Mistikus Cinta

0
Almaghfurlah Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma. Mursyid tarekat Khalwatiyah Yusuf yang mempunyai basis massa kuat ini mendirikan NU di awal 1950 dengan basis aliansi raja-raja di kraton Gowa, Bone dan Luwu.

A. Nasab dan Silsilah

Nasab berarti al-qarābah, yakni hubungan keluarga secara biologis dari ayah, yang dalam al-Munjid disebutkan nisbatuhu ilā abīhi nasaban (dia dinisbatkan kepada ayahnya),[1] sehingga dipahami bahwa nasab itu khusus pada keturunan seayah.[2] Penggunaan nasab dengan menyebut nama keturunan seayah, sesuatu yang disyariatkan sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Ahzab/33: 5, yakni ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقَسَطُ عنْدَ الله (sapahlah mereka dengan berdasarkan nama keturunan ayah mereka, itulah lebih adil di sisi Allah).[3]

Untuk mengetahui turunan seseorang, selain menyebut nama ayah maka lebih jelas lagi bila tambahkan nama marga atau fam turunan ayah ke atas seperti Assegaf sebagai leluhur induk dari banyak keluarga Alawiyin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah (generasi ke-22 dari Nabi saw), yang menurunkan ulama-ulama sufi besar bertaraf waliyullah dengan kharisma dan memiliki spiritual power luar biasa. Nasab mereka melalui jalur Sayyidina Husein bin Ali Zawj Fatimah al-Zahrah binti Muhammad Rasululullah saw., salah satunya adalah Allahu Yarham Syaikh Sayyid al-Habib Kiai Haji Jamaluddin Assegaf Puang Ramma al-Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassari Qaddasallahu Sirrah, yang lebih akrab dengan sapaan Puang Ramma.

Dengan adanya fam Assegaf pada nama Puang Ramma berarti, beliau memiliki nasab secara biologis yang sampai pada Nabi saw. Selain itu terdapat lagi beberapa laqab (gelar khusus) sebagai simbol penghormatan mengawali namanya yakni syaikh, sayyid, habib, kiai, dan haji, memiliki makna spesifik sebagai tanda kemuliaannya.

Syaikh (شيخ) juga dapat ditulis syekh atau syeikh, adalah kata dari Bahasa Arab yang berarti kepala suku, pemimpin, orang yang dituakan, atau ahli agama Islam. Sedangkan sayyid (سَيِّدٌ) berarti tuan memiliki beberapa pengertian antara lain, orang yang memiliki banyak pengikut, orang yang paling unggul diantara kaumnya, orang yang menjadi rujukan dalam urusan-urusan penting masyarakat dan orang yang memiliki pribadi luhur dan bijak. Selanjutnya habib (حبيب) berarti ter-cinta, disenangi, kekasih dan yang dikasihi. Jika didahului huruf alīf dan lām (al-habib/الحبيب) maka dinisbatkan kepada Nabi saw., dan belakangan ini laqab tersebut dipakai juga oleh keturunan Nabi saw.

Khusus untuk laqab kiai, adalah gelar dari masyarakat yang diberikan kepada Puang Ramma yang dipandang alim atau pandai dalam bidang agama Islam dan karena ketinggian ilmu serta pemahaman keagamannya yang mendalam. Di kalangan umat Islam, kiai identik dengan simbol keulamaan seseorang yang di Jawa disebut ajengan, atau di daerah Bugis disebut panrita yang akrab dengan sapaan nama anregurutta, atau anrongguru di kalangan masyarakat suku Makassar, dan annangguru untuk di daerah Mandar.

Adapun kata haji, yang juga melekat pada awal nama Puang Ramma, adalah gelar yang disandangnya setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, Mekah. Kata haji tersebut asal maknanya adalah ziarah, yakni mengadakan perjalanan ritual ke Masjidil Haram dengan tujuan beribadah kepada Allah swt, guna memenuhi kewajiban rukun Islam yang kelima.

Selanjutnya, untuk laqab atau gelar al-Khalwatiy Syaikh Yusuf al-Makassari yang mengikut pada nama Puang Ramma, adalah tarekat beliau yang sumbernya dari silsilah tarekat al-Khalwatiyah jalur versi Syaikh Yusuf al-Makassari. Silsilah tarekat ini, secara muttasil sampai kepada Nabi saw., ber-dasarkan ijazah yang diterima Puang Ramma dari guru-guru atau mursyidnya dengan urutuan sebagai berikut:

1) Sayyidul Mursalin Muhammad saw
2) Sayyidina Āli bin Abū Tālib Karramallahu Wajha
3) Sayyidina Hasan al-Bashriy
4) Sayyidina al-Gawśu Habīl al-Jami’
5) Sayyidina Dawud Atthai
6) Sayyidina Ma’rūf al-Karhi
7) Sayyidina Sirru al-Saqatiy
8) Sayyidina Junaid al-Bagdadiy
9) Sayyidina Munsyid al-Dīnūriy
10) Sayyidina Ahmad Aswad al-Dīnūriy
11) Sayyidina Muhammad bin Abdullāh
12) Umar bin Abdullah
13) Najib bin Abdullah
14) Sayyidina Muhammad al-Anhāriy
15) Syaikh Ruknuddīn al-Siyāsyiy Sahabuddin al-Thabrāsiy
16) Syaikh Sayyid Jamaluddin al-Thabrisiy
17) Syaikh Sayyid Ibrāhim al-Kaylāniy
18) Syaikh Sayyid Abdullah al-Syarwaniy
19) Syaikh Sayyid Affandiy Umar al-Khalwatiy
20) Syaikh Sayyid Yahya al-Syarwaniy
21) Syaikh Affandi Zubair al-Rūmiy Muhammad Anshriy
22) Syaikh Sayyid Abdullah al-Qarniy
23) Muhammad al-Anshari
24) Syaikh Sayyid Uwais al-Qarniy
25) Syaikh Sayyid Syamsuddin al-Rūmiy
26) Syaikh Sayyid Idrus al-Rūmiy
27) Syaikh Sayyid Ya’qūb al-Antabiy
28) Syaikh Sayyid Ahmad al-Rūmiy
29) Syaikh Sayyid Waliyyu al-Habiy al-Ajaniy
30) Syaikh Sayyid Ahmad bin Umar
31) Abu Barakah Ayyub al-Khalwatiy
32) Syaikh Sayyid Yusuf Abu al-Mahasin Taju al-Khalwatiy al-Makassariy
33) Syaikh Abū al-Fathi Abdul al-Bashīr al-Dhahir al-Khalwati Tuan Rappang
34) Abū al-Sa’ad al-Fadhil
35) Syaikh Abdul Majib Nuruddin Ibn Abdillah
36) Sayyid Abdul Gaffar al-Saqqaf
37) Sayyid Muhammad Zainuddin al-Saqqaf
38) Sayyid Ali al-Saqqaf
39) Sayyid Hasan al-Saqqaf
40) Sayyid Ibn Hajar al-Saqqaf
41) Sayyid Abdul Malik al-Saqqaf
42) Sayyid Jamaluddin al-Saqqaf Puang Ramma
43) Sayyid A. Rahim al-Saqqab Puang Makka.[4]

Dalam silsilah di atas, marga Assegaf disebut dan ter-tulis al-Saqqaf pada nama Puang Ramma, sebagaimana telah dikemukakan marga ini dari keturunan Nabi saw., golongan Alawiyyin. Mereka dari Hadramaut menyebarkan Islam sambil berdagang di Nusantara pada abad ke-17, yang sampai sekarang telah melahirkan banyak keturunan dan menetap di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Makassar.
Selain Assegaf masih ditemukan fam lain yang senasab, atau sama-sama memiliki silsilah dari Nabi saw., seperti al-Alawiy, al-Aydrus, Shahab/Shihab, al-Qutban, al-Musawa, al-Fakhir, al-Hamid, al-Humaid dan selainnya. Fam atau marga ini, menyertai nama mereka dan telah mentradisi terutama di kalangan ulama sufi.

