Mistikus Cinta

0
Kiprah Keulamaan dan Pemikiran Tuan Guru H. Muhammad Sjarwani Abdan al-Banjari 
(Guru Bangil)
Oleh : Masdari, M. Rif’at, dan Zulfa Jamalie


KH. Syarwani Abdan Bangil
PENDAHULUAN
Guru Bangil adalah seorang ulama yang alim dan tawadhu’. Keluasan dan ketinggian ilmu beliau diakui, sehingga banyak orang yang belajar dan menuntut ilmu dengan beliau, termasuk pula para kyai. Semasa hidup, beliau menjadi referensi bagi para guru agama dan masyarakat dalam memecahkan berbagai permasalahan keagamaan. Keilmuan dan kiprah keagamaan beliau telah memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan mental spiritual umat, tidak hanya di kota kelahiran beliau Martapura, akan tetapi juga di Kota Bangil tempat Beliau menetap dan meninggal dunia. Secara geneologis, Guru Bangil merupakan generasi ke-8 dari ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan salah seorang guru dari ‘Alimul Fadhil Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul).

Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah (Simpanan Berharga, Masalah Talqin, tahlil dan Tawassul) adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling populer, dicetak, dipublikasikan, dan banyak dijadikan rujukan oleh masyarakat Banjar, terutama di Martapura dan Bangil.

LATAR BELAKANG
Dari kota Martapura, salah seorang ulama yang terkenal namanya bagi masyarakat Banjar (Martapura) dan masyarakat Bangil (Pasuruan) khususnya, adalah Tuan Guru H. Muhammad Sjarwani Abdan. Karenanya, bagi masyarakat Banjar dan masyarakat Bangil, nama Guru Bangil, pendiri Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Kota Bangil Kabupaten Pasuruan Jawa Timur tidaklah asing lagi. Keilmuan dan kiprah keagamaan beliau telah memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan mental spiritual umat, tidak hanya di daerah kelahiran beliau Kota Martapura dan sekitarnya, akan tetapi juga di Kota Bangil (Pasuruan).

Kiprah Guru Bangil untuk membangun spiritual dan kecerdasan beragama masyarakat merupakan sumbangsih besar yang menarik untuk dikaji. Karena, aktivitas keulamaan dan pemikiran keagamaan Guru Bangil telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Islam dan menjadi aset penting bagi masyarakat Banjar dan Bangil khususnya.

PROFIL DAN SEJARAH HIDUP GURU BANGIL

A. Kelahiran
Guru Bangil yang bernama lengkap H. Muhammad Sjarwani Abdan bin H. Muhammad Abdan bin H. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Shalih Siam bin H. Ahmad bin H. Muhammad Thahir bin H. Syamsuddin bin Sa’idah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dilahirkan di Kampung Melayu Ilir Martapura. Tidak diketahui secara pasti kapan tanggal kelahiran beliau, dari beberapa catatan yang ada hanya dituliskan tahun kelahiran beliau, yakni pada tahun 1915 M/1334 H.

Menurut silsilahnya, Guru Bangil merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dari istri Al-Banjari yang kedua, yang bernama Tuan Bidur. Moyang Guru Bangil yang bernama Sa’idah adalah anak dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Tuan Bidur. Sa’idah memiliki saudara tiga orang, yakni ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Su’ud,[1] ‘Alimul ‘Allamah Qadhi H. Abu Na’im, dan ‘Alimul ‘Allamah Khalifah H. Syahabuddin.

Guru Bangil terlahir dari keluarga yang agamis dan dikenal luas oleh masyarakat Martapura sebagai ‘keluarga alim’. Ayahnya bernama H. Muhammad Abdan bin H. Muhammad Yusuf, sedangkan ibunya bernama Hj. Mulik. Guru Bangil mempunyai 7 orang saudara kandung, nama-nama saudara Guru Bangil tersebut adalah: H. Ali, Hj. Intan, Hj. Muntiara, Abd. Razak, Husaini, Acil, dan H. Ahmad Ayub.

Selain mempunyai saudara sekandung yang berjumlah 7 orang, Guru Bangil juga mempunyai saudara seayah, di antaranya adalah Abd. Manan dan H.M. Hasan.

B. Pendidikan
Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama yang dirasakan oleh Guru Bangil. Berdasarkan catatan H. Abu Daudi dalam bukunya, “Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Tuan Haji Besar”, sejak kecil Guru Bangil sudah dikenal sebagai seorang yang memiliki himmah kuat untuk belajar dan menuntut ilmu, terutama ilmu agama.[2] Beliau dikenal sebagai anak yang rajin dan tekun dalam belajar, sehingga disayangi dan disenangi oleh guru-guru beliau. Terlebih-lebih beliau berasal dari dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis dan “Serambi Mekkah”, Martapura.[3] Karena itu, di samping dididik dalam lingkungan dan oleh keluarga, Guru Bangil juga mendapat didikan dan mulai menyauk ilmu agama di Pesantren Darussalam Martapura[4] dan dari sejumlah ulama besar yang hidup pada waktu itu, antara lain kepada ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Kasyful Anwar bin H. Ismail, ‘Alimul Fadhil Qadhi H.M. Thaha, dan ‘Alimul Fadhil H. Isma’il Khatib Dalam Pagar, Martapura.

Beliau juga pernah belajar ilmu agama dengan Guru Mukhtar Khatib, di mana menurut cerita yang berkembang, beliau belajar sambil mengayuh jukung (perahu).[5]

Setelah cukup banyak belajar ilmu agama di Martapura, Guru Bangil pada usia yang masih muda meninggalkan daerah asalnya Martapura menuju pulau Jawa dan bermukim di kota Bangil, dengan satu tujuan memperdalam ilmu agama Islam. Selama beberapa tahun di kota Bangil, beliau sempat belajar dan berguru pada ulama-ulama terkenal di kota Bangil dan Pasuruan antara lain K.H. Muhdor, K.H. Abu Hasan, K.H. Bajuri dan K.H. Ahmad Jufri.

Pada sekitar usia 16 tahun Guru Bangil kemudian melanjutkan belajar ilmu agama ke Tanah Suci Mekkah. Beliau berangkat bersama-sama dengan saudara sepupu beliau ‘Alimul ‘Allamah H. Anang Sya’rani Arif[6] di bawah pengawasan paman beliau ‘Alimul ‘Allamah H. Kasyful Anwar bin H. Ismail, yang pada saat itu juga sedang bermukim di Mekkah. Selama di Mekkah, Guru Bangil menuntut berbagai cabang ilmu agama dengan beberapa orang guru, di antaranya adalah kepada ‘Alimul ‘Allamah Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syekh Umar Hamdan, dan ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah al-Banjari.[7] Di samping itu, Guru Bangil juga belajar dan mengkaji ilmu kepada Syekh Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Muhammad Arabi, Syekh Hasan Massyath, Syekh Abdullah Bukhori, Syekh Saifullah Andagistani, Syekh Syafi’i Kedah, Syekh Sulaiman Ambon, dan Syekh Ahyat Bogori.[8] Abu Nazla menambahkan bahwa selama di Mekkah, Guru Bangil dan Guru Anang Sya’rani Arif juga belajar kepada Syekh Bakri Syatha dan Syekh Muhammad Ali bin Husien al-Maliki.[9]

Selama mukim di Mekkah berbagai cabang ilmu agama telah dikaji dan dipelajari oleh Guru Bangil. Banyak pula silsilah sanad, ilmu dan amal yang beliau terima. Salah satu cabang ilmu yang menonjol yang dikuasai oleh Guru Bangil adalah ilmu tasawuf. Di bidang ilmu tasawuf ini, Guru Bangil telah menerima ijazah tarekat Naqsabandiyah dari ‘Alimul ‘Allamah Syekh Umar Hamdan dan ijazah tarekat Sammaniyah dari ‘Alimul ‘Allamah H. Muhammad Ali bin Abdullah al-Banjari.[10] Ijazah tarekat Idrisiyah diterima dari ‘Alimul ‘Allamah Syafi”i bin Shalih al-Qadiri.[11]

