Mistikus Cinta

0
Mukadimah 

Sebelum riwayat tentang ulama hilang, seiring hilangnya Shohibul Hikayat. Ulama’ adalah pewaris para nabi. Ia memainkan peran yang tidak sedikit dalam masyarakat. (figur sentral dalam masyarakat Islam) Ulama’ tak ubahnya pengayom masyarakat yang perannya selalu di rindukan. Dalam loyalitas masyarakat mana pun keberadaan ulama’ menjadi unsur yang paling menentukan bagi nafas hidup wilayah itu atau di Daerahnya. Ulama Kudus, eksistensinya sebagai kota santri tetap untuk NO FEAR TO SURVIVE karena keberadaan para ulama’ yang selalu mengayomi. Maka tak heran jika salah satu di Kota Kudus menjadi simpul keilmuan para santri baik dari dalam, maupun dari luar daerah. Tak ubahnya Kudus menjadi surga bagi santri mengapa? Karena Kudus adalah gudang ulama’ khas. Banyak ulama’ di Kudus yang menjadi simpul peraduan masyarakat salah satu diantaranya adalah KH. Ahmad Basyir yang tinggal bersama Mbah Kasno dan Emaknya Mbah Dasirih di Dusun saya tinggal sekarang ini, Yaitu Dusun Karang Desa Jekulo dan Kecamatan Jekulo Kudus Jawa Tengah Indonesia 59382. 

Masa Kecil

30 November 1924 M silam adalah hari yang paling indah bagi Pasutri Kyai Muhammad Mubin (Mbah Kasno) dan Nyai Dasirih. Banyak pemuda pemudi pada jaman itu mengaji di Musola Mbah Kasno atau Kyai Muhammad Mubin. Hari itu, lahir seorang bayi mungil yang tidak di Sangka menjadi menjadi ulama besar, ulama’yang berpengaruh di tengah masyarakat, menjadi rujukan banyak orang dari berbagai penjuru tanah air. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu di titihkan nama Ahmad Basyir, orang yang menyuguhkan nafas kebahagian bagi umat. Kelahiran beliau adalah “Anugerah” terindah, bukan hanya bagi kedua orang tuanya, namun juga banyak kaum muslimin diseluruh tanah air, Walau tentu masih banyak Masyarakat yang belum Mengenal Beliau, Akan Tetapi Pada Dunia Ulama MUI dan PBNU Nama KH. Ahmad Basyir Kudus tidak asing lagi.

Memburu Ilmu

Saat usia kanak-kanak, KH. Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal di Veer Folex Schooll (sekarang Sekolah Dasar) dan menamatkan jenjang kelas V. Pada saat itu belum ada jenjang kelas VI. Sekolah tempat KH. Ahmad Basyir mengenyam pendidikan formal itu bersahabat dengan H. Maskat Abdul Qodir semasa sekolah Rakyat sekarang menjadi SD Negeri 1 Jekulo. Selama mengenyam pendidikan di sana, beliau kerab kali menjadi juara kelas. Karena prestasinya yang begitu gemilang, beliau pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk jadi guru di sekolah SDN 1 Jekulo Kudus.

Usai menamatkan pendidikan di Veer Folex Schooll Bahasa Sederhananya "Sekolah Rakyat, beliau melanjutkan pendidikan non formal di madrasah Diniyyah yang sekarang bernama Tarbiyatus Sibyan. Di madrasah ini beliau dididik oleh para Kyai sepuh, diantaranya adalah KH. Dahlan. Di luar aktivitas belajar di madrasah Diniyyah, beliau mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, (KH. Hudlori Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang "Yang Dahulu selama 4 Tahun saya mengaji dan tirakat") dan KH. Zainuddin. Dalam bidang Al-Qur’an, masa muda beliau berguru kepada Mbah Kasno (Ayahnya sendiri) dan Kyai Mukhib, dan pentashihan Al-Qur’an kepada Pak Dhe KH. Mansyur Jekulo.

Selain rasa haus beliau terhadap ilmu, ketika masih remaja, beliau juga mulai gemar berziarah ke makam-makam para wali, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, dan makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’i dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo Kudus), yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga semasa hidupnya. Itu adalah perwujudan rasa ta’dzim beliau kepada para Masyaikh dan Auliya’. Termasuk tradisi beliau saat masa mudanya adalah silaturrahim kepada para Ulama’, seperti KH. Hamid Pasuruan. Beliau juga sering mengikuti khataman Al Qur’an bersama Mbah Arwani Kudus, baik di Kudus maupun di luar daerah. 