B. Riwayat Hidup

Puang Ramma yang bernama lengkap Allahu Yarham Syaikh Sayyid al-Habib Kiai Haji Jamaluddin Assegaf Puang Ramma al-Khalwatiyah Syaikh Yusuf al-Makassari al-Magfur Qaddasallahu Sirrah, lahir pada tanggal 21 Juni 1919 M., di Kampung Tambua Kabupaten Maros, yang terletak sekitar 12 Kilometer ke arah Utara dari Bandara Sultan Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Orangtua Puang Ramma, bernama Sayyid Ahmad Hanbal Assegaf Puang Lau, yang menetap di Pulau Salemo, menikah dengan Syarifah Mukminah, kemudian melahirkan empat orang anak laki-laki dan dua perempuan, yakni Abdul Hamid Assegaf Puang Cora, Abdul Majid Assegaf Puang Sikki, Abdul Rahman Assegaf Puang Tiga, Abdul Rahim Assegaf Puang Makka, Sayyidah Wahidah Assegaf dan Sayyidah Wihdah Assegaf.

Semasa kecilnya, Puang Ramma mengaji secara privat di hadapan orangtuanya dengan sistem mangngaji tudang, juga belajar tentang dasar-dasar ilmu agama terutama bahasa Arab, kemudian secara formal belajar kitab-kitab di Pesantren Pulau Salemo Kabupaten Pangkep di hadapan gurunya bernama Anreguru K. H. Abdul Rasyid, dan beberapa ulama lainnya seperti K.H. Muhammad, K. H. Abdul Aziz, K.H. Muhammad Sunusi, K.H. Minahajje, K.H. Cande, K.H. Abubaedah. Dari guru dan kiai-kiai inilah, Puang Ramma menerima banyak ilmu agama dan menguasai kitab-kitab kuning berupa kitab tafsir dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan usul fikih, ilmu tasawuf dan selainnya.

Memasuki tahun 1943, Puang Ramma menikah di Gowa tepatnya di Balang Baru, dan selanjutnya masih sering ber-kunjung ke ulama yang dianggapnya memiliki kredibilitas untuk belajar dan berdiskusi untuk lebih memperdalam ilmu-nya, sehingga beliau akrab dengan beberapa ulama sezaman-nya seperti K.H. Ahmad Bone, K.H. Muhammad Ramli dan bersama ulama lainya mendirikan majelis ilmu di berbagai daerah, dan setelah memiliki banyak jamaah, beliau mendiri-kan Rabithatul Ulama, sebuah organisasi yang bebasis Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai cikal bakal berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan.

Tahun 1945 saat Puang Ramma menetap di Balang Baru, bergabung dengan Lapris Lipang sebuah organisasi keislaman di Bajeng Polong Bankeng, dan beliau mendapat kepercayaan sebagai qadhi Jogayya Gowa pada tahun 1946. Dalam pada itu Puang Ramma membuka pengajian rutin setiap ba’da Magrib di beberapa mesjid, terutama di Mesjid Jami’ Sungguminasa.

Selanjutnya sekitar tahun 1950, Puang Ramma pindah ke Ujung Pandang (sekarang Kota Makassar), dan mendirikan lembaga pendidikan formal, yakni Perguruan Islam Nasrul Haq di Jalan Sungai Walannae. Saat Puang Ramaa membina lembaga pendidikan tersebut, beliau juga mendirikan mesjid Miftahul Khaer, dan mendapat kepercayaan sebagai Imam Mamajang Distrik Mariso. Selain itu, beliau menjadi Anggota CPM Detasmen 71 Sulawesi, beliau juga dipercayakan sebagai Tim Work Panitia Penolong Tentara Indonesia (PPTI) yang dipimping oleh Bung Tomo.

Pada tahun 1954, Puang Ramma ke Tanah Suci, Mekah menunaikan ibadah haji dan di sana beliau menggunakan kesempatan belajar dihadapan Allamah Syaikh Muhammad Sanusi. Tidak lama sekembalinya dari Mekah, Puang Ramma menjadi anggota Majelis Mahkamah Syariah Ujung pandang, dan menjadi Panitia Pembangunan Mesjid Raya Makassar, selanjutnya dipercaya menjadi anggota Dewan Konstituante RI pada tahun 1955-1959. Di dewan inilah Puang Ramma ber-sahabat dengan Buya Hamka, seorang ulama tenar yang telah menulis Tafsir Azhar dan Tafsir al-Bayan.

Setelah menjadi Dewan Konstituante, Puang Ramma kembali fokus pada pembinaan umat dan aktif mengajar di lembaga pendidikan Nasrul Haq yang telah didirikannya, serta bersama ulama lain memajukan dunia pendidikan Islam dengan mendirikan Perguruan Islam DDI Mariso, juga men-dirikan Perguruan Islam BPI Sambung Jawa pada tahun 1965, serta menjadi perintis pendirian Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1971, Puang Ramma dipercaya menjabat sebagai Hakim pada Pengadilan Agama Kabupaten Gowa, dan beliau terpilih menjadi anggota DPRD Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan, tahun 1972-1977.

Setelah menjadi anggota dewan legislatif, Puang Ramma fokus pada pembinaan umat melalui Nahdlatul Ulama, pada ormas Islam terbesar ini beliau dipercaya sebagai Rais Syuriah periode tahun 1977-1982 selanjutnya menjadi mustasyar dan mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy.

Demikian sirah hidup Puang Ramma, yang telah meng-abdikan dirinya untuk umat, bangsa dan negara sampai akhir hayatnya, beliau wafat di kediamanya Jalan Baji Bicara Nomor 7 Makassar pada hari Jum’at 15 Sya’ban 1427 H, atau tanggal 8 September 2006 M, dan dimakamkan ditempat kelahirannya di Desa Tambua Kabupaten Maros.

C. Rutinitas dan Aktivitas

Sejak masa kecilnya, Puang Ramma dikenal orang yang sangat disiplin waktu. Setiap selesai magrib beliau mengaji dan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap bulannya. Rutinitas seperti ini telah menyatu dalam hidupnya baik semasa aktif sebagai qadhi, imam, guru, anggota legislatif, Rais Syuriah dan Mustasyar NU sampai menjadi mursyid tarekat.

Di selah-selah kesibukannya, dan dalam kondisi apapun, Puang Ramma selalu bangun tengah malam, sekitar jam 2.00 dini hari untuk melaksanakan salat tahajjud, dan di pagi hari sekitar jam 9.00 melaksanakan salat dhuha. Sudah menjadi komitmen pribadi beliau, bahwa tujuh macam salat menjadi kewajiban yang pantang untuk ditinggalkan, yaitu salat fardu lima kali sehari semalam, ditambah dua salat sunnat, yakni tahajjud dan dhuha sebagaimana yang disebutkan.