Guru Bangil dikenal sebagai murid utama dan khalifah dari guru besar bidang tasawuf, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi untuk Tanah Jawa (Indonesia). Dari Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi inilah Guru Bangil banyak belajar dan mengkaji ilmu, khususnya tasawuf.[12] Tidak mengherankan jika kemudian Guru Bangil menjadi seorang ulama yang wara, tawadhu’, dan khumul, hapal Al Quran serta menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat.[13]

Guru Bangil juga merupakan salah seorang guru tasawuf dari ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul.[14] Guru Bangil Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif dikenal oleh gurunya sebagai murid yang tekun dan menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu agama. Guru-guru mereka sangat sayang karena melihat bakat dan kecerdasan mereka berdua”. Demikian yang tergambar dalam Manaqib Guru Bangil berkenaan dengan semangat dan ketekunan dua saudara sepupu tersebut dalam dan selama menuntut ilmu.[15] Bahkan, keadaan dan ketekunan mereka berdua selama menuntut ilmu di Mekkah juga diibaratkan, “Siang bercermin kitab dan malam bertongkat pensil”.[16] Sehingga wajar jika kemudian dalam beberapa tahun saja mereka berdua mulai dikenal di Kota Mekkah dan mendapat julukan “Dua Mutiara dari Banjar”. Bahkan mereka berdua mendapat kepercayaan untuk mengajar selama beberapa tahun di Masjidil Haram (Mekkah) atas bimbingan Syekh Sayid Muhammad Amin kutbi.[17]

Guru Bangil di mata guru-gurunya memang dikenal sebagai seorang murid yang cerdas, namun beliau sendiri tidak mau menampakkan kecerdasan tersebut, beliau selalu sederhana dan bahkan merendahkan hati, sehingga banyak orang yang tidak tahu tentang beliau. Cerita tentang kedatangan beliau di Bangil dan tidak mau membuka pengajian karena penghormatan terhadap ulama yang ada di sana merupakan bukti kuat bahwa beliau adalah seorang yang tidak suka menyombongkan diri, sebaliknya bersikap hormat dan selalu rendah hati. Bahkan untuk menutupi ketinggian ilmunya setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di Mekkah, selama tinggal di Bangil beliau menutupi diri dengan menjadi pedagang. Beliau juga tidak merasa kecil hati untuk belajar dan menuntut ilmu kepada para ulama yang ada di Kota Bangil dan Pasuruan.

Menurut cerita salah seorang dari muridnya, dalam salah satu tausiyahnya (agar tidak sombong) Guru Bangil juga pernah berkata dan menyatakan bahwa beliau bukanlah orang cerdas sebagaimana yang disangkakan orang, beliau hanya rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga etika belajar, hormat dengan guru dan tawakkal kepada Allah.[18]

Guru Bangil adalah seorang yang pandai menyembunyikan diri (tidak suka pamer, sombong, atau takabbur), walaupun memiliki ilmu agama yang luas.[19] Selama menuntut ilmu di Mekkah mendapat julukan “mutiara dari Banjar”, pernah mengajar di Masjidil Haram, namun beliau tetap rendah hati dan sederhana, sehingga di awal-awal berdiamnya beliau di Kota Bangil, banyak orang yang tidak mengetahui siapa beliau sebenarnya, kecuali sesudah diberitahu oleh Kyai Hamid yang merupakan Kyai Sepuh di Kota Pasuruan.

C. Keluarga
Setelah lebih kurang 10 tahun mukim dan menimba berbagai ilmu agama di Mekkah, Guru Bangil kemudian kembali ke Martapura (Kampung Melayu Ilir) pada tahun 1941 serta mengabdikan ilmu yang telah didapat untuk masyarakat luas. Namun setelah kurang lebih berdiam selama 5 tahun di Martapura, Guru Bangil kemudian pindah ke Kota Bangil pada tahun 1946 menyusul keluarganya yang telah terlebih dahulu berdiam di sana.

Di Kota Bangil inilah, Guru Bangil dikawinkan dengan Hj. Bintang binti H. Abd. Aziz ketika berusia lebih dari 30 tahun. Hj. Bintang masih terhitung dan memiliki hubungan keluarga dengan beliau, karena Hj. Bintang adalah anak paman beliau, yang berarti saudara sepupu. Dari perkawinannya dengan Hj. Bintang binti H. Abd. Aziz ini, Guru Bangil mendapatkan beberapa orang anak, di antaranya: K.H. Kasyful Anwar, Zarkoni, Abd. Basit, Malihah, dan Khalwani.

Setelah isteri beliau yang pertama (Hj. Bintang) meninggal dunia, beliau kemudian kawin lagi dengan Hj. Gusti Maimunah dan dari perkawinannya dengan Hj. Gusti Maimunah ini beliau mendapatlan beberapa orang anak lagi, di antaranya adalah Hj. Imil, Noval, Didi, Yuyun, dan Mahdi

Isteri beliau yang ketiga adalah Hj. Fauziah. Dari perkawinan dengan Hj. Fauziah ini, beliau mendapatkan beberapa orang anak pula, di antaranya adalah M. Rusydi, Abd. Haris, dan Busra.[20] Menurut keterangan Ustadz H. Mulkani jumlah anak beliau keseluruhan adalah 28 orang.[21]

H. Kasyful Anwar, anak Guru Bangil yang tertua adalah generasi penerus dalam melaksanakan aktivitas pendidikan dan dakwah serta pengelolaan Pondok Pesantren Datu Kalampayan di Kota Bangil hingga sekarang ini. Di samping itu beliau juga tercatat sebagai seorang dosen tetap pada Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

D. Wafat
“Sesungguhnya dicabut ilmu itu oleh Allah Swt dengan kewafatan ulama”. Setelah sekian banyak mencetak kader ulama dan berkhidmat dalam dakwah, meningkatkan ilmu dan amal bagi murid-murid dan masyarakat luas, akhirnya pada malam Selasa jam 20.00 tanggal 11 September 1989 M bertepatan dengan 12 Shafar 1410 H, Guru Bangil wafat dalam usia lebih kurang 74 tahun. Beliau kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga dari para habaib bermarga (vam) al-Haddad, berdekatan dengan makam Habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad, di Dawur, Kota Bangil yang berjarak tidak jauh dari rumah dan pondok pesantren yang beliau bangun. Makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat Muslim dari berbagai penjuru daerah, tak terkecuali dari Kalimantan Selatan.

Guru Bangil banyak meninggalkan contoh yang patut untuk diteladani, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar dan Bangil terasa sangat luar biasa. Untuk memperingati dan mengingat jasa-jasa beliau, serta untuk mengikuti jejak dan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam, saban tahun, yakni setiap tanggal 12 Shafar diadakan haul[22] Guru Bangil, yang selalu dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai, terutama jamaah dari Kalimantan serta murid-murid beliau.

KIPRAH DAN PEMIKIRAN
Setelah lebih kurang 10 tahun mukim dan menimba berbagai ilmu agama di Mekkah, Guru Bangil kemudian kembali ke Martapura (Kampung Melayu Ilir) pada tahun 1941 serta mengabdikan ilmu yang telah didapat untuk masyarakat luas. Namun setelah kurang lebih berdiam selama 5 tahun di Martapura, Guru Bangil kemudian pindah ke Kota Bangil pada tahun 1946 menyusul keluarga yang telah terlebih dahulu berdiam di sana.

Sebelum beliau bepergian ke Bangil (dalam tahun 1945/1946), beliau sempat mengajar di Madrasah Al-Istiqamah Dalam Pagar Martapura,[23] namun pengabdian Guru Bangil di Madrasah Al-Istiqamah Dalam Pagar ini tidak lama, karena pada tahun 1946 beliau kemudian pindah dan hijrah ke Bangil, menyusul keluarga yang telah lama berdiam di sana.

