutukan itu dari Dia dan dari kekuasaan-Nya? Apakah yang diketahui oleh si laknat itu mengenai nilai kutukan itu? Mengapa Allah tidak mengutuk pemimpin-pemimpin kaum Muslim dengan membuat mereka menginjak mahkota di atas singgasana-Nya? Hanya ahli permatalah yang mengetahui nilai permata. Jika seorang raja mengenakan gelang manik yang terbuat dari kaca atau kristal, tampaknya sebagai permata. Tetapi jika pedagang sayur yang menempatkan cincin stempel dari batu permata dan mengenakannya di jarinya, cincin itu tampak sebagai manik yang terbuat dari kaca."

Setelah itu, beberapa saat Syibli terlihat tenang, Kemudian ke gelisahannya kembali lagi.

"Mengapakah engkau gelisah lagi?," tanya sahabat-sahabatnya.

"Satu angin kasih sayang dan yang lainnya kemurkaan. Siapa saja yang terhembus angin kasih sayang maka tercapailah harapannya, dan siapa saja yang terhembus angin kemurkaan maka tertutuplah penglihatannya. Kepada siapakah angin itu akan bertiup?, Apabila angin kasih sayang itu berhembus ke arahku karena harapan yang akan tercapai itu, maka aku dapat menanggung segala penderitaan dan jerih payah ini. Apabila angin kemurkaan berhembus ke arahku, maka penderitaan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan bencana yang akan menimpa diriku nanti."

Selanjutnya Syibli mengatakan, "Tidak ada yang lebih berat di dalam batinku daripada uang satu dirham yang kuambil dari seseorang secara aniaya, walaupun untuk itu aku telah menyedekahkan seribu dirham. Batinku tidak memperoleh ketenangan. Berilah aku air untuk bersuci."

Sahabat-sahabatnya membawa air dan menolong Syibli bersuci, tetapi mereka lupa mengguyurkan air ke janggutnya dan Syibli terpaksa mengingatkan hal ini kepada mereka.

Sepanjang malam itu Syibli menyenandungkan syair berikut ini:

Bagi setiap rumah yang engkau ambil sebagai tempat-Mu,
tiada faedahnya pelita untuk menerangi.
Ketika ummat manusia harus menunjukkan
bukti-bukti mereka kepada Sang Hakim dan Raja.
Maka bukti kami, di negeri yang menggetarkan itu, adalah
keindahan wajah-Mu yang selalu kami dambakan.

Orang-orang telah berkumpul untuk melaksanakan shalat jenazahnya. Ia sedang menghadapi ajalnya tetapi ia masih mengetahui segala sesuatu yang terjadi di sekeliling dirinya.

"Sungguh aneh!," Syibli berkata, "Orang-orang mati telah datang untuk menshalatkan seorang yang masih hidup."

Katakanlah, "Tiada Tuhan selain Allah," mereka berbisik kepada Syibli.

"Karena tidak sesuatu jua pun selain dari pada Dia, bagaimanakah aku dapat mengucapkan sebuah penyangkalan," jawabnya.

"Tidak ada sesuatu pun yang dapat menolongmu, ucapkanlah syahadat," mereka mendesak Syibli.

"Raja cinta berkata, 'Aku tidak sudi menerima suap,"' balas Syibli.

Kemudian seseorang melantangkan suara untuk mendesak Syibli.

"Telah datang pula seorang mati untuk membangunkan seorang yang hidup," kata Syibli.

Beberapa saat berlalu, kemudian mereka bertanya kepada Syibli, "Bagaimana halmu?"

"Aku telah kembali kepada Sang kekasih," jawab Syibli.

Setelah itu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Sumber:
Tadzkiratul Awliya’ (Kisah Teladan Kehidupan Para Wali Allah) – Fariduddin al Attar



https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

DMCA.com
Anda sedang membaca Asy Syibli. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Asy Syibli, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Asy Syibli dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya, apabila tidak mau menyebut sumber dari BLOG. Mohon jangan COPAS. Jika menurut anda artikel ini bermanfaat mohon bantu share. Untuk menyambung tali silaturahmi silahkan Liked FB Fanpage Mistikus Cinta - Follow Twitter @Mistikus_Sufi - Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta. Terima kasih.

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top