Salat tahajjud secara rutin dan dengan keikhlasan dalam melaksanakanya memiliki pengaruh yang sangat kuat pada diri Puang Ramma. Salat tahajjud tersebut, dijadikannya sebagai momen yang paling tepat dan wahana utama untuk berhubungan dengan Allah di saat umat manusia terlelap dalam tidurnya. Beberapa kali Puang Ramma terjatuh dan tersungkur saat dan setelah salat tahajjud, tetapi dianggapnya sebagai obat, bahkan menurutnya sebagai penguat daya tahan tubuh. Itulah sebabnya ketika beliau terjatuh, tidak pernah merasakan sakit sedikitpun, tidak terluka, dan tidak pula mengeluh. Menurutnya pula bahwa dengan salat tahajjud, seseorang terhindar dari berbagai penyakit, tidak mudah stres ketika menghadapi problematika kehidupan. Dengan salat tahajjud itu juga, dianggapnya sebagai sumber energi yang mengalir deras dalam relung-relung jiwa dan menjadi pelita hidup di kemudian hari.

Sedangkan salat dhuha menurut Puang Ramma, adalah sebagai wahana untuk memperbanyak rezki serta keberkahan hidup. Karena itu menurutnya, bagi yang rutinitas melaksana-kan salat dhuha secara khusyu dan ikhlas, tidak akan ditimpa kemiskinan dan kesusahan hidup, mereka senantiasa diberi kelapangan dalam berusaha dan kebahagiaan hidup.

Salat dhuha maupun tahajjud yang menjadi rutinitas Puang Ramma, masing-masing delapan rakaat, namun alokasi waktu yang digunakan dominan lebih banyak salat tahajjud, yakni rata-rata dua jam setiap malamnya, sedangkan salat dhuha sekitar satu jam.

Setiap setelah salat tahajjud, Puang Ramma tidak tidur lagi sampai terbitnya matahari. Beliau berzikir sampai masuk-nya waktu fajar dan bersiap menunaikan salat Shubuh secara berjamaah, setelah itu beliau mengamalkan beberapa wirid yang menjadi amalam rutin tarekatnya, dan kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Puang Ramma sampai hari tuanya setiap selesai salat Shubuh adalah jalan-jalan pagi untuk ber-silaturahim dengan tetangga dan masyarakat sekitar, sambil berolahraga ringan seperti lari-lari kecil, dan saat berada di depan rumah seringkali beliau menggunakan waktu untuk ma’raga, setelah itu mandi dan mencuci pakaiannya sendiri, serta sejenak menggunakan waktu istrahat untuk kemudian menunggu waktu yang tepat melaksanakan salat dhuha. 

Biasanya setelah salat dhuha, Puang Ramma duduk di ruang tengah rumah, terkadang pula teras rumah, membaca kitab dan disaat-saat demikian seringkali beliau didatangi tamu. Pada tahun 1950-1970-an, waktu itu beliau masih menetap di Jalan Anuang tetamunya yang sering datang di kalangan ulama antara lain K.H. Muhammad Ramli, dan K.H. Saifuddin, termasuk Buya Hamka jika ke Makassar pasti berkungjung ke rumah beliau. Setelah pindah di Jl. Bicara Bicara tahun 1980-an tetamunya yang sering datang adalah K.H. Muhammad Nur, Habib Ali Ma’bud, K.H. Danial, K.H. Harun al-Rasyid, K.H. Hasyim Naqsyabandi, Dr.K.H. Mustafa Zuhri, dan tokoh lain yang sering mengunjungi beliau adalah Andi Mappayukki, belakangan di era 1990-an adalah H. Muhammad Jusuf Kalla selalu datang berdua dengan Aksa Mahmud. Sedangkan ulama generasi belakangan yang sering datang ke rumah beliau sampai wafatnya adalah K.H. Sanusi Baco, K.H. Abdurrahman B, K.H. Harisah. Dia antara tiga ulama yang disebutkan terakhir ini, K.H. Harisah yang juga murid Puang Ramma paling sering datang berkunjung, ber-silaturahim dan meminta tawsiahnya.

Pada siang harinya, setelah salat dhuhur Puang Ramma menggunakan waktu istrahat sampai memasuki salat ashar. Setelah itu, beliau kembali memanfaatkan waktunya untuk bersantai dengan keluarga dan kerabat, atau terkadang pula beliau keluar rihlah menikmati suasana kota Makassar dengan mengendarai motor besarnya, Harlay Devidson. Begitu sekitar jam 17.00 sore kembali ke rumah dan berzikir menunggu masuknya waktu magrib, setelah itu membaca ayat Al-Qur’an (tadarrus) sampai Isya’, dan biasanya isterahat malam setelah menonton acara Dunia Dalam Berita di TVRI. Rutinitas yang tidak pernah ditinggalkannya sebelum isterahat malam adalah mattale, membaca kitab-kitab sebagai pengantar tidurnya.

Dalam keseharian Puang Ramma, terlihat penampilan-nya yang sangat sederhana namun berwibawa, style pakaian yang digunakan adalah sarung dan kemeja lengan panjang lengkap dengan sorbannya. Biasanya hanya menggunakan sarung saat masuk kamar kecil, dan tidak mengenakan sarung tersebut untuk salat. Saat makan, beliau senantiasa memakai kopyah, beliau makan disaat lapar dan menyudahi sebelum keyang. Etika dan pola makan yang demikian ini, diterapkan pula kepada anak-anaknya.

Puang Ramma dikenal sangat ketat dalam mendidik anak-anaknya, dan menanamkan sikap kedisiplinan di dalam lingkungan keluarganya. Beliau mewajibkan salat berjamah dan makan bersama di antara keluarga. Jika kedatangan tamu, beliau makan bersama tamunya tanpa membedakan status sosial siapa tamu tersebut, jika tetamunya adalah pejabat dan sebagiannya adalah tamu dari kalangan masyarakat biasa, diajaknya makan secara bersama-sama, dan beliau lebih men-dahulukan tetamunya mengambil prasmanan. 

Puang Ramma memiliki kepribadian yang akomodatif, tutur katanya sopan namun tegas, setiap kata dan kalimat yang terucap dari mulut nya mudah dimengerti dan dipahami bagi yang mendengarnya, hal ini terutama jika beliau mem-bawakan ceramah dan pengajian. Pada momen seperti itu, beliau sangat keras dalam menyampaikan kebenaran, namun sangat terbuka terhadap pendapat orang lain, sehingga setiap orang yang berjumpa dengannya dihargainya. Beliau tidak bersikap diskriminatif, beliau mengayomi siapa saja, tidak pernah bersikap dan berucap yang dapat menyebabkan orang lain tersinggung. Sikap santun seperti ini, terlebih dahulu di-terapkan dalam rumah tangganya. Tidak pernah terjadi konflik antara beliau dengan isteri dan anak-anaknya, apalagi mengeluarkan ucapan yang emosional seperti marah. Beliau memilih diam bila ada hal yang tidak disetujuinya, kemudian menerapkan apa yang diinginkan dengan cara lain.

Puang Ramma sangat empati untuk kebaikan orang lain dan sangat tinggi keprihatinanya terhadap kesulitan yang di-hadapi orang lain. Beliau ringan tangan mengulurkan infak dan sedekah terhadap orang yang membutuhkannya, apalagi untuk kepentingan jamaahnya. Karena itu, beliau minimal empat kali dalam sebulan mengunjungi jamaahnya di ber-bagai tempat tanpa mengenal jarak yang berjauhan dengan berbagai resiko yang harus dilaluinya. Parangloe misalnya, sekitar 100 km dari Makassar dengan menapaki medan jalan yang terjal, menyusuri gunung dan pendakian yang tinggi. Tempat jamaahnya yang sering pula dikunjungi, adalah Pulau Salemo tanpa mengenal panas terik matahari, dan gelombang ombak lautan yang menghalangnya.