Setelah beberapa tahun berdiam di kota Bangil, Guru Bangil mulai mengajar dan mengabdikan ilmunya secara luas kepada masyarakat setelah mendapatkan restu dari Kyai Hamid Pasuruan yang merupakan ulama Sepuh pada waktu itu.[24] Di samping muthala’ah dan membuka pengajian, Guru Bangil juga mendirikan pondok pesantren untuk ‘kaji duduk’ ilmu-ilmu agama yang diberi nama Pondok Pesantren “Datuk Kalampayan” pada tahun 1970. Santri-santrinya kebanyakan berasal dari Kalimantan, terutama dari Kalimantan Selatan.[25]

Pondok Pesantren tersebut langsung ditangani sendiri oleh Guru Bangil. Beliau juga aktif dan tanpa kenal lelah mengajarkan ilmu kepada para santri, sekalipun dalam keadaan sakit. Malam hari pun diisi dengan berbagai kegiatan amaliyah, halaqah, dan muthala’ah. Sehingga, banyak para santri beliau yang kemudian menjadi orang alim dan tersebar diberbagai daerah, baik di Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan lain-lain untuk meneruskan perjuangan Islam. Di antara santri/murid-murid beliau tersebut adalah:
  1. ’Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Sekumpul Martapura, Pendiri Majelis Taklim Ar-Raudhah Sekumpul.
  2. K.H. Prof. Dr. Ahmad Sjarwani Zuhri, Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Balikpapan.
  3. K.H. Muhammad Syukri Unus, Pimpinan Majelis Taklim Sabilal Anwar al-Mubarak, Martapura.
  4. K.H. Zaini Tarsyid, Pengasuh Majelis Taklim Salafus Shaleh Tunggul Irang Seberang, Martapura (selain sebagai murid, K.H. Zaini Tarsyid juga merupakan anak menantu Guru Bangil).
  5. K.H. Ibrahim bin K.H. Muhammad Aini (Guru Ayan), Rantau.
  6. K.H. Ahmad Bakri (Guru Bakri), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut.
  7. K.H. Asmuni (Guru Danau), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aman, Danau Panggang, Amuntai.
  8. K.H. Sayfi’i Luqman, Tulungagung (Jawa Timur).
  9. K.H. Abrar Dahlan, Pimpinan Pondok Pesantren di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
  10. K.H. Muhammad Safwan Zahri, Pimpinan Pondok Pesantren Sabilut Taqwa, Handil 6, Muara Jawa, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Waktu beliau banyak dihabiskan untuk mengajar, muthala’ah, dan ibadah. Sewaktu berdiam di Martapura, sekembali dari Kota Mekkah al-Mukarramah, Guru Bangil pernah ditawari untuk menduduki jabatan Qadhi di Martapura, namun jabatan tersebut beliau tolak. Beliau lebih senang berkhidmat secara mandiri dalam dunia pendidikan, dakwah, dan syiar Islam, di mana, muthala’ah, halaqah dakwah, ta’lim (mengajar), dan menulis (menghimpun) risalah menjadi aktivitas rutin beliau sehari-hari.

Dalam mengajar Guru Bangil biasanya tidak panjang lebar menjabarkan dan menjelaskan suatu permasalahan, beliau hanya menyampaikan apa yang ada dalam kitab dan telah dibahas secara panjang lebar oleh ulama penulis kitab. Sehingga, ketika ada yang bertanya atau mengajukan suatu permasalahan, beliau menjawabnya tidak dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau tunjukkan dan mengutip dari pendapat para ulama dengan menyebutkan kitab-kitabnya.

Guru Bangil juga aktif menulis berbagai risalah agama berupa pelajaran dan pedoman praktis dalam memantapkan keyakinan dan amaliah beragama masyarakat. Satu di antara risalah beliau yang sangat terkenal, dicetak, dan beredar secara luas di tengah-tengah masyarakat adalah buku yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah. Risalah ini berisi pembahasan tentang masalah talqin, tahlil, dan tawassul.

Guru Bangil tidak mau karya tulis beliau diperjual-belikan, itulah sebabnya beberapa risalah yang beliau himpun hanya ditulis dan beredar secara terbatas, karena tidak dicetak. Buku Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah yang tersebar secara luas itupun beliau izinkan untuk dicetak atas amal jariyah seorang donator, sehingga dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Menurut santri-santrinya, Guru Bangil adalah sosok seorang guru yang bisa memahami dengan baik kemampuan, karakter dan bakat santri-santrinya. Sehingga mereka merasa dididik sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Di samping menguasai ilmu pengetahuan agama yang dalam, Guru Bangil juga mempunyai keahlian ilmu bela diri (silat). Keahlian dalam ilmu bela diri ini juga Beliau ajarkan kepada santri-santrinya sebagai bekal bagi mereka untuk berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Salah seorang santri beliau yang mewarisi dengan baik ilmu bela diri ini adalah (alm.) Guru Masdar Balikpapan.[26]

Sebagai seorang ulama, beliau mampu memberikan solusi dan sekaligus memecahkan masalah di masyarakat beliau. Hal ini terbukti ketika masyarakat hendak memperluas bangunan masjid di Kota Bangil yang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah. Sementara, ada kendala atau permasalahan yang membuat ulama-ulama dan tokoh masyarakat Bangil pada waktu itu bingung mencari solusinya, karena areal tanah yang hendak dijadikan perluasan masjid terdapat kuburan. Maka, masyarakat pun akhirnya mereka meminta pendapat dan pemikiran Guru Bangil berkenaan dengan masalah tersebut, apakah masjid bisa diperluas walaupun di atas tanah bekas kuburan atau bagaimana? Dengan berpedoman kepada pendapat para ulama terdahulu Guru Bangil membolehkan. Sehingga, berdasarkan pendapat Guru Bangil, masalah tersebut akhirnya dapat terpecahkan, sehingga perluasan pembangunan masjid Bangil pun dapat diteruskan.[27]

Dalam masalah kehidupan Guru Bangil dikenal sebagai seorang ulama yang sangat zuhud. Beliau pernah diberi hadiah mobil dan rumah mewah, tetapi semua itu ditolak beliau. Sampai meninggal dunia beliau tidak meninggalkan harta kepada anak cucu beliau. Beliau sangat hati-hati dalam hal-hal keduniawian.[28]

Guru Bangil tidak mau ikut-ikutan atau terjun ke dunia politik. Itulah sebabnya beliau mau masuk dan menjadi anggota partai politik walaupun banyak yang mengajak. Guru Bangil pernah menjadi salah seorang Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bangil, namun ketika NU telah menegaskan arah dan tujuan organisasinya untuk khittah (kembali) ke dasar organisasi ketika organisasi ini didirikan (pada tahun 1926) dan tidak lagi sebagai partai politik.[29]

Menurut Ustadz Subki, Guru Bangil alim dan menguasai secara mendalam 14 cabang ilmu (fan) dari ilmu-ilmu agama. Ilmu-ilmu yang beliau kuasai tersebut terutama bidang fikih, hadits, ilmu hadits, ulumul Qur’an, tafsir, dan tasawuf.[30]

Dalam usia muda (di bawah 40 tahun) Guru Bangil banyak menggeluti ilmu fikih, tetapi pada usia 40 tahun ke atas beliau banyak bergelut di bidang tasawuf. Tasawuf yang banyak beliau pelajari adalah tasawuf Al-Ghazali.[31]

Dalam bidang hadits, beliau sangat hati-hati dalam menggunakan sebuah hadits sebagai dalil, dilihat dulu bagaimana keshahihan hadits tersebut. Begitu juga dalam menyampaikan suatu hadits, beliau sangat hati-hati dan penuh adab. Beliau tidak setuju kalau pidato di lapangan terbuka dengan membacakan atau menggunakan ayat Alquran maupun hadits, padahal tidak tepat dengan konteksnya.[32]

Dalam bidang fikih Guru Bangil juga sangat alim. Kealiman Beliau dalam bidang fikih ini diakui oleh Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif. Sehingga, ketika ada orang yang bertanya masalah fikih kepada Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif, beliau menyuruh orang tersebut untuk menanyakannya langsung kepada Guru Bangil. Guru Bangil pernah memperdalam fikih dengan Syekh Ahyat al-Bogori.[33]

Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah (Simpanan Berharga, Masalah Talqin, tahlil dan Tawassul) adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling populer, karena pembahasan yang ada di dalamnya. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1967 dan telah dicetak serta diterbitkan secara berulang kali oleh penerbit. Buku ini tersebar luas di tengah-tengah masyarakat Islam diberbagai daerah dan dicetak atas biaya dari para donator, sehingga dibagikan secara gratis kepada masyarakat luas. Karena, Guru Bangil tidak mau karya beliau ini diperjual belikan. Buku ini juga pernah berhenti dicetak karena ada oknum yang memperjualbelikannya untuk mengambil keuntungan pribadi.

