Mistikus Cinta

0
Seorang lelaki berlari-lari membawa bara api di tangannya. Orang-orang heran dan bertanya, “Hendak kemanakah, Tuan?”

Lelaki aneh itu menjawab dengan jawaban yang lebih aneh, “Aku hendak membakar Ka’bah, sehingga orang-orang hanya mengabdi kepada Yang Memiliki Ka’bah.” 

Di lain waktu, lelaki aneh yang sama itu terlihat membawa sepotong kayu yang terbakar di kedua ujungnya sambil berkata: “Aku hendak membakar neraka dan dengan api di satu ujung kayu ini dan surga dengan api di ujung lainnya, sehingga manusia dapat mengabdi karena Allah semata-mata.”

Siapakah lelaki aneh itu. Ia tak lain adalah Abu Bakar bin Jahdar Asy-Syibli (247-334 H/861-946 M), tokoh sufi dan murid Syaikh al-Kabir Junaid al-Baghdadi.

Beberapa saat Abu Bakar asy-Syibli Ra diterima menjadi murid dan Sahabat Syaikh Junaid al-Baghdadi Ra, as-Syibli juga sering terlihat mengisi lengan bajunya dengan gula-gula untuk diberikan kepada setiap anak yang dijumpainya. Ia (asy-Syibli) akan memberikan sepotong gula-gula dan setelah itu ia akan berkata kepada si anak: “Sebutlah Allah.” 

Pernah juga Abu Bakar asy-Syibli Ra mengisi bajunya dengan uang dirham dan dinar. Kemudian ia akan berkata kepada mereka: “Kepada setiap orang di antara kalian yang menyebutkan Allah sekali saja, akan kuberikan uang emas.” Namun di belakang hari api cemburu menggelora di dalam dadanya. Dihunusnya sebuah pedang dan berserulah asy-Syibli Ra: “Setiap orang yang menyebutkan Allah akan kupenggal kepalanya dengan pedang ini."

"Dahulu engkau memberikan gula dan emas, tetapi mengapa sekarang engkau akan memenggal kepala?” Tanya orang-orang disekitarnya.

“Dahulu kukira mereka menyebutkan nama-Nya karena pengalaman dan pengetahuan yang sebenarnya. Namun kini sadarlah aku bahwa mereka menyebutkan nama-Nya tanpa sepenuh hati dan karena kebiasaan semata-mata. Aku tidak rela nama-Nya diucapkan oleh lidah-lidah yang kotor.”

Setelah peristiwa itu, di setiap tempat yang dapat ditemuinya, asy-Syibli Ra selalu menuliskan nama Allah. Hingga tiba-tiba didengarlah olehnya sebuah suara yang berkata kepadanya, “Berapa lama lagikah engkau menyibukkan dirimu dengan sebuah nama?... Jika engkau benar-benar seorang pencari, bangkitlah dan carilah Yang Mempunyai Nama itu!"

Kata-kata itu selalu terngiang dan sangat mempengaruhi dirinya. Ia sama sekali tidak dapat merasa damai dan tenang seperti sedia kala. Sedemikian kuatnya bara cinta menguasai dirinya, sedemikian dalamnya ia tenggelam dalam gejolak mistis, sehingga ia tidak dapat menahan diri dan mencebur ke sungai Tigris. Namun air sungai menyongsong tubuhnya dan melemparkannya ke pinggir. Kemudian ia meloncat ke dalam api, tetapi nyala api tidak dapat membakarnya. Maka dicarinyalah suatu tempat di mana singa-singa lapar berkumpul, dan melompatlah ia ke tengah-tengah gerombolan singa itu tetapi singa-singa itu lari berserakan meninggalkan dirinya seorang diri. 

Abu Bakar asy-Syibli Ra sampai pernah menjatuhkan tubuhnya dari puncak gunung, ia terjun tetapi angin menyambut tubuhnya dan mendaratkannya dengan empuk. Justru kegelisahannya kian menjadi-jadi hingga asy-Syibli Ra berkata: “Alangkah celaka seseorang yang tidak diterima air maupun api, oleh binatang-binatang buas maupun gunung-gunung!” Namun ketika itu juga terdengarlah olehnya sebuah suara yang berkata: “Seseorang yang diterima oleh Allah tidak diterima oleh yang lain-lainnya.”
     
Melihat kelakuan asy-Syibli Ra yang kian sulit dipahami khalayak umum, kemudian orang-orang merantai dan membelenggu asy-Syibli. Mereka membawanya ke rumah sakit gila. “Dia sudah gila,” kata mereka.

“Menurut penglihatan kalian diriku ini gila dan kalian waras. Semoga Allah menambahkan kegilaanku dan kewarasan kalian, sehingga karena kegilaan ini aku semakin dekat kepada-Nya, dan karena kewarasan itu kalian semakin jauh daripada-Nya.”

Melihat kondisi yang seperti itu, Khalifah mengirimkan seseorang untuk menyembuhkan asy-Syibli Ra. Para penjaga datang dan secara paksa mendorongkan obat ke dalam mulutnya. “Tidak perlu kalian bersusah-susah. Penyakit ini bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan oleh obat,” cegah asy-Syibli Ra.
     
Ternyata apa yang terjadi pada diri asy-Syibli Ra memang menjadi persoalan tersendiri, seakan tersiratkan pesan; siapa yang “sakit” dan siapa yang “waras”. Hal ini terjadi ketika beberapa orang sahabatnya mengunjungi asy-Syibli Ra yang waktu itu sedang dirantai. “Siapakah kalian?” asy-Syibli Ra bertanya kepada mereka. 

“Sahabat-sahabatmu,” jawab mereka.

Seketika itu juga asy-Syibli Ra melempari mereka dengan batu dan mereka semua melarikan diri. 

“Pembohong,” Syibli meneriaki mereka.

“Apakah para sahabat akan lari dari sahabat mereka hanya karena beberapa butir batu? Kelakuan kalian ini membuktikan bahwa kalian adalah sahabat kalian sendiri, bukan sahabat-sahabatku.”

Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah menuturkan bahwa jika telah datang bulan Ramadhan, Asy-Syibli sangat giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Jika ditanya mengapa, dia menjawab, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diagungkan Tuhan, maka saya adalah orang yang pertama mengagungkannya.”

"Semoga Allah SWT memberikan kita semua rejeki berupa pertolongan untuk bisa mengambil hikmah dari apa yang Allah hidangkan lewat perilaku para hamba-Nya yang telah terbukti mendapat derajat yang tinggi di sisi-Nya." Aamiin.



https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

DMCA.com
Anda sedang membaca Mengenang Perjalanan Sufi Asy-Syibli. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Mengenang Perjalanan Sufi Asy-Syibli, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Mengenang Perjalanan Sufi Asy-Syibli dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya, apabila tidak mau menyebut sumber dari BLOG. Mohon jangan COPAS. Jika menurut anda artikel ini bermanfaat mohon bantu share. Untuk menyambung tali silaturahmi silahkan Liked FB Fanpage Mistikus Cinta - Follow Twitter @Mistikus_Sufi - Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta. Terima kasih.

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top