D. Khawaish dan Karamah

Khawaish yang dimaksud di sini adalah kelebihan khusus yang dimiliki seorang wali karena kedalaman ilmu dan amal nya serta kedekatannya terhadap Allah, sedangkan karamah adalah pemberian Allah swt berupa keluarbiasaan yang terdapat pada diri seorang wali yang tidak dapat dinalar oleh manusia secara umum, dimana keluarbiasaan itu disaksikan oleh orang banyak pada diri seorang wali tersebut.[5]

Puang Ramma sebagai waliyullah dan habibullah yang dikenal masyarakat luas, yang dalam kedudukannya sebagai ulama, guru tarekat, dan mursyid yang sangat disegani, baik oleh sesama ulama maupun penguasa, memiliki khawaish dan karamah dalam posisinya warasatul anbiyā, yang mewarisi kepribadian Nabi Muhammad saw, sehingga patut dijadikan uswah dan keteladanan.

Secara sepintas khawaish dan karamah Puang Ramma, dapat dilihat dari kepribadiannya yang terpuji, terpancar pada wajahnya yang senantiasa cerah dan bersih sehingga setiap orang yang berjumpa dengannya merasa kagum dan ingin dekat dengannya, dan membuat seseorang yang pernah ber-jumpa dengannya merasakan kerinduan. Karena itu, beliau sangat dicintai masyarakat dan jamaahnya, beliau dijadikan pengayom dan tempat berlindung kapan dan dimanapun.

Puang Ramma diakui memiliki keberkahan sebagai bagian dari khawaish dan karamahnya, sehingga masyarakat apalagi jamaahnya selalu minta barakka darinya. Melalui doanya yang dikabulkan Allah swt., dan dengan amalan ritualnya yang dilakukannya, mampu menyembuhkan ber-bagai penyakit, seperti sakit mata, sakit kepala, sakit perut dan penyakit ringan lainnya. Cukup segelas air putih yang beliau berkahi melalui doanya dan ditiupkan energi doa tersebut, yang bersangkutan setelah meminum air di gelas tadi akan sembuh. Masyarakat banyak yang berdatangan kepada beliau dengan tujuan tersebut, dan khasiatnya dibuktikan sendiri oleh mereka, sehingga diyakini bahwa karamah beliau diyakini benar adanya.

Selain penyakit yang telah disebutkan, Puang Ramma dengan karamah yang diberikan Allah kepadanya, mampu mengusir dan mengeluarkan roh yang bersemayam pada diri seseorang. Dalam berbagai kasus kesurupan, beliau sering menanganinya. Beliau juga mampu membuat seseorang tidak berdaya jika berhadapan dengannya, terutama apabila orang tersebut melakukan kesalahan dan hendak melakukan per-lawanan fisik.

Suatu ketika di sekitar jalan Cendrawasih Puang Ramma setelah pulang khutbah jumat, sekumpulan masyarakat meng-adakan pesta miras, minum ballo, dan menyatakan sesuatu yang kurang berkenan pada diri beliau. Sesaat setelah itu, Puang Ramma mendekati tempat tersebut, dan kelihatan sekumpulan masyarakat tadi akan mengadakan perlawanan namun dengan izin Allah, justru mereka lari dan terpental, bahkan sebagian besar terjatuh. Sejak itu, tempat yang dijadi-kan pesta miras tadi, ditutup dan tidak lagi digunakan untuk kegiatan serupa, bahkan masyarakat sekitarnya menjadi sadar dan taat dalam menjalankan ibadah.

Demikian pula di daerah Borong-Antang, pada masa lalu masyarakatnya sangat doyang dengan minum minuman keras, suatu waktu Puang Ramma memberikan pengajian di sana, dan mendoakan mereka untuk sadar dan bisa berhaji, beberapa tahun kemudian masyarakat tersebut sangat taat beribadah, bahkan sebagian besar mereka telah menunaikan ibadah haji. 

Pada kasus lain, suatu waktu Puang Ramma di sekitar Rappocini hendak menuju ke Mesjid Miftahul Khaer untuk membawakan pengajian, masih sulit sarana transfortasi saat itu, yang ada hanya satu becak, itupun tukang becak pada awalnya menolak mengantar beliau dengan alasan kecapekan dan hendak pulang ke rumahnya, namun dengan kalimat Puang Ramma yang begitu sangat mengharap, tukang becak tadi bersedia mengantar beliau, dan tanpa diluar kesadaran tukang becak itu merasa bahwa yang diantarnya ini adalah seseorang yang memiliki karamah, karena menurutnya bahwa seakan-akan ada pihak lain yang membantu menggayung becaknya secara cepat, dan secapat itu pula hanya sekitar lima menit saja perjalanan ditempuhnya, dari Rappocini ke Mesjid Miftahul Khaer, Jalan Sungai Walannae.

Pada peristiwa lain, Puang Ramma menyebrangi lautan dari Makassar menuju Pulau Salemo, yang sekitar dua mil mendatang terdapat ombak besar setinggi dua meter. Pada awalnya kapten kapal tidak bersedia membawa penumpang dengan alasan tingginya ombak yang akan menghadang dan diperkirakan hujan akan turun, namun karena kapten kapal mengetahui bahwa di antara penumpangnya itu ada Puang Ramma, maka berlayarlah kapal tersebut dengan muatan sekitar 50 orang, saat berada di tengah laut semua penumpang panik karena melihat adanya gelombang ombak yang tinggi beberapa meter kedepan yang akan dilewati, disertai gemuruh petir dan kilat petanda turunnya hujan, saat panik tersebut Puang Ramma menuju ke bagian terdepan kapal sambil menengadahkan tangannya seraya berdoa, walhasil ombak tersebut sedikit demi sedikit menurun sampai berakhirnya doa beliau, air laut menjadi tenang dan hujan pun tidak jadi turun, sehingga mereka sampai ke tujuan dengan selamat.

Masih banyak lagi data tentang karamah Puang Ramma yang disaksikan masyarakat dan dituturkan oleh banyak orang, namun untuk menghindari kesan yang berlebihan ter-hadap beliau, cukup dengan kejadian, kasus, dan peristiwa yang luar biasa disebutkan tadi, menjadi bukti bahwa beliau memiliki karamah yang patut dijadikan ibrah dan hujjah berkenaan dengan kemahakuasaan Allah swt. Yang jelasnya, sepeninggal Puang Ramma, sampai saat ini khawaish dan karamahnya masih dapat dibuktikan oleh masyarakat dengan kesakralan kuburannya di Tambua Maros.

Masyarakat secara umum banyak menziarahinya, ter-utama pada waktu-waktu tertentu, seperti saat-saat sebelum pemberangkatan dan setelah kembali dari tanah suci Mekkah. Demikian pula pada saat menjelang bulan suci Ramadhan, dan setelah hari raya Idul Fitri, serta waktu-waktu lainnya.

Tujuan para penziarah yang datang ke kuburan Puang Ramma, adalah kebanyakan untuk mencari keberkahan. Karena, selain kuburannya disakralkan dan disucikan, Puang Ramma juga dianggap orang suci, waliyullah, dan mem-punyai kelebihan dibanding manusia biasa.

E. Ketokohan dan Perjuangannya

Ketokohan dan perjuangan Puang Ramma tidak terlepas dari jasa-jasanya sebagai murysid tarekat yang mengembang kan tarekat khalawtiyah Yusuf al-Makassariy, dan sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan sebagai ormas terbersar Islam yang memiliki banyak jamaah.