Buku yang berjudul Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah ini ditulis oleh Guru Bangil atas permintaan masyarakat Bangil karena adanya pernyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh muda pemikir agama yang kontradiktif dengan pemahaman keagamaan masyarakat pada waktu itu, dan sering menganggap mudah (remeh) urusan agama, sehingga menimbulkan pertanyaan dan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Hal ini terlihat di dalam tulisan beliau yang tertera di bagian penutup buku tersebut.

“Akhirnya tidak lupa penulis menasehatkan di sini agar angkatan-angkatan muda dari kalangan umat Islam di Indonesia ini dalam rangka menilai suatu perkara agama itu, jangan anggap mudah atau dipermudah, tapi hendaknya di-tanyakan langsung kepada yang betul-betul mengetahui tentang urusan agama jika sekiranya saudara tidak mengetahui. Dan selanjutnya penulis mengharapkan jangan sampai ada atau menimbulkan hina menghina sehingga membawa akibat yang tidak diinginkan”[34].

Menurut Guru Bangil sangat disayangkan apabila ada sementara orang dari kalangan umat Islam sendiri di dalam rangka menilai sesuatu perkara agama dengan mudah dan gegabah mengambil kesimpulan untuk mengharamkan atau menghalalkan tentang sesuatu perkara tanpa ditinjau secara teliti dan menyeluruh tentang hakikat dari ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Sebagai contoh misalnya tentang pembacaan talqin dan doa untuk mayit serta tawassul. Menurut beliau, buku ini ditulis sekadar untuk menangkis serangan yang dilancarkan tokoh-tokoh muda pemikir agama yang secara sembrono memberikan fatwa-fatwa seolah-olah para alim ulama kita yang terdahulu telah memberikan jalan yang sesat kepada kita.[35] Tulisan ini sama sekali bukanlah hasil dari penafsiran penulis sendiri tetapi hasil dari pemikiran ulama-ulama besar kita yang telah mengambil dasar-dasar menurut rel yang sebenarnya sesuai dengan ajaran Islam.

Adapun yang dibahas dalam buku ini adalah tentang masalah talqin, bacaan dan doa untuk mayit serta pembahasan tentang tawassul.

1. Talqin
Ada sementara pihak yang menyatakan bahwa pembacaan talqin itu adalah bid’ah dhalalah.[36] Dalam menjawab masalah ini Guru Bangil di dalam buku ini menjelaskan bahwa ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tabrani dari Abu Umamah sampai kepada Nabi Muhammad Saw bahwa Abu Umamah telah berkata:

“Apabila aku meninggal dunia, perbuatlah diriku sebagaimana Rasulullah telah memerintahkan kepada kami, agar kami mengerjakan terhadap orang-orang yang meninggal dunia di antara kami. Telah memerintahkan Rasulullah kepada kami, beliau bersabda: ”Apabila meninggal dunia salah seorang dari saudara-saudaramu, maka setelah kau ratakan dengan tanah di atas kuburnya, maka hendaklah salah seorang di antara kamu berdiri di atas kepala kuburnya, kemudian katakanlah: Ya fulan bin fulan hingga akhirnya”.

Menurut beliau, hadits tersebut memang dinyatakan sebagai hadits yang dha’if (lemah) karena di antara perawinya ada yang kurang dhabit, karena itu tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Akan tetapi karena ada yang menguatkannya (syahid), maka ia dapat dijadikan hujjah. Adapun atsar yang menguatkan (syahid) hadits tersebut antara lain, yaitu:

“Dari Rasyid bin Sa’din dan Dhamrah bin Habib dan hakim bin Umir, telah berkata mereka: apabila sudah diratakan tanah atas kubur mayit, dan berpalinglah (pulang sebagaian manusia daripadanya. Adalah mereka itu (sahabat-sahabatnya) suka, bahwa dikatakan bagi si mayit di sisi kuburnya, ya Fulan, katakanlah: Laa ilaaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah, Rabbiyallah wa diinil Islam wa nabiyii Muhammad Saw. Kemudian dia berpaling (pulang)”. (diriwayatkan oleh Said bin Mansur).

Ketiga orang tersebut (Rasyid bin Sa’din, Dhamrah bin Habib dan Hakim bin Umair adalah para tabi’in). Perkataan seperti tersebut di atas tidak ada jalan untuk diijtihadi. Jadi hukum perkataan tabi’in tersebut adalah langsung dari Nabi Saw seperti tertera dalam kaidah.

Syahid-syahid yang lain yang menguatkan hadits tersebut adalah yang diriwayatkan dari Amr bin Ash pada hadits yang panjang, di dalam hadits itu terdapat perkataan:

“Maka jika kamu selesai menanam aku dan menimbun tanah kuburku, kemudian berdiamlah kamu di samping kuburku sekadar selama waktu disembelih onta dan dibagi-bagikan dagingnya[37], sehingga aku mendapat kesenangan dengan kamu dan supaya aku mengetahui bagaimana menjawab utusan Tuhanku”. (Riwayat Muslim dalam Kitab Shahih Muslim).

Ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan jalan yang Shahih:

“Adalah Nabi saw apabila selesai menanam mayit, maka berdiam atasnya, lalu beliau bersabda: Mintakan ampun bagi saudaramu sekalian dan mohonkan kepada Allah akan ketabahan hati baginya karena ia sekarang akan ditanya”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud, telah pula memperkuat isi hadits mengenai talqin tersebut. Meskipun dalam hadits ini dimaksudkan adalah doa, akan tetapi dengan isyaratnya menunjukkan dan menyuruh agar kita mengerjakan sesuatu yang menjadikan ketabahan bagi si mayit karena pada waktu itu kehadiran kita betul-betul diperlukan.

Di dalam kitab Ruh, Ibnu Qayyim al-Jauziyah telah berkata bahwa hadits talqin itu berturut-turut diamalkan tanpa diingkari dan cukuplah untuk dikerjakan. Bagi kita tidak ada larangan untuk mengucapkan sesuatu perkataan yang menjadi-kan manfaat bagi si mayit. Hal ini didukung pula oleh Imam An-Nawawi di dalam Syarah Muhadzab.

Menurut Guru Bangil, talqin itu pada hakikatnya bukanlah dimaksudkan memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah mati, melainkan sekadar memberi ketenangan atau ketabahan di dalam kubur,[38] seperti tersebut di dalam Al Quran surah al-Dzariyat ayat 55:

Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”.

Dengan mengutip pendapat beberapa ulama yang menguraikan dan menjelaskan masalah talqin, maka menurut Guru Bangil, talqin diperbolehkan dan bukanlah perbuatan bid’ah, karena memiliki dalil yang kuat.

Senada dengan penjelasan dan uraian Guru Bangil dalam buku Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah ini, penjelasan yang panjang lebar, dilengkapi dengan tanya-jawab, dan disertai pula dengan dalil-dalil yang membolehkan serta menguatkan masalah talqin, bisa dibaca dalam buku 40 Masalah Agama, karangan K.H. Siradjuddin Abbas.[39]

2. Bacaan dan Doa untuk Mayit
Masalah bacaan dan doa untuk mayit dibahas dalam tulisan beliau ini sebenarnya berpangkal pada pertanyaan: Apakah orang yang meninggal dunia mendapat manfaat dari amal orang yang masih hidup? Ada sementara pendapat yang menyatakan bahwa manfaat tersebut tidak akan diperoleh lagi oleh orang yang meninggal dunia dengan berbagai macam alasan. Dalam uraian ini Guru Bangil menunjukkan hal-hal yang justru sebaliknya.

