Mistikus Cinta

0
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menasehati:

"Wahai anak muda! Engkau tidak diciptakan hanya untuk tujuan memperoleh hal-hal duniawi, untuk sekedar makan, minum dan kawin. Engkau harus bertobat dan kembali (kepada Tuhanmu), sebelum Malaikat Maut datang dan menyambarmu sementara engkau sedang melakukan sesuatu yang buruk.

Engkau juga harus menghadapi dengan sabar rasa sakit dan penderitaan yang dikenakan kepadamu oleh sesamamu, termasuk tetangga-tetangga dekatmu, sebab kesabaran adalah sumber bagi begitu banyak kebaikan. Kalian semua berada di bawah perintah untuk mempraktikan kebenaran, dan kalian telah dijadikan bertanggung jawab atas diri kalian dan para pengikut kalian. Sebagaimana dikatakan oleh Nabi SAW.:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُم مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap orang dari kamu semua adalah gembala, dan setiap orang dari kalian bertanggung jawab atas gembalaannya.”

Kalian harus menahan dengan sabar apa pun yang ditetapkan oleh takdir (qadar), sampai penderitaan diubah menjadi keyakinan (yaqîn). Kesabaran adalah fondasi dari semua yang baik. Para malaikat dikenai cobaan dan godaan, dan mereka menahannya dengan sabar. Sekarang kalian mengikuti jejak manusia-manusia (pilihan Tuhan); jadi, kalian harus melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Kalian harus bersabar sebagaimana mereka bersabar.

Apabila hati sehat, maka ia tidak akan peduli apakah orang setuju atau tidak setuju dengannya, tak peduli apakah orang memuji atau menyalahkannya, tak acuh apakah orang memberi atau tidak mau memberi sesuatu kepadanya, tak acuh apakah membawanya dekat ataukah menjadikannya jauh, dan tak peduli apakah orang menerimanya ataukah menolaknya, sebab hati yang sehat berisi kekokohan tauhid, tawakal dan keyakinan, taufiq (bantuan petunjuk menuju keberhasilan), pengetahuan, iman, dan kedekatan kepada Allah.

Dia melihat secara jelas bahwa semua makhluk dalam kelemahan diri mereka sendiri, dalam kerendahan dan kemiskinan mereka, namun ia tidak menjadi arogan terhadap seorang anak kecil pun di antara mereka. Dia menjadi seekor singa ketika pertempuran terjadi dengan orang-orang kafir dan munafik, dikarenakan semangatnya terhadap penegakan kalimat Allah. 

Di hadirat-Nya dia menjadi sepotong daging yang terbuang, dan dia lemah dan rendah hati terhadap orang-orang shaleh dan orang yang bertakwa serta waraʽ. Allah telah menggambarkan jenis manusia yang memiliki sifat-sifat seperti itu, sebab Dia telah berfirman:

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ.... [الفتح: ٢٩]
Keras terhadap orang-orang kafir, dan berkasih sayang terhadap sesama mereka (QS Al-Fath (48) : 29).

Hamba Tuhan yang seperti itu mewujud dari luar pemahaman makhluk-makhluk biasa dan dari luar kendali mereka. Dia muncul sebagai manifestasi firman-Nya:

.... وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ [النحل: ٨].
Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (QS: Al-Nahl (16) : 8).

Semua ini adalah buah dari kekuatan tauhid, ketulusan (ikhlâsh) dan kesabaran. Renungkanlah pengalaman nabi kita Muhammad SAW ketika beliau bersabar, beliau diangkat ke Langit Ketujuh, dimana beliau melihat Tuhannya Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung dan didekatkan kepada-Nya. Dalam kasus beliau, bangunannya terbukti kuat, setelah fondasi kesabaran dibangun dengan kokoh. Semua hasil yang baik didasarkan pada kesabaran, dan inilah sebabnya Allah menyebut-nyebutnya begitu sering dan memerintahkannya dengan penuh tekanan, sebab Dia telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu; tetaplah bersiap siaga, dan laksanakanlah kewajibanmu terhadap Allah agar kamu semua berjaya (QS Âli ‛Imrân (3): 200)

Ya Allah masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bersabar. Jadikanlah kami sebagai pengikut setia mereka dalam kebaikan yang aktif, dalam kata dan perbuatan, dalam kesendirian maupun di depan orang banyak, dalam bentuk dan dalam substansi, dalam semua keadaan, situasi dan kondisi kami, dan:

Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa nereka! (QS Al-Baqarah (2): 201)."

--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Kitab Jala Al-Khathir--


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Nasehat Sufi Untuk Anak Muda. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Nasehat Sufi Untuk Anak Muda, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Nasehat Sufi Untuk Anak Muda dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top