1. Mursyid Tarekat Khalawtiyah Yusuf al-Makassariy

Mursyid adalah sebutan untuk seorang maha guru pem-bimbing dalam dunia tarekat, yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid diatasnya yang terus bersambung sampai kepada nabi, Rasulullah saw.[6] Oleh karena itu, jabatan ini tidak boleh di pangku oleh sembarang orang, sekalipun pengetahuannya tentang ilmu agama cukup lengkap, tetapi yang terpenting ia harus memiliki ketersambungan sanad dan silsilah ijazah sampai kepada Nabi saw.

Selanjutnya tarekat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi atau calon sufi dengan tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan.[7] Saat ini dipahami secara umum tiap tarekat mempunyai syaikh, upacara ritual dan zikir sendiri. Tarekat dalam bahasa Arab “الطريقة” artinya jalan, petunjuk dalam melakukan sesuatu, yakni petunjuk tentang ibadah sesuai dengan ajaran yang telah ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi saw dan dikerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun temurun sampai kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai berantai.

Khalawtiyah Yusuf al-Makassariy, adalah tarekat yang dimana Puang Ramma sebagai mursyidnya, silsilahnya dari seorang sufi ulama dan pejuang makassar abad ke-17, syaikh Yusuf al-Makasariy al-khalwatiyah, yang tabarruk terhadap Muhamad (Nur) al-Khalwatiy al-Khawa Rizmi (w. 751-1350).[8] Syaikh Yusuf al-Makasariy, yang pertamakali menyebarkan tarekat dan kemudian di era tahun 1950-an dikembangkan Puang Ramma, ijazahnya bersambung sampai kepada Nabi saw, yang dalam sejarah tarekat ini disebutkan bahwa pada tahun 1670 M., Syaikh Yusuf al-Makasari berguru dan men-dapatkan ijazah dari Syaikh Abu al-Barakah Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwatiy al-Quraisyi serta mendapat gelar taj al-khalwati sehingga namanya menjadi Syaikh Yusuf Taj al-Khalwatiy. Di Sulawesi Selatan beliau digelari Tuanta salamaka ri Gowa (guru kami yang agung dari Gowa), nama lengkapnya adalah Muhamad Yusuf bin Abdullah Abu Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Makassariy.[9]

Puang Ramma setelah menerima ijazah dari gurunya dan resmi menjadi mursyid tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy, senantiasa berupaya mengembangkannya dengan cara mendirikan cabang-cabang lokal, jamaahnya bebas ber-campur dengan masyarakat yang tidak menjadi anggota tarekat. Adapun anggota tarekat ini banyak berasal dari kalangan bangsawan Makassar termasuk penguasa kerajaan gowa terakhir Andi Idjo Sultan Muhamad Abdul Kadir Aidid (1940-1960), dalam perkembangan berikutnya Puang Ramma lebih menfokuskan perkembangan tarekatnya secara merata ker berbagai lapisan masyarakat tanpa mengenal komposisi dan strata sosial, yang karena itu sebagian besar pengikutnya di Kota Makassar dan di pedesaan dominan di Parangloe dan Pulau Salemo.

Tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy yang dipimpin Puang Ramma semasa hidupnya, merupakan amanah dan warisan dari pendirinya, Syaikh Yusuf yang tidak saja pengaruhnya di bumi nusantara, melainkan sampai ke Timur Tengah, Srilangka, dan ke Afrika Selatan. Sepeninggal Syaikh Yusuf, 23 Mei 1699, masyarakat sampai kini mengsakralkan kuburannya yang terletak di Jalan Syaikh Yusuf Lakiung Sungguminasa, mereka datang ke sana untuk berwasilah, ber-nazar, berdoa, dan bertabarruk.

Konsep utama ajaran tarekat yang diajarkan kemudian dikembangkan Puang Ramma sesuai paradigma Syaikh Yusuf al-Makassariy sebagaimana dikemukakan oleh Abu Hamid, adalah pemurnian kepercayaan (aqidah) pada keesaan Tuhan. Ini merupakan usahannya dalam menjelaskan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya. Puang Ramma menekankan keesaan Tuhan, keesannya-Nya tidak terbatas dan mutlak. Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam, yang meskipun berpegang teguh pada transendensi Tuhan, Puang Ramma percaya Tuhan itu mencakup segalanya (al-ahattah) dan ada di mana-mana (al-ma’iyyah) atas ciptann-Nya. Lebih lanjut Puang Ramma dalam mengajarkan tarekat ini, meskipun berpendapat bahwa Tuhan mengungkapkan dirinya dalam ciptaan-Nya, hal itu tidak berarti bahwa ciptaan-Nya itu adalah Tuhan itu sendiri, semua ciptaan adalah semata-mata al-mawjud al-majazi. Dengan demikian dipahami bahwa, Puang Ramma percaya ciptaan hanyalah bayangan Tuhan bukan Tuhan itu sendiri. Menurutnya “ungkapan” Tuhan dalam ciptaan-Nya bukanlah berarti kehadiran “fisik” Tuhan dalam diri mereka.

Dengan konsep al-Ahathah dan al-Ma’iyah Tuhan turun (tanazzul), sementara manusia naik (taraqqi), suatu proses spiritual yang membawa keduanya semakin dekat. Namun proses itu tidak akan mengambil bentuk dalam kesatuan akhir antara manusia dan Tuhan, sementara keduanya menjadi semakin dekat berhubungan dan pada akhirnya manusia tetap manusia dan Tuhan tetap Tuhan. Dengan demikian, Puang Ramma kelihatannya menolak konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud) dan al-hulul (inkarnasi). Di sini dipahami bahwa Puang Ramma lebih menekankan, keberadaan Tuhan tidak dapat diperbandingkan dengan apa pun (laisa ka mitslihi syai’). Beliau mengambil konsep konsep wahdat al-syuhud (kesatuan kesadaran).

Selanjutnya konsep Puang Ramma berkenaan wasilah, adalah mediasi melalui dirinya sebagai mursyid, seorang pembimbing spiritual adalah sesuatu yang sangat diperlukan demi kemajuan spiritual, yang karena itu semasa hidupnya, Puang Ramma selalu mengadakan amalan ritual bersama jamaahnya. Setiap malam Jumat beliau mengumpulkan jamaahnya, dan mentradisikan pembacaan kitab sirah Nabi saw., burdah al-Barazanji disertai salawatan di rumahnya, Jalan Baji Bicara, banyak jamaah yang mengikuti rutinitas seperti ini. Demikian pula setiap bulan Ramadhan, Puang Ramma menggelar acara zikiran, bahsul masail dalam forum diskusi tasawuf dan pengajian bagi jamaahnya, terutama pada malam-malam ganjil akhir Ramadhan.

Sepeninggal Puang Ramma acara ritual seperti yang di-sebutkan di atas, senantiasa mentradisi dan diamalkan secara berkelanjutan oleh jamaahnya, bahkan lebih terorganiasir lagi karena jamaah tarekat Puang Ramma di era sekarang telah membentuk organisasi dengan nama Darul Ahsan yang fokus pada amalan zikir, dan untuk pengembangan dakwah jamaah tarekat Puang Ramma saat ini pula merintis pembangunan Pesantren Tahfidzul Qur’an di Sudiang.

Berdasarkan database terakhir, jumlah jamaah Tarekat Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy sepeninggal Puang Ramma, mencapai 10.000 orang, tersebar diberbagai daerah, khususnya di Makassar, Gowa, Maros dan Pankep.

2. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan

Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, selain Puang Ramma sebagai mursyid tarekat, beliau juga sebagai tokoh utama bersama ulama lainnya, mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, ormas Islam terbesar secara kultur di daerah ini.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyah sekaligus gerakan diniyah islamiyah dan ijtimā’iyah (keagamaan dan sosial kemasyarakatan), sejak awal berdirinya pada tanggal 31 Januari 1926 di kota Surabaya, yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Ay’ari, telah menjadikan faham aswaja (ahl al-sunnah wa al-jama’ah) sebagai basis teologi (dasar berakidah) dan menganut salah satu dari empat mazahab; Hanafī, Malikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī sebagai pegangan dalam berfikih, dan pada bidang tasawuf Akhlak lebih cenderung mengikut pada konsep imam al-Ghazali.

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU), menghimpun ulama, dan sebagai basis pergerakan ulama dan pengkaderan ulama, sehingga arti Nahdlatul Ulama (NU) adalah “Kebangkitan Ulama” yang memiliki tujuan untuk menghimpun ulama, dalam rangka mempromosikan ajaran Islam menurut mazhab sunni dengan segala cara yang halal, memelihara hal-hal yang berhubungan dengan masjid, anak yatim dan fakir miskin, dan membentuk badan-badan untuk meningkatkan usaha sossial keumatan sesuai hukum Islam.

Dalam perspektif siyasah (ketatanegaraan), Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah pergerakan yang mempelopori perkumpulan kebangkitan ulama, merupakan organisasi yang berasaskan Islam yang ajaran-ajarannya banyak mengandung tentang perjuangan, secara ideologis dapat dipergunakan sebagai gerakan untuk menumbangkan kekuasaan kaum penjajah. Kenyataan ini dapat dibenarkan, karena dalam masa kebangkitan nasionalisme Indonesia, rakyat lebih mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang berasaskan Islam.

Hal ini dapat dilihat pada anggaran dasarnya pasal, 2 tahun 1926, bahwa kegiatan NU di masa penjajahan Belanda, diarahkan pada pengembangan agama Islam, dengan cara-cara sebagai berikut:

1) Memperbanyak pengajian-pengajian, agar umat Islam kembali dan sadar akan segala kewajiban terhadap agama, bangsa dan tanah air.
2) Sehubungan dengan penguasaan tanah Hijaz oleh ibnu Su’ud yang beraliran Wahabi, NU memperjuangkan berlakunya hukum-hukum ibadah dalam empat mazhab di tanah Hijaz.
3) Mendirikan Madrasah-madrasah di tiap-tiap cabang, untuk memper-tinggi budi pekerti dan kecerdasan masyarakat.
4) Menuntut agar dicabutnya ordonansi guru 1925, yaitu tentang izin bagi guru-guru agama. [10]

Sense setting sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), bermula dari suatu kelompok diskusi taswīr al-afkār (potret pemikiran) yang dibentuk oleh K.H. Hasyim Ay’ari, K.H. Wahab Hasbullah dan K. H. Mas Mansur. Dari kelompok diskusi inilah kemudian dibentuk organisasi yang diberi nama jam’iyah nahdhah al-wathan (perkumpulan kebangkitan tanah air). Organisasi ini, bertujuan untuk memperluas dan mem-pertinggi mutu pendidikan madrasah.

Pada tanggal 21-27 Agustus 1925, diadakan kongres al-Islam keempat di Yogyakarta, yang membahas persoalan “pemurnian ajaran Islam” dan masalah “khilāfah”. Disebabkan posisi yang tidak mengutungkan, dan dengan maksud untuk tetap mempertahankan terpeliharanya praktek keagamaan tradisional, seperti ajaran-ajaran mazhab yang empat, pe-meliharaan kuburan Nabi saw., dan keempat sahabatnya di Madinah, maka lalu dibentuklah suatu komite yang diberi nama “Komite Merembuk Hijaz”. Komite inilah, yang kemudian pada tahun berikutnya, berubah nama menjadi Nahdlatoel Oelama [Nahdlatul Ulama][11] yang disingkat menjadi “NU” dan diketuai oleh K.H. Hasyim Asy’ary.

Dalam skala nasional, saham NU sangat banyak di saat pra dan detik-detik kemerdekaan RI. Diterimanya Pancasila dan UUD 1945 sebagai pilar konstitusi negara RI merupkan sebuah perjanjian luhur bangsa yang tidak lepas dari peran nasionalis dan pemuka NU. Sungguhpun dikatakan kelompok tradionalis, wawasan kebangsaan dan sikap kenegaraan para tokoh NU saat itu mencerminkan pola pemikiran yang dinamis dan modernis.[12] Bisa dikatakan bahwa dalam periode tiga dasawarsa pertama ini, NU telah berhasil melakukan sebuah transformasi besar-besaran, khususnya di bidang sosial dan budaya.

Selepas proklamasi kemerdekaan, orientasi NU lebih terkonsetrasikan pada transformasi bidang sosial-politik. Jasa para kiai dan warga NU dalam perang kemerdekaan, sangat memberi andil bagi kelangsungan negara RI. Begitu juga keberadaan NU sebagai sebuah parpol pada pemilu tahun 1955 yang menempati urutan ke-3 (20% kursi) mampu mem-berikan arah perjuangan bangsa. Dalam situasi demikian, NU berkembang dan melebarkan sayapnya secara merata ke ber-bagai wilayah termasuk di Sulawesi Selatan, yang sebelumnya memang telah didirikan Rabithatul Ulama sebagai organisasi berkumpulnya ulama yang berpaham Aswaja.

Rabithatul Ulama yang disingkat RA, adalah ormas embrio kelahiran NU pertama kali di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dibentuk pada 8 April 1950 atas prakarsa K.H Ahmad Bone, K.H Muhammad Ramli, K.H. Jamaluddin Assegaf Puang Ramma, Andi Mappayukki, K. H. Saifuddin, Mansyur Daeng Limpo dan beberapa ulama sejawatnya.

K.H. Ahmad Bone, wafat 12 pebruari 1972 pada usia 102 tahun, yang juga dikenal sebagai “Kali Bone” (qadhi atau hakim agama di bekas Kerajaan Bone) berjuang bersama dengan Raja Bone Andi Mappanyukki yang pertama kali membentuk organisasi ulama yang sejalan dengan paham NU di wilayah kerajaannya pada tahun 1930-an.

K.H. Muhammad Ramli berjuang di daerah Luwu, bersama dengan Raja Luwu, Andi Djemma. Kiai nasionalis ini dikenal sebagai seorang Sukarnois di Palopo masa itu. Sementara para ulama Rabithatul Ulama lainnya yang ke-banyakan menetap di kota Makassar, sebelumnya berjuang di kampung-kampung kota, seperti di Bontoala, memperjuang-kan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Kepengurusan awal dipegang oleh K.H. Ahamd Bone sebagai ketua, sementara K.H. Muhammad Ramli sebagai wakilnya. Sekretaris dijabat oleh K.H Saifuddin, Qadhi Polewali, wakil sekretaris adalah K.H Jamaluddin Assegaf Puang Ramma sebagai Qadhi Gowa saat itu, dan H. Mansyur Daeng Limpo, mengetuai Bidang Pendidikan dan Dakwah.

Ulama lainnya yang bergabung dalam kepengurusan Rabithatul Ulama, di antaranya K.H Sayid Husain Saleh Assegaf (waktu itu menjabat sebagai Konsul NU Sulawesi Selatan), K.H. Paharu, K.H Muhammad Nuh, K.H Abdul Muin, K.H. Muhammad Said, K.H Abdur Razaq, K.H Abdur Rasyid, K.H Abdul Haq, K.H. Muhammad Saleh Assegaf, KH Abdurrahman Daeng Situju, dan K.H. Muhammad Asap.