Pertama-tama Guru Bangil mengemukakan sebuah hadits dari Abu Utsman: “Bacalah surah Yasin atas orang yang meninggal dunia di antara kamu”

Menurut Beliau kedudukan hadits tersebut dhaif karena di antara perawinya ada yang kurang kuat. Tetapi ada yang menguatkan hadits tersebut, di antaranya:

Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Syuabil Iman, dari Ma’qil bin Yasar, bahwasanya Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa membaca Yasin karena menuntut pahala atau ganjaran kepada Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. Maka bacakanlah Yasin disisi orang yang meninggal dunia diantara kamu”.

Di dalam hadits-hadits lain juga disebutkan tentang bacaan ayat-ayat Al Quran di atas kubur, yaitu:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa masuk halaman kuburan dan membaca Fatihah, Qul huwallahu ahad dan Alhakumut Takatsur, kemudian ia berkata sesungguhnya aku jadikan pahala yang kubaca dari kalam Engkau bagi ahli kubu dari kaum mu’minin dan mu’minat, maka niscaya mereka itu memintakan syafa’at kepada Allah baginya” (Dikeluarkan oleh Zanjani di dalam kitab Fawaid).

Dari Aisyah ra: Telah bersabda Rasulullah Saw: “Telah datang kepadaku Jibril, ia berkata sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu datang ke kuburan Baqi supaya kamu memintakan ampun bagi mereka. lalu berkata Aisyah ra, “Bagaimana saya berkata untuk mereka ya Rasulallah? Rasulullah bersabda: “Sebutlah: Assalamu ahla al-diyar. Dalam riwayat lain Assalamu alaikum ahla al-diyar minal mu-minin wa al-Muslimat wa inna insya Allah lalahikun asalullaha lana wa lakum al-afiyah”. (Riwayat Imam Muslim).

Dalam membahas masalah ini, Guru Bangil juga menambahkan beberapa keterangan yang dikemukakan oleh ulama muhadditsin dan fuqaha, di antaranya: Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa ia berkata: “Apabila engkau masuk halaman kuburan maka bacalah ayat Kursi dan 3 kali surah al-Ikhlas. Kemudian ucapkanlah bahwa pahalanya bagi ahli kubur”. Demikian juga dari ulama yang lain seperti, Imam Syaukani, Imam Za’farani, Imam Ramli, Syekh Muhammad Faleh, Imam al-Suyuti dan lain-lain yang menguatkan masalah bacaan dan doa untuk mayit ini.

Mengenai masalah sedekah untuk si mayit, baik dalam bentuk makanan maupun amal kebaikan tidak dilarang oleh syariat Islam. Hal ini sudah ada sejak masa sahabat. Ini dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ashim bin Kulaib yang menceritakan tentang Nabi Saw makan bersama sahabat-sahabatnya di rumah seorang wanita yang kematian suaminya. Kemudian, di dalam hadits-hadits lain dinyatakan bahwa sedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia itu sampai kepadanya. Jadi, dengan demikian menurut Guru Bangil selamatan yang dikerjakan untuk si mayit itu dibolehkan dan sunnat hukumnya. Bahkan di dalam fatwa-fatwa mereka, ulama membolehkan seseorang yang akan meninggal dunia untuk berwasiat menyuruh ahlinya agar bersedekah untuknya setelah ia meninggal dunia.[40]

3. Tawassul
Tawassul adalah minta sesuatu kepada Allah Swt disertai dengan ucapan: dengan berkat fulan, dengan kebesaran fulan, dengan sesuatu amal, dengan sesuatu ayat, atau dengan berkat shalawat dan lain-lain.

Guru Bangil berpendapat bahwa cara-cara yang demikian itu tidak ada larangan dalam agama Islam, karena menurut beliau setiap Muslim tetap berkeyakinan dan percaya bahwa semuanya itu, apa saja hanyalah merupakan sebab belaka dan tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, sedang yang berkuasa serta yang mengabulkan sesuatu hajat itu adalah Allah Swt, tidak ada yang lain kecuali Dia.

Adapun dalil yang dipakai beliau sebagaimana pendapat ulama yang membolehkan tawassul, antara lain:

Hadits yang menunjukkan tentang bertawassul dengan orang yang hidup. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir wa al-Ausath, juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim, dan mereka mensahkan hadits ini. Dari sahabat Annas bin Malik, ia berkata: “Ketika Fatimah binti As’ad ra (ibunda Sayyidina Ali) meninggal dunia, ia pernah memelihara Nabi Saw. Kemudian Nabi Saw bersabda: “Ampuni Ya Allah, ibuku Fatimah binti As’ad, dan luaskan atasnya tempat masuknya (kuburnya) dengan haq Nabi Engkau dan Nabi-nabi sebelum aku”.

Dalil tawassul yang terdapat sesudah Nabi wafat, tawassul kepada Nabi dan selain dari Nabi. Di dalam kitab Fath al-Bari disebutkan sebuah hadits:

“Telah meriwayatkan Ibnu Abdurrazak, dari hadits Ibn Abbas, bahwasanya Sayyidina Umar minta hujan di mushalla, maka Sayyidina Umar berkata pada Sayyidina Abbas: Bangunlah dan mintakan Hujan. Di antara do’a Sayyidina Abbas…… telah menghadap kaum dengan aku kepada Engkau dikarenakan hubunganku dengan nabi-Mu”.

Umar bin Khattab berkata pula: “Ya Allah bahwasanya kami telah tawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami tawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan itu.” (Hadits ini dirawikan oleh Imam Bukhari dan Baihaqi. Lihat Shahih Bukhari, Jilid I, h.128 dan Baihaqi, Sunan al-Kubra, Jilid II, h.352).

Adapun mengenai tawassul dengan Nabi ketika beliau sudah wafat, Guru Bangil memberikan contoh perkataan Sayyidina Abu Bakar: “Dengan ayah dan ibuku adalah tebusan engkau hai Muhammad, hidup dan matimu adalah baik. Hai Muhammad, sebutlah kami di sisi Tuhanmu” (diriwayatkan oleh Imam Abiddunia di dalam kitab Addharra).

Dalil-dalil tawassul lainnya yang dikemukakan Guru Bangil yang menujukkan bahwa tabi’in, tabi’it tabi’in, imam-imam dan para ulama berwasilah juga, yaitu:
  1. Bahwa waktu berkunjung ke Baghdad, Imam Syafi’i berziarah dan mendatangi kubur Imam Abu Hanifah serta bertawassul kepadanya.
  2. Tatkala Imam Syafi’i mendengar Ahli Maghribi yang bertawassul dengan Imam Malik, beliau tidak melarang bahkan beliau pun bertawassul dengan ahl al-bait.
  3. Imam Ahmad bin Hanbal bertawassul dengan Imam Syafi’i.
  4. Imam Al-Ghazali pun bertawassul dengan nabi-nabi dan keluarganya, dan dengan fadhilah amal-amal, sebagaimana tersebut di dalam kitab Qashidah Munfarijah.
  5. Ulama-ulama besar lainnya pun bertawassul, sebagaimana disebutkan di dalam banyak kitab.
Dengan dalil-dalil tersebut yang meliputi perbuatan-perbuatan Nabi, sahabat dan ulama-ulama cukuplah kiranya bagi umat Islam menurut Guru Bangil untuk tidak meragukan dan tidak pula mengingkari akan bolehnya bertawassul dengan nabi-nabi, wali-wali dan para shalihin (orang-orang shaleh).[41]

Berbagai hal yang telah dijelaskan dan diuraikan oleh Guru Bangil berkenaan dengan tawassul dalam buku Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah ini, tidak jauh berbeda dengan penjelasan yang diuraikan dalam buku 40 Masalah Agama, karangan K.H. Siradjuddin Abbas.[42] Di mana dalam buku 40 Masalah Agama tersebut, masalah tawassul dalam mendoa dikemukakan secara panjang lebar, dilengkapi dengan tanya-jawab, dan disertai pula dengan dalil-dalil yang menyatakan tatacara dan kebolehan seseorang untuk berdoa dengan cara bertawassul.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, Tuan Guru H. Muhammad Sjarwani Abdan yang dikenal luas oleh masyarakat Banjar dan Bangil khususnya sebagai seorang ulama yang memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan mental spiritual umat melalui keilmuan dan kiprah keagamaan selama beliau hidup. Aktivitas beliau yang tidak jauh dari rutinitas ibadah, muthala’ah, halaqah, dakwah, ta’lim, dan menulis risalah bimbingan keagamaan untuk masyarakat serta mendirikan Pondok Pesantren Datuk Kalampayan di Bangil memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan amal ibadahn dan keagamaan masyarakat.

