Mistikus Cinta

0

Ku Anfusakum Wa Ahlikum Naaron

Jagalah diri dan ahlimu dari Api (Naar), ternyata adalah sebuah rumusan yang diberikan Allah di dalam Al Qur’an bagi diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum rumusan ini diterapkan kepada orang di luar diri kita sendiri.

Ketika Al Qur’an Menyoroti Secara Khusus Diri Kita Masing-Masing.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar, keras, lagi tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(QS. 66 (At-Tahrim): ayat 6)

Jagalah jiwamu sendiri, jagalah qolbmu, jagalah hatimu, dan ahli jiwa, ahli qolb, ahli hatimu sendiri. Jagalah qolb mu, hati mu, dan juga balatentara hati mu sendiri. Jagalah hatimu dan komponen panca indramu, jagalah hatimu dan pikiran, tangan, kaki, mulut, lidah, mata.

Penjagaan Aspek Jiwa dan Hati Adalah yang Utama

Rasulullah memberikan sebuah petunjuk yang jauh lebih spesifik lagi kepada kita semua, ketika beliau mengatakan bahwa: “Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging apabila segumpal daging itu baik maka akan menjadi baik semuanya dan apabila segumpal daging itu jelek maka akan jeleklah semuanya ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Inilah inti dari proses ku anfusakum tersebut.  Ahli dari hati adalah jasadnya. Keluarga dari hati adalah jasadnya. Di dalam Al Qur’an banyak juga arahan dari Allah untuk proses penjagaan hati ini.

“(yaitu) di hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syuraa’ [26] 88-89)

Al Qur’an bahkan menyebut harta dan anak-anak tidak berguna dibandingkan dengan qolbun salim (hati yang bersih (QS.26:88-89)). Qolbun salim menjadi lebih utama dibandingkan dengan penjagaan harta dan bahkan penjagaan anak-anak.  Betulkan terlebih dahulu hatimu, jagalah terlebih dahulu hatimu, baru yang lain. 

Dalam logika seperti inilah kita akan mampu memahami Al Qur’an dengan lebih dahsyat. Dengan konstruk pemahaman seperti ini kita juga akan dapat memahami bagaimana koneksi dan hubungan ayat ini dengan ayat-ayat Al Qur’an yang lain.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al-Isra [17] : 36)

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. Al-Hajj [22] : 46)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8] : 2)

Menjaga Hati Dengan Tentara Hati yang Baik

Di dalam hati ada segerombolan tentara yang baik. Dan ada segerombolan tentara yang gelap. Kepada siapakah hati kita akan kita berikan, disitulah proses penjagaan hati dapat dilaksanakan.

Karena itulah Rasulullah kemudian juga mengungkapkan bahwa jihadun nafs jauh lebih besar dari jihad di dalam perang Badar. Sebuah Hadits yang sangat terkenal : ” Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar.” kata Rasulullah. “Apakah itu Jihadun Akbar ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Jihadun Nafs .” Nafs merujuk pada jiwa, dan komponen terpenting jiwa adalah qolb. Maka Jihadun Nafs pun berkorelasi dengan penjagaan hati atau qolb.

Pasukan Gelap hati inilah yang berkorelasi dengan Khoufun dan Tahzanun, Takut dan Sedih. Takut terhadap segala sesuatu. Pasukan kekhawatiran, pesimisme, ragu-ragu, sedih, dan seluruh perasaan negatif.  Pasukan keberanian, optimisme, keyakinan, gembira, bahagia, adalah pasukan yang harus kita menangkan setiap hati bahkan setiap detik dalam kehidupan kita.

Pasukan kegelapan hati iri, dengki, dendam, marah, sombong, rendah

diri, berprasangka buruk, harus disingkirkan dari dalam hati. Dan pasukan tentara terang syukur, pemaaf, harga diri, lemah lembut, berprasangka baik,  harus dimenangkan.

Abdullah bin Mas’ud berkata: Demi Dzat yang tiada Tuhan selainNya, tidak ada anugerah yang paling besar yang diberikan kepada seorang hamba selain baik sangka kepada Allah. Demi Dzat yang tiada Tuhan selainNya, tidak seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan berbaik sangka kepadanya. Hal itu karena segala kebaikan ada di tanganNya.

Rasulullah bersabda: Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah. Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah. (HR. Abu Daud)

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi: Aku menuruti prasangka hambaku terhadapKu, maka silahkan untuk berprasangka sesuai apa yang dikehendaki. Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, jika Ia berprasangka baik terhadapKu, maka baginya kebaikan, maka jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan. Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, dan Aku selalu bersamanya selagi Ia mengingatKu.

Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.
Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.
Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?
Antara cermin dan hati
ada satu perbedaan nyata:
hati menyimpan rahasia
sedangkan cermin tidak.

Orang bertanya kepada Rasulullah saw.,  ”Wahai Rasulullah! Dimanakah Allah? Di bumi atau di langit?”

Rasulullah saw. menjawab, ”Allah Ta’ala berfirman: Tidak termuat AKU oleh bumi-Ku dan lelangit-KU dan termuat Aku oleh qalb hamba-hamba-Ku yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang tenteram.

Sebuah kisah dari Jalaluddin Rumi akan menutup tulisan ini; Alkisah, di sebuah kota ada seorang pria yang menanam pohon berduri di tengah jalan. Walikota sudah memperingatkannya agar memotong pohon berduri itu. Setiap kali diingatkan, orang itu selalu mengatakan bahwa ia akan memotongnya besok. Namun sampai orang itu tua, pohon itu belum dipotong juga. Seiring dengan waktu, pohon berduri itu bertambah besar. Ia menutupi semua bagian jalan. Duri itu tidak saja melukai orang yang melalui jalan, tapi juga melukai pemiliknya. Orang tersebut sudah sangat tua. Ia menjadi amat lemah sehingga tidak mampu lagi untuk menebas pohon yang ia tanam sendiri. Di akhir kisah itu Rumi memberikan nasihatnya, “Dalam hidup ini, kalian sudah banyak sekali menanam pohon berduri dalam hati kalian. Duri-duri itu bukan saja menusuk orang lain tapi juga dirimu sendiri. Ambillah kapak Haidar, potonglah seluruh duri itu sekarang sebelum kalian kehilangan tenaga sama sekali.”

Jangan lupa dukung Mistikus Channel Official Youtube Mistikus Blog dengan cara LIKE, SHARE, SUBSCRIBE:




Anda sedang membaca Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka | Silahkan Like & Follow :
| | LIKE, SHARE, SUBSCRIBE Mistikus Channel
| Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.
Sudah berapa lama Anda menahan rindu untuk berangkat ke Baitullah? Melihat Ka’bah langsung dalam jarak dekat dan berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah. Untuk menjawab kerinduan Anda, silahkan klik Instagram | Facebook.

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top