Kantor Rabithatul Ulama, beralamat di rumah kediaman K.H. Ahmad Bone, bertempat di Jalan Diponegoro, Distrik Matjini Aijo, Makassar. Di jalan itu pula terdapat makam pahlawan nasional Pangeran Diponegoro.

Pengurus Rabithatul Ulama kemudian menfasilitasi ter-bentuknya Partai Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan pada tahun 1952 atas permintaan K.H Wahid Hasyim (waktu itu sebagai Menteri Agama dan Ketua PBNU). Semua pengurus dan anggota Rabithatul Ulama bergabung ke NU. Kecuali K.H. Muhammad Saleh Assegaf dan K.H. Abdul Razaq tetap bertahan masing-masing di Masyumi dan di PSII. Demikian pula, ulama kharismatik K.H. Abddurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI (Darud dakwah wal-Irsyad), yang sempat bertemu dengan K.H. Wahid Hasyim juga bertahan di PSII. Tapi semuanya tetap mendukung perjuangan NU dalam menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah di tanah Bugis-Makassar.

Setelah ulama-ulama yang disebutkan tadi bergabung di NU, maka dengan sendirinya Rabithatul Ulama dinyatakan bubar, dan dibentuklah pengurus baru NU Sulawesi Selatan dengan struktur yang sama dengan Rabithatul Ulama yang disebutkan tadi. Dalam kepengurusan NU tersebut, Puang Ramma sebagai wakil sekertaris dan diberi tugas khusus di Kabupaten Gowa untuk memberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai masalah-masalah keagamaan yang muncul di tengah masyarakat.

Di Kabupaten Gowa, Puang Ramma yang kapasitasnya sebagai qadhi, mendirikan pengajian dan majelis ta’lim bagi kaum nahdliyyin, dan membuka forum bahtsul masail, yang membahas masalah-masalah keagamaan yang lebih aktual. Selain itu, forum ini juga berfungsi sebagai wadah kaderisasi ulama NU dengan menekankan pada pembelajaran pengajian kitab kuning.

Struktur kepengurusan NU, pada awal terbentuknya mencerminkan konfigurasi sosial masyarakat Bugis-Makasar, dengan empat pilarnya, yakni to panrita (ulama), to sugi (pengusaha), to acca (cendekiawan), dan to warani (kaum bangsawan dan anak muda). Keempat pilar ini dihimpun dalam jajaran pengurus dan karena kekuataan massa yang dimilikinya, Partai NU, menjadi kunci kemenangan NU di Sulawesi Selatan pada Pemilu tahun 1955. Mereka memberi kontribusi sekitar 12 persen bagi keseluruhan suara NU di tingkat nasional.

Puang Ramma dan K.H. Muhammad Ramli, kemudian terpilih mewakili NU di dewan Konstituante (1956-1959) di Bandung. Saat menjalankan tugasnya sebagai anggota dewan, K.H. Muhammad Ramli wafat pada 3 Februari 1958 di Bandung, dan dimakamkan di Pemakaman Arab, Bontoala, Makassar. Sepeninggal ulama NU ini, Puang Ramma tetap di dewan dan menjalankan tugas sampai akhir periode, selanjutnya Puang Ramma mewakili NU di DPRD Sulawesi Selatan, dan sejak Muktamar NU ke-27 Situbondo, yang menetapkan bahwa NU kembali ke khittah 1926, Puang Ramma, tidak lagi menjadi anggota dewan, namun tetap ber-konsentrasi pada pengkhidmatan NU, sampai akhirnya Puang Ramma dipercaya menjadi Rais Syuriah NU tahun 1977-1982, selanjutnya menjabat mustasyar PWNU Sulawesi Selatan sampai akhir hayatnya.

[1]Lihat Luwis Ma’lūf, Al-Munjid fiy al-Lugah wa al-A’lām (Bairūt: Dār al-Masyriq, 1977), h. 803.
[2]Misalnya dikatakan fulan bin Hamid bin Himad maksudnya adalah ayahnya fulan bernama Hamid dan kakeknya bernama Himad. Jika dia perempuan, maka fulanah binti Hamid binti Himad.
[3]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 2002), h. 667.
[4]Dikutip dari Ijazah Silsilah Tarekat al-Mu’tabarah al-Khalwatiyah Yusuf al-Makassariy.
[5]Simuh, Tasauf dan Perkembangan dalam Islam (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 22.
[6]Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam ilmu tarekat. Karena ia tidak saja merupakan seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyyah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran islam dan terjerumus dalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah swt. Lihat Ja’far Sabran, Miftahul Ma’rifah (Surabaya: Pelita Dunia, 1992), h. 23.
[7]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II (Cet II; Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1978), h. 89
[8]Sekarang terdapat dua cabang terpisah dari tarekat ini yang hadir bersama. Keduanya dikenal dengan nama tarekat khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyah Samman. Tarekat Khalwatiyah Yusuf disandarkan kepada nama Syaikh Yusuf al-Makasariy dan tarekat Khalwatiyah Samman diambil dari nama seorang sufi Madinah abad ke-18, Muhamad al-Samman.
[9]Lihat Abu Hamid, Syekh Yusuf; Seorang Ulama Sufi dan Pejuang (Cet. I; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,1994), h. 60.
[10]Ahmad Zahro, Lajnah Bahsul Masail 1926-1999; Tradisi Intelektual NU (Yogyakarta: LkiS, 2004), h. 52. Lihat juga S.J. Rutgers, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia (Cet. II, Surabaya:Hayan Wuruk, 1955), h. 17.
[11]Martin Van Bruinessen, Traditional Muslim in A Modernizing World The Nadhlatul Ulama, diterjemahkan oleh Farid Wajedi dengan judul NU; Tradisi Relasi-relasi Kuasa Pen-carian Wacana Baru (Cet. I; Yogya: LKIS, 1994), h. 7-8
[12]Pada tahun 1935, dalam Muktamar NU di Banjarmasin diputuskan bahwa sungguhpun saat itu di bawah naungan pemerintah Belanda, NU menganggap sebagai Dār al-salām, bukan Dār al-Harb. Sekali-sekali, perjuangan dan komitmen NU tidak pernah menampakkan formalisme Islam, akan tetapi tidak lepas dari nilai-nilai keislaman. Lebih lanjut, lihat K.H. Said Aqiel Siradj, “Nahdlatul Ulama di Era Reformasi” dalam Jauhar Hatta Hasan (ed), Islam Kebangsaan; Fiqih Demokratik Kaum Santri (Cet. I; Jakarta: Pustaka Cinganjur, 1999), h. 146 (http://bajibicara7.blogspot.com)

Catatan Sejarah Mengenai Sayyid Jamaluddin Assegaf

Sejarah mencatat nama KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari lembaran sejarah perjalanan dakwah Islam di Sulsel. Sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga di era reformasi, sosoknya sebagai ulama yang agung dan ulama yang dituakan tetap melekat pada dirinya.

Artinya, sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini, mulai dari zaman perjuangan kemerdekaan, Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Reformasi, nama KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, senantiasa menyertai aktivitas keagamaan masyarakat (Islam) di deaerah ini. Betapa tidak, jauh sebelum bertumbuh kembangnya organisasi besar keagamaan Islam di Indonesai seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Perserikatan Muhammadiyah, di Sulsel, kiyai yang lahir di "Butta Turikale" Kabupaten Maros 1920, yang akrab disapa Puang Ramma ini, telah aktif melakukan dakwah di berbagai tempat di Sulsel.