Berkenaan dengan hadits, beliau sangat hati-hati dalam menggunakan sebuah hadits sebagai dalil, dilihat dulu bagaimana keshahihan hadits tersebut. Begitu juga dalam menyampaikan hadits, beliau sangat hati-hati dan penuh adab. Dalam bidang fikih Guru Bangil juga sangat alim. Kealiman Beliau dalam bidang fikih ini diakui oleh ‘Alimul ;Allamah Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif. Ketika ada orang yang bertanya masalah fikih kepada Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif, maka beliau menyuruh orang itu untuk menanyakannya kepada Guru Bangil. Dalam masalah kehidupan Guru Bangil dikenal sebagai seorang ulama yang sangat zuhud. Beliau pernah diberi hadiah mobil dan rumah mewah, tetapi semua itu ditolak beliau. Sampai meninggal dunia beliau tidak mewariskan harta kepada anak cucu beliau.

Al Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah (Simpanan Berharga, Masalah Talqin, Tahlil dan Tawassul) adalah salah satu karya tulis Guru Bangil yang paling populer. Buku ini ditulis beliau atas permintaan masyarakat Bangil karena adanya pernyataan-pernyataan para pemikir muda yang kontradiktif (berlawanan) dengan pemahaman keagamaan masyarakat pada waktu. Menurut beliau, talqin, bacaan, doa dan sedekah untuk mayit serta tawassul diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam asalkan sesuai dengan kaedah yang dicontohkan oleh ulama.