Semasa Remaja 

Sebelum betul-betul menetap dalam menimba ilmu di PP. Bareng 1923 (sekarang PP. Al Qaumaniyah), pada tahun 1940 M beliau juga sempat nyantri dan mengkhatamkan Alfiyah di PP. Kenepan Langgar Dalem Kudus, waktu itu beliau berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, mengkhatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para Masyaikh di sekitar Kudus, diantaranya adalah KH. Irsyad dan KH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus. Saat beliau masih usia remaja, Mbah Basyir sering mengikuti Romonya mengajar di Musola, oleh ibunya Nyai Dasirih Kyai Basyir kecil juga sering diajak sowan kepada Mbah Yasin saat itulah beliau diwejangi oleh Mbah Yasin agar beliau mengurungkan niatnya menjadi guru sekolah. Beliau diajak oleh mbah Yasin agar nyantri pada mbah beliau, si mbah Yasin itulah yang mengukir jiwa mbah Basyir. Mulai saat itu mbah Basyir mengabdi pada mbah Yasin mulai dari abdi dalem hingga jadi qori’, menjadi badal (wakil) mbah Yasin mengajar para santri. Sejak saat itu, terkenal tiga serangkai ulama’ yang termasyhur, yaitu Kyai Muhammad, Putra mbah Yasin, Kyai Hanafi menantunya, dan mbah Basyir sebagai lurah pondoknya. Pada waktu nyantri pada mbah Yasin beliau juga menimba ilmu pada Saudaranya KH. Yasin yaitu KH. Muhammadun Pondohan Tayu Pati. 

Aktivis

Semasa mudanya sekitar tahun 1944-1945 M. beliau bergabung dalam BPRI (Badan Perjuangan Republik Indonesia) sebuah organisasi pemuda yang gigih memperjuangkan kemerdekaan RI saat itu BPRI dipimpin oleh Bapak Karmain dan Bapak Mulyadi Jekulo. Sebelum masuk BPRI beliau masuk organisasi GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) Masa perjuangan kemerdekaan saat itu, beliau faham betul, karena beliau adalah pelaku sejarah. Saat itu, Kiayi Basyir menjabat ketua pondok. Setiap ada pejuang yang ditahan, beliau bergegas mengupayakan sesuatu untuk membebaskannya.

Dalam pengembaraannya untuk tolabul ilmi pada tahun 1949 M. beliau kembali ke daerah Jekulo dan kembali nyantri di ponpes Bareng Jekulo asuhan Kiayi H Yasin. Sembari menimba ilmu, beliau mengabdi kepada KH. Yasin. Semua urusan mbah Yasin beliau yang mengurusi. Bahkan, menyimpan uang sekalipun dipercayakan kepada mbah Basyir. Suatu ketika mbah Yasin waktu itu menderita penyakit bawasir. Dalam kondisi ini, mbah Basyir selalu ada untuk merawat beliau.

Kiayi Basyir dapat banyak mendapatkan pelajaran berharga dari pengabdiannya pada simbah Yasin. Beliau tidak hanya mengaji riwayah, tetapi juga mengaji dirayah.

Sembari mengaji dan mengabdi, beliau melakukan riyadhah puasa tahunan, ijazah dari Mbah Yasin. Adab beliau pada sang guru begitu luar biasa. Konon, setiap merampungkan riyadah puasa beliau tidak berani meminta hizib ini atau itu. Beliau matur kepada simbah Yasin, ”kulo sampun ba’do siyam”, tidak “nyuwun niki niku”

“Ini rasa ta’dhim kepada guru” inilah cara orang dahulu dalam ta’dhim kepada guru, bagaimana mereka merasakan ilmunya,

KH. Basyir menghabiskan masa mudanya sebagai santri, abdi kiayi, hari beliau dipenuhi dengan rutinitas belajar, pekerjaan keseharian dan puasa. Rutin dengan riyadhah selama puluhan tahun, pada tahun 1958 M oleh KH. Yasin beliau diserahi ijazah Dalail Khoirot beserta hizib-hizibnya.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1969 M. bersama dengan kiayi lain, beliau mendirikan madrasah diniyah MA NU Nurul Ulum Jekulo Kudus, Tk Nurul Ulum Jekulo. Nama Nurul Ulum merupakan pemberian KH. Cholil. Madrasah tersebut dipimpin Kyai Khalimi dengan guru-gurunya adalah K. Cholil, KH. Khalimi, KH. Ahmad Basyir, dan K. Makhin. Tahun 1970 M. Beliau mendirikan pesantren Darul Falah yang bertempat disebelah utara masjid Kauman Jekulo, Yang bangunannya Pondok dan Sekolah di bangun teruskan Oleh H. Masykuri Spd. Cikal pesantren ini merupakan wakaf dari H. Basyir. H. Basyir memberi wakaf bangunan kuno kepada KH. Ahmad Basyir. Kemudian bangunan itu dijadikan pondok pesantren yang diberi nama DARUL FALAH, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1970 Masehi. 