Dari catatan yang kami peroleh, KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, termasuk salah seorang pendiri NU Sulsel. Dia juga termasuk tokoh politik, pendidik dan budaya Sulsel.

Besar kecilnya peran Puang Ramma yang telah dimainkan semasa hidupnya selaku penda'wah. Sejumlah warga mengakui bahwa sosok Puang Ramma, yang wafat tahun 2006 lalu, banyak memberikan pemahaman tentang Islam, meski pada zamannya dahulu, banyak berbenturan dengan berbagai tantangan, termasuk kondisi umat Islam pada waktu itu yang belum memahami nilai-nilai keesaan Allah SWT dan tradisi yang masih kental.

Ketika karier sebagai pendakwah belum menjadi profesi yang banyak dilirik orang, Puang Ramma tampil memposisikan diri sebagai pendakwah yang siap berhadapan dengan problematika saat itu.

Dengan semangat keikhlasan yang dimiliki dan semangat untuk lebih memahamkan Islam kepada umatnya, Puang Ramma, tidak mengenal kata lelah dalam melaksanakan aktivitas dakwahnya, bukan hanya melayani umat di dalam wilayah Kota Makassar, tetapi sampai ke pelosok daerah di Sulsel. Makanya tidak mengherankan jika hingga saat ini banyak ditemukan foto almarhum di rumah-rumah penduduk, di pelosok pegunungan di Sulsel.

Singkatnya, dalam menjalankan dakwah Islam, Puang Ramma, mampu menerobos daerah "hitam" dan "lontang" (tempat masyarakat minum-minuman keras, khususnya ballo/arak).

Dan hasilnya dapat dirasakan hingga saat ini, bahwa kehadiran sosok Puang Ramma ke pentas dakwah, telah menghantarkan pemahaman masyarakat terhadap dunia Islam, yang alhamdulillah kita rasakan hingga ke area peradaban yang serba modern saat ini.

Tidak salah jika Puang Ramma, adalah benang merah perjalanan dakwah di Indonesai. Tentunya situasi¬nya saat ini telah berbeda dengan warna generasi yang baru pula. Dan dari pondasi dasar dakwah yang telah dicanangkannya itu pemahaman Islam generasi saat diharapkan pada tingkat yang lebih mapan lagi .

Lantas apa kiat dakwah yang diterapkan Puang Ramma, dalam menjalankan misi keagamaan yang diembannya kala itu.

Putra Puang Ramma, Syekh Sayyid Abdur Rahim Assegaf Puang Makka, yang ditemui di kediamannya di Jalan Baji Bicara No 7 Makassar, memaparkan teknik dakwah yang diterapkan ayahandanya tersebut.

Syekh Sayyid A Rahim Assegaf, yang akrab disapa Puang Makka, menguraikan bahwa petunjuk yang dipakai almarhum Puang Ramma dalam melaksanakan dakwah, berdasarkan tuntunan Allah SWT, sebagaimana yang disampaikan di dalam kitab suci Al-Qur'an Surah Annahl (surat ke 16) ayat 125.

Dalam ayat ini lanjut Puang Makka, bahwa Allah SWT mengajari hambanya tata cara berdakwah yakni dengan jalan hikmah dan khasanah, sebagaimana arti ayat tersebut yang berbunyi "Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan 'hikmah', dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara Ahsan. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya. Dan dialah (Allah) yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk".

"Dari kedua konsep ajaran Tuhan itulah Puang Ramma, mampu menerobos daerah hitam dan lontang, dalam menyebarluaskan dakwah Islam, di tengah masyarakat yang masih terkebelakang pendidikan dan wawasan keagamaan" tutur Puang Makka.

Satu catatan yang patut menjadi perhatian dari aktivitas dakwah yang dilaksanakan Puang Ramma, berada pada suatu realitas yang sangat memprihatinkan, selain karena latar belakang sasaran dakwah yang masih terbelakang, juga diperhadapkan pada situasi medan yang masih sulit dijangkau. Hanya denga niat yang kuat kesemua tantangan dakwah dapat dilewati.

Namun demikian lanjut Puang Makka, berdasarkan al-Qur'an Surat Annahl ayat 125, Puang Ramma mampu melakukan pendekatan secara persuasif tanpa menghilangkan nilai-nilai ajaran Islam yang substansif.

Dengan pendekatan "Bil Hikmah" dan "Khasanah", umat yang dihadapi melalui dakwah Puang Ramma, tidak merasa terbebani dan tidak merasa berat menjalankan syariat Islam, khususnya shalat, lima kali sehari semalam.

"Konsep ini membuat Puang Ramma, lebih lembut, ramah dan lebih santun menghadapi umat pada zamannya dan turut memberikan contoh tingkah laku dari ajara agama yang diajarkan. Ini yang terkadang terabaikan oleh pendakwah, di era kekinian,"kata Puang Makka.

Dan menambahkan dengan konsep khasanah, perbedaan pendapat Puang Ramma dengan pihak lain dalam menjalankan dakwah dihadapinya dengan sopan santun. Perbedaan pendapat pada waktu itu, tidak disikapi dengan kekerasan dikarenakan adanya tuntunan dari Allah SWT, bahwa di dalam melakukan perdebatan haruslah dengan cara Ahsan (cara yang baik).

Keluwesan Puang Ramma menjalankan dakwah, dikarenakan basic ajaran yang dipahaminya begitu dalam. Artinya, sebelum melaksanakan aktivitas dakwah, Puang Ramma, begitu dalam totalitasnya dalam mempelajar ajaran Islam.

Hal tersebut sesuai perintah Al Qur'an agar umat Islam memasuki Islam secara keseluruhan. Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam yang diperolehnya saat nyantri di Pulau Salemo, menghantarkannya mampu menukik ke dasar ajaran Islam, sehingga dakwah yang dilakukannya memberikan solusi terhadap problematika umat.

"Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam inilah yang membuat dakwah Puang tidak kering, dan mampu berakselerasi dengan per¬kembangan zaman, mulai dari era perjuangan kemerdekaan, hingga memasuki awal-awal reformasi," kata Puang Makka.

Kedalaman pemahaman terhadap ajaran Islam, membuatnya mampu melakukan pendekatan terhadap tiga pilar agama yang mulia ini, yakni Islam, Iman dan Ikhsan. Pemahaman Islam dihadapi dengan ilmu fiqhi, Iman dihadapi dengan ilmu qalam dan Ikhsan dilakukan dengan pendekatan ilmu ahlak atau tasawuf.

Bagi puang dalam melaksanakan dakwah senantiasa mendahulukan ahlak yang mulia, sehingga dakwahnya dengan mudahnya diterima masyarakat. Begitu pentingnya ahlak yang mulia ini, Syekh Yusuf yang di¬kenal dengan Hianta Salamaka, menegaskan barang siapa yang tidak berahlak berarti tidak ada tasawuf baginya. "Inilah salah satu konsep dakwah yang dimiliki Puang Ramma.(*)



Disadur Oleh: Tim Sarkub, dari Buletin AL-AHSAN Jam'iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari
Halaman 1 & 13, Edisi 1, Tahun I – Juni 2013 (http://www.sarkub.com/syaikh-djamaluddin-assegaf-puang-ramma/)



https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

DMCA.com
Anda sedang membaca Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya, apabila tidak mau menyebut sumber dari BLOG. Mohon jangan COPAS. Jika menurut anda artikel ini bermanfaat mohon bantu share. Untuk menyambung tali silaturahmi silahkan Liked FB Fanpage Mistikus Cinta - Follow Twitter @Mistikus_Sufi - Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta. Terima kasih.

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top