Catatan Kaki:
  1. Qadhi H. Abu Su’ud adalah anak Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Tuan Bidur yang merupakan moyang dari Tuan Guru H. Husin Kedah bin H. Muhammad Thayyib, seorang ulama besar yang disegani dan dihormati oleh masyarakat Melayu (Kedah-Malaysia). Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Tuan Haji Besar, (Dalam Pagar Martapura: Sekretariat Madrasah Sullamul Ulum, 1996), h.115-116.
  2. Ibid., h.118.
  3. Menurut K.H. Abdul Syukur ada beberapa indikasi sehingga Kota Martapura disebut sebagai Kota Serambi Mekkah, yakni: kehidupan masyarakatnya yang agamis, peran para ulama dalam mengembangkan ilmu, banyaknya madrasah dan pondok pesantren, banyaknya pengajian dan majelis taklim, masyarakatnya yang gemar ibadah-ibadah sunah, tokoh-tokoh panutan masyarakat yang berasal dari kalangan ulama d`n guru-guru agama, tingginya kecenderungan masyarakat terhadap pendidikan Islam. Lihat dalam Setia Budhi dkk, Mendampingi Aspirasi Masyarakat Kota Serambi Mekkah Martapura Darussalam, (Banjarmasin: CRDS, 2000), h.34. K.H. Hatim Salman menambahkan, bahwa Martapura disebut sebagai Kota Serambi Mekkah karena merupakan kota bersejarah penerapan syariat Iqlam di masa Kerajaan Banjar ketika diberlakukannya Undang-Undang Sultan Adam (UUSA)”, lihat dalam Setia Budhi dkk, Ibid., h.45. Ada pula yang menyebut Martapura sebagai “Kota Santri” dan “Bumi Ulama”, sebab di kota ini banyak melahirkan ulama-ulama besar dan pusat pengkajian ilmu (pondok pesantren ataupun kaji duduk) dari dulu hingga sekarang. lihat Zulfa Jamalie, Generasi Emas: Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Keturunannya, (Banjarmasin: Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar, 2007), h.63.
  4. Ada perbedaan pendapat berkenaan dengan riwayat pendidikan Guru Bangil di sini, karena, berdasarkan data yang diakses dari website Pemerintah Kabupaten Banjar dinyatakan bahwa Guru Bangil pernah masuk dan belajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Sedangkan menurut informasi Guru H. Ahmad Barmawi (Martapura) yang merupakan murid Guru Bangil angkatan pertama, menyatakan bahwa Guru Bangil tidak pernah masuk dan belajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, beliau hanya kaji duduk dengan sejumlah ulama atau Tuan Guru yang sebagiannya mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, salah seorang di antara guru beliau dan sangat dikenal adalah Tuan Guru H. Kasyful Anwar bin H. Ismail. Tuan Guru H. Kasyful Anwar sendiri adalah paman dari Guru Bangil dan merupakan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura Periode III (1922-1940).
  5. Wawancara dan keterangan Ustadz H. Ahmad Mulkani, Kampung Melayu Banjarmasin (salah seorang murid Guru Bangil). Menurut Ustadz H. Mulkani, informasi ini beliau dapat dari salah seorang anak Guru Mukhtar Khatib.
  6. ’Alimul ‘Allamah H. Anang Sya’rani Arif juga seorang ulama besar Martapura dan ahli dalam ilmu hadits dan tafsir. Beliau terkenal dan menyandang gelar sebagai muhaddits, yakni seorang yang ahli dan hapal beribu-ribu matan hadits lengkap dengan sanadnya. Beliau juga pembaharu dan pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura periode V (1959-1969).
  7. Abu Daudi, op. cit., h.118.
  8. Pemerintah Kabupaten Banjar.
  9. Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan, 100 Tokoh Kalimantan 1, (Kandangan: Toko Buku Sahabat, 2007), h.223.
  10. Sanad ijazah tarekat Sammaniyah yang diterima oleh Guru Bangil bersumber dari Syekh Muhammad Ali bin Abdullah al-Banjari, yang menerimanya dari Syekh Zainuddin al-Sumbawi, yang menerimanya dari Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, yang menerimanya dari Syekh Syihabuddin, yang menerima dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yang langsung menerimanya dari Syekh Muhammad Samman al-Madani. Guru Bangil kemudian mengajarkannya kepada Guru Sekumpul. Lihat A Athaillah, “Perkembangan Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan”, Jurnal Khazanah, Volume III, Nomor 2, Maret-April 2004, IAIN Antasari Banjarmasin, h.228.
  11. Wawancara dengan Ustadz Subki, (Tunggul Irang, Martapura), tanggal 9 Oktober 2008
  12. Menurut keterangan Ustadz Subki, Guru Bangil menerima ijazah tarekat Naqsabandiyah dari Syekh Sayid Muhammad Amin Kutbi, wawancara pada tanggal 9 Oktober 2008.
  13. Abu Daudi, op. cit., h.118 dan 120.
  14. Guru Sekumpul (7 Muharram 1361 H/11 Februari 1942 M - 5 Rajab 1428 H/10 Agustus 2005 M) adalah sosok ulama kharismatik dan mumpuni, yang keharuman nama dan keilmuannya tidak hanya dikenal di Kalimantan, Indonesia, akan tetapi sampai ke negara jiran, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Guru Sekumpul merupakan generasi penerus Guru Bangil, yang semasa hidupnya juga dikenal sebagai seorang ulama yang menghimpun antara syariat, tarekat, dan hakikat, dan satu-satunya ulama yang mendapat izin untuk mengijazahkan tarekat Sammaniyah.
  15. Kasyful Anwar, Manaqib Guru Bangil, t.p., h.1.
  16. Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan, op. cit., h.223.
  17. Kasyful Anwar, op. cit., h.1.
  18. Wawancara dengan Guru H. Ahmad Barmawi (Batuah, Martapura) pada tanggal 13 Juli 2008.
  19. Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Tuan Haji Besar, cetakan baru, (Martapura: Yayasan Pendidikan Islam Dalam Pagar, 2003), h.175.
  20. Wawancara dengan Ustadz Subki, pada tanggal 9 Oktober 2008
  21. Wawancara dengan Ustadz H. Ahmad Mulkani, pada tanggal 9 September 2008.
  22. Haul atau bahaul menurut Alfisyah (2007) merupakan tradisi keagamaan yang sering dikaitan dengan kebiasaan Islam tradisional. Upacara ini merupakan ritual tahunan untuk memperingati wafatnya seseorang yang dianggap memiliki kekhususan, yakni para ulama. Karena itu, sebagai sebuah tradisi keagamaan haul memiliki banyak makna penting. Pertama, haul menjadi support emosional, hiburan, dan rekonsiliasi untuk mengatasi masalah ketidakpastian, kekecewaan bahkan keterpencilan dari tujuan dan norma sosial yang dihadapi masyarakat. Kedua, lewat doa dan zikir yang diliputi suasana sakral, ritual bahaul memberikan hubungan transendental sehingga menyediakan rasa aman dan identitas yang kokoh bagi manusia. Ia juga memberikan pengalaman keagamaan yang mungkin saja mulai terkikis dari kehidupan. Ketiga, pembacaan riwayat hidup (manaqib) tokoh yang senantiasa dibacakan dan disosialisasi dalam setiap upacara tahunan ini, memberikan kesadaran tentang berbagai kelebihan (kesalehan, keilmuan, dan kealiman) tokoh, sehingga menjadi inspirasi untuk kembali memperkokoh kesalehan individu dan sosial. Keempat, banyaknya orang terlibat dan datang dalam kegiatan itu menunjukkan ritual keagamaan ini masih cukup mampu menjadi institusi untuk menguatkan solidaritas sosial masyarakat. Lihat dalam Indomedia.
  23. Madrasah Al-Istiqamah adalah sebuah madrasah yang dibangun pada tahun 1931 M. oleh “Alimul ‘allamah Qadhi Tuan Guru H. Muhammad Thaha (salah seorang guru beliau sewaktu di Martapura, yang wafat pada tahun 1361 H/1942 M), lihat Abu Daudi, 2003, op. cit., h.175.
  24. Menurut Abu Daudi: Pada suatu ketika para guru atau Kyai di pesantren yang berada di wilayah Jawa Timur hendak belajar ilmu-ilmu agama yang lebih mendalam lagi kepada Kyai Hamid Pasuruan, namun Kyai Hamid tidak mau mengajari, Beliau menyuruh mereka untuk belajar kepada Guru Bangil. Maka para Kyai tersebut datanglah kepada Guru Bangil dengan membawa pesan dari Kyai Hamid. Namun mereka datang itu bukan saja membawa pesan dari Kyai Hamid, tetapi mereka juga membawa pertanyaan atau menanyakan beberapa masalah kepada beliau untuk dipecahkan, dalam arti kata para Kyai tersebut ingin menguji lebih dahulu sampai di mana kedalaman ilmu Guru Bangil. Semua pertanyaan yang mereka ajukan dijawab oleh Guru Bangil lengkap dengan rujukan kitabnya. Kitab-kitabnyapun langsung beliau buka di hadapan mereka. Hal semacam ini bukan hanya sekali, tetapi berulang-ulang kali, sehingga para Kyai tadi yakin akan keilmuan Guru Bangil dan mereka memohon kepada beliau untuk diajari ilmu-ilmu agama. Dengan terlebih dahulu memohon restu dan meminta izin dengan Kyai Hamid Pasuruan, Guru Bangil pun akhirnya membuka pengajian. Lihat Abu Daudi, 2003, op. cit., h.176.
  25. Pondok Pesantren Datuk Kalampayan ini beralamat di Jl. Mujair Kelurahan Kauman Kota Bangil Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, letaknya persis berdekatan dengan Masjid alun-alun Kota Bangil.
  26. Wawancara dengan Ustadz H. Ahmad Mulkani, pada tanggal 12 oktober 2008.
  27. Menurut keterangan dari Ustadz Subki (wawancara pada tanggal 9 Oktober 2008), permasalahannya waktu itu adalah bahwa di aeral di sekitar masjid yang hendak diperluas tersebut dulunya adalah kuburan/makam, sementara ahli waris kuburan tersebut sudah tidak diketahui lagi, sehingga timbul masalah. Apakah boleh atau tidak memperluas masjid di tanah tersebut yang ada kuburan di bawahnya? Akibat masalah ini terjadi perbedaan pendapat dan perluasan pembangunan masjid tertunda. Untuk memecahkan dan mencari jalan keluarnya, pengurus masjid dan masyarakat pun akhirnya meminta pendapat dan nasihat kepada kepada Guru Bangil. Menurut Guru Bangil, berdasarkan kitab-kitab fikih yang ada, secara tegas di dalam mazhab Syafi’i tidak diperbolehkan untuk membangun masjid di atas tanah yang ada kuburannya, namun ada mazhab lain yang membolehkan hal tersebut dilakukan mengingat kemanfaatan dan kemashlahatannya bagi umat Islam. Oleh pengurus masjid dan masyarakat Bangil, pendapat ulama yang membolehkan untuk membangun atau memperluas masjid sesuai dengan kebutuhan di atas tanah bekas kuburan inilah yang kemudian dipakai dan dijadikan sebagai rujukan, sehingga akhirnya perluasan masjidpun bisa dilaksanakan. Wawancara pada tanggal, 9 Oktober 2008.
  28. Wawancara dengan Ustadz H. Ahmad Mulkani pada tanggal, 9 September 2008.
  29. Wawancara dengan Ustadz Subki pada tanggal, 9 Oktober 2008 .
  30. Wawancara dengan Ustadz Subki pada tanggal, 9 Oktober 2008.
  31. Wawancara dengan Ustadz H. Ahmad Mulkani pada tanggal, 9 September 2008.
  32. Wawancara dengan Guru H. Ahmad Barmawi pada tanggal, 13 Juli 2008.
  33. Wawancara dengan Ustadz Subki pada tanggal, 9 Oktober 2008.
  34. H.M. Sjarwani Abdan, Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah: Simpanan Berharga Masalah Talqin-Tahlil-Tawassul, cetakan ke-4, (Bangil: PP. Datuk Kalampayan, 2003), h.141.
  35. Menurut keterangan Guru H. Ahmad Barmawi, buku ini ditulis beliau atas permintaan masyarakat Bangil karena adanya pernyataan-pernyataan dari tokoh dan pendiri Persis, Hassan Bandung yang sangat kontradiktif dengan pemahaman keagamaan masyarakat waktu itu. Awalnya buku yang beliau tulis sangat tebal, karena isinya memuat pernyataan-pernyataan Hassan Bandung kemudian dilanjutkan sanggahan-sanggahan (argumentasi) oleh Guru Bangil. Akan tetapi ketika buku itu hendak dicetak, Hassan Bandung keburu meninggal dunia. Guru Bangil pun akhirnya meminta agar buku itu diringkas saja, karena beliau merasa kurang enak ditulis dengan gaya debat kalau orang yang diajak mudzakarah sudah meninggal dunia. Wawancara pada tanggal, 13 Juli 2008.
  36. Secara bahasa bid’ah artinya sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang terdahulu, sesuatu barang yang pertama adanya, mengadakan sesuatu tidak menurut contoh, diciptakan tanpa contoh, atau menciptakan dan membuat sesuatu tanpa contoh yang terdahulu. Secara terminologis, misalnya menurut Syekh Izzuddin bin Abdul Salam, bid’ah adalah sesuatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah Saw. Menurut Imam Syafi’i bid’ah itu ada dua, yakni bid’ah dhalalah dan bid’ah hasanah. Bid’ah dhalalah adalah bid’ah yang sesat atau tercela, yakni pekerjaan keagamaan yang berlainan atau bertentangan dengan Alquran dan Sunnah Nabi Saw, atsar para sahabat, dan ijma’ ulama. Sedangkan bid’ah hasanah adalah pekerjaan keagamaan yang baik yang tidak bertentangan Alquran dan Sunnah Nabi Saw, perbuatan para sahabat, serta ijma’ ulama. Lihat Siradjuddin Abbas dalam buku, 40 Masalah Agama, Jilid III, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2000), h.153-158.
  37. Jangka waktu mulai onta disembelih sampai dagingnya dibagi-bagikan diperkirakan sekitar 45 menit.