Berkeluarga

KH. Ahmad Basyir menikah dengan Hj. Sholikhah binti KH. Abdul Ghoni yang lahir di desa Hadiwarno Mejobo Kudus pada tanggal 31 Desember 1946 M. pernikahannya dengan Nyai Hj. Sholihah ini dikaruniai Sembilan Anak.

Di mata keluarga, Kyai Basyir adalah sosok ayah yang penyayang. Beliau selalu memberi teladan kepada keluarganya. Keuletan dan kesabaran beliau menjadi inspirasi bagi putra putrinya. Sosok K. Basyir di tengah keluarga tidak sekedar kepala rumah tangga, tetapi juga sosok idola yang menjadi inspirasi teladan putra-putrinya.

K. Basyir adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, penuh dedikasi dan berfikir progresif. Perjuangan beliau untuk keluarga tak pernah letih, apalagi putus asa. Tidak sedikit perjuangan beliau untuk anak-anaknya. Pada saat itu di desa bareng kini desa Jekulo, tidak ada tradisi sekolah. Sekolah formal di mata masyarakat Bareng adalah tabu. Kendati demikian KH. Basyir menyerukan anaknya untuk sekolah. Setiap pagi beliau mengayuh sepeda hingga Kudus kulon untuk mengantarkan putrinya sekolah. Saat itu beliau menyekolahkan putrinya di Madrasah Mualimat. Di mata masyarakat. KH. Ahmad Basyir, sosok yang moderat dan menjadi pembaharu.

Menghadapi masyarakat beliau tampil khas dan kharismatik. Kedatangan tamu yang beragam jenis dari berbagai penjuru, dengan karakter masing-masing, dengan membawa masalah yang kompleks, beliau menghadapinya dengan santun dan hormat tanpa membedakan.

Beliau orang yang tidak pemarah, di kerutan wajahnya yang bersinar itu, beliau selalu tersenyum segar. Senyum itu menjadi siraman rohani bagi orang yang beliau temui. Di mata santri dan masyarakat beliau adalah dermawan. 

Teladan

Almarhum KH. Ahmad Basyir adalah teladan yang patut kita contoh. Beliau adalah seorang ulama’ yang mentradisikan riyadhoh (laku prihatin) sejak mudanya hingga sekarang. Tradisi itu masih beliau pegangi hingga usia ke 88 sampai akhir usia beliau. Keseharian beliau dihabiskan untuk beribadah, berjamaah, mengajar kitab kuning, ziarah, menyuguh tamu serta selebihnya untuk keluarga dan masyarakat. Saat malam hari sehabis mendidik santri beliau istirahat sesaat. Disaat orang tertidur lelap beliau dipastikan bangun ba’da nisfu lail beliau melakukan rutinitas beliau seperti wirid, sholat malam dan ibadah lainnya hingga waktu subuh tiba. Saya tidak pernah melihat mbah Basyir tidur setelah jam dua belas malam. Ujar KH. M. Jazuli. 

Dalail

Sehabis menjadi imam jamaah sholat subuh di Masjid Baitussalam, rutinitas beliau adalah berziarah ke makam masyaikh dan auliya' sebagai guru beliau, yang sampai semasa hidupnya tidak pernah beliau tinggalkan. Itu adalah bentuk ta’dhim beliau tehadap para ulama’ yang telah mewariskan ilmu kepada beliau. Pada masa muda beliau terbiasa dengan puasa Dalail Khairat dan riyadhah lainnya, sampai akhirnya beliau diutus menjadi mujiz Dalail Khairat (Dalail Kubro dan Dalail Sugro).

Enome tirakat, tuwo nemu derajat, riyalat kuwi jiret weteng nyengkal moto demikian beliau memberi penyegaran rohani kepada para santri yang hendak mengamalkan tradisi riyadhah. Baik puasa dalail maupun riyadhah lainnya. Rasa ta’dhim yang beliau agungkan saat ini juga merupakan suri teladan yang niscaya kita teladani. Yang beliau tradisikan hingga saat ini adalah berziarah ke makam para Auliya di lingkungan Jekulo, yang merupakan guru guru beliau. Di sinilah simpul hubungan guru dan murid yang tak pernah putus, terus berkesinambungan.

Banyak hal kita dapat teladani dari beliau, mulai dari kegigihannya menuntut ilmu, kreatifitas hidup, perjuangan hingga pada sebuah Akhlaqul Karimah yang menjadi tempat kita berkiblat. Cerita KH AHMAD BASIR ada manfaat menambah keimanan kita, baik bagi saya maupun juga pembaca di mana pun kini Anda yang on line, nama-nama Kiyai Sepuh dalam cerita nyata ini, semuanya sudah berpulang Ke Rahmatulloh. Semoga doa dari pembaca menerangi alam kubur para Kiyai yang sudah wafat, dan menambah keimanan pada kita semua Aamiin.


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca KH. Ahmad Basyir. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: KH. Ahmad Basyir, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting KH. Ahmad Basyir dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top