RUJUKAN

Buku
Abbas, Siradjuddin, 40 Masalah Agama, Jilid I – IV, Pustaka Tarbiyah, Jakarta, 2000.

Abdullah bin Nuh dan Oemar Bakry, Kamus Arab-Indonesia-Inggeris, CV. Mutiara, Jakarta, 1969.

Abdul Syukur, “Peran Pondok Pesantren di Kota Serambi Mekah”, dalam Setia Budhi, dkk, Mendampingi Aspirasi Masyarakat Kota Serambi Mekkah Martapura Darussalam, CRDS, Banjarmasin, 2000.

Abu Daudi, Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari: Tuan Haji Besar, Yayasan Pendidikan Islam Dalam Pagar (YAPIDA), Martapura, 2003.

Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan, 100 Tokoh Kalimantan 1, Toko Buku Sahabat, Kandangan, 2007.

Ali Syari’ati, Membangun Masa Depan Islam: Pesan untuk Para Intelektual Muslim, Mizan, Bandung, 1993.

Al-Marbawi, Idris Abdur Rauf, Kamus Idris Al-Marbawi, Musthafa al-Babil Halabi, Mesir, 1350 H.

Al-Maududi, Abu al-A’la, Tajdid ad-Din wa Ihyaihi, terj. Ahmadie Thaha dan Saiful Islam Farenduani, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1984.

As-Sayuthi, Jalaluddin, Jami’ush Shagir, Darul Kutubi al-Halabi, Kairo, 1967.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran, Jakarta, 1982.

Djalinus Syah (et.al.), Kamus Pelajar Kata Serapan Bahasa Indonesia, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1993.

Hughes, Thomas Patrich, Dictionary of Islam, Oriental Reprint, New Delhi-India, 1976.

Kafrawi Hamzah, Ulama dan Tanggung Jawabnya, CV. Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1994.

Kasyful Anwar, Manaqib ‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Muhammad Sjarwani Abdan, tidak diterbitkan.

Louis Ma’luf, Al-Munjid fil Lughah, Darul Masyriq, Beirut, 1977.

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Yayasan Penyelenggara Penterjemah dan Pentafsir Al-Quran, Jakarta, 1973.

Masdari dan Zulfa Jamalie (ed.), Khazanah Intelektual Islam Ulama Banjar, Pusat Pengkajian Islam Kalimantan (PPIK) IAIN Antasari, Banjarmasin, 2003.

Moenawar Cholil, Fungsi Ulama dalam Masjarakat dan Negara, NV. Bulan Bintang, Jakarta, 1957.

Muhammad Abdul Mujieb AS, Ciri-ciri Ulama Dunia dan Akhirat, Mahkota, Surabaya, 1986.

Muhammad Hatim Salman, “Masyarakat Islam: Perubahan dan Kesempatan”, dalam Setia Budhi, dkk, Mendampingi Aspirasi Masyarakat Kota Serambi Mekkah Martapura Darussalam, CRDS, Banjarmasin, 2000.

Muhammad Ihsan Dahlan, Sirajut Thalibin, Jilid I, tanpa penerbit.

Muhammad Sjarwani Abdan, Al-Dzakhirat al-Tsaminah li Ahli al-Istiqamah: Simpanan Berharga Masalah Talqin-Tahlil-Tawassul, cetakan ke-4, PP. Datuk Kalampayan, Bangil, 2003.

Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Lantabora Press, Jakarta, 2004.

Nasution, Harun, (eds.), Ensiklopedi Islam, Jilid 3, (Jakarta: Ditjen Binbaga Islam Departemen Agama, 1992/1993), h.1250.

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indoensia, PN. Balai Pustaka, Jakarta, 2003.

Rosyad Shaleh, A., Management Da’wah Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

Sayyid Quthub, Fi Dzilalil Qur’an, Jilid VI, Musthafa al-Babil Halabi wa Auladuhu, Mesir, 1973.

Setia Budhi, dkk, Mendampingi Aspirasi Masyarakat Kota Serambi Mekkah Martapura Darussalam, CRDS, Banjarmasin, 2000.

Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1983.

Zafri Zamzam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Ulama Besar Juru Dakwah, Percetakan Karya, Banjarmasin, t.th.

Zaidan, Abdul Karim, Ushulud Da’wah, terj. M. Asywadie Syukur, Media Da’wah, Jakarta, 1980.

Zulfa Jamalie, dkk, (ed.), Biografi dan Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Matahari Islam Kalimantan, Pusat Pengkajian Islam Kalimantan (PPIK) IAIN Antasari, Banjarmasin, 2005.

Zulfa Jamalie, Perjuangan Tokoh Membumikan Islam di Tanah Banjar, Ceprus, Banjarmasin, 2005.
———, Generasi Emas: Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Keturunannya, Lembaga Kajian Islam, Sejarah, dan Budaya Banjar, Banjarmasin, 2007.

Internet
Pemerintah Kabupaten Banjar “Ribuan Jamaah Padati Haul Guru Bangil”. Diakses pada, Sabtu, 2 Februari 2008.
Indomedia “Haul ke-17 Guru Bangil: Cinta Allah dan Rasul sejak Remaja (1)” Diakses pada, Sabtu, 2 Februari 2008.
Indomedia “Haul ke-17 Guru Bangil : Hindari Godaan Dunia untuk Akhirat (2)” Diakses pada, Sabtu, 2 Februari 2008.
Pemerintah Kabupaten Banjar “Haul Tuan Guru H.M. Sjarwani Abdan (Guru Bangil) yang ke-18”. Diakses pada, Senin, 22 April 2008.
Pemerintah Kabupaten Banjar “Haul ke-19 Guru Bangil Diperingati”. Diakses pada, Senin, 22 April 2008.
Indomedia “Tradisi Haul dan Kohesi Sosial” Diakses pada, Sabtu, 2 Februari 2008.

Jurnal dan Majalah
A Athaillah, “Perkembangan Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan”, Jurnal Khazanah, Volume III, Nomor 2, Maret-April 2004, IAIN Antasari Banjarmasin.

Mugeni Hasar, “Pemikiran Tasawuf Syekh Abdurrahman Siddiq: Telaah Atas Kitab Amal Ma’rifah”, Jurnal Khazanah, Volume III, Nomor 2, Maret-April 2004, IAIN Antasari Banjarmasin.

“Tuan Guru H. Sjarwani Abdan: Menebar Ilmu di Perantauan”, Koran Mingguan Ishlah, No. II/Tahun II/Maret 2007, diterbitkan oleh Yayasan Sultan Adam Martapura.

“Kedudukan Ulama Menurut Imam Ali bin Abi Thalib”, Majalah Cahaya Sufi, edisi Mei 2007.

Zulfa Jamalie, “Melacak Jejak Pembawa Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar”, Jurnal Khazanah, Volume II, No. 5, September-Oktober 2003, IAIN Antasari Banjarmasin.


Sumber:
Sorban Ulama, Al Alimmul Al Allamah Al Arrif Billah KH.Syarwani Abdan Al Banjary, Bangil (Guru Bangil)
Al Ikhlas, Tuan Guru Syech Syarwani Abdan Al Banjari



Jangan lupa dukung Mistikus Channel Official Youtube Mistikus Blog dengan cara LIKE, SHARE, SUBSCRIBE:




Anda sedang membaca KH. Syarwani Abdan Al Banjary | Silahkan Like & Follow :
| | LIKE, SHARE, SUBSCRIBE Mistikus Channel
| Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.
Sudah berapa lama Anda menahan rindu untuk berangkat ke Baitullah? Melihat Ka’bah langsung dalam jarak dekat dan berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah. Untuk menjawab kerinduan Anda, silahkan klik Instagram | Facebook.

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top