Mistikus Cinta

0
Syarat Untuk Melakukan Dzikir

Salah satu syarat mempersiapkan diri untuk berdzikir ialah berada di dalam keadaan berwudhu; basuh dan bersihkan tubuh badan dan sucikan hati. Pada peringkat permulaan, supaya dzikir itu berkesan, perlulah disebut kuat-kuat akan perkataan dan ayat yang dijadikan dzikir – kalimah tauhid, sifat-sifat Allah. Bila perkataan tersebut diucapkan usahakan agar kamu berada di dalam kesedaran (tidak lalai). Dengan cara ini hati mendengar ucapan dzikir dan diterangi oleh apa yang didzikirkan. Ia menerima tenaga dan menjadi hidup – bukan saja hidup di dunia ini bahkan juga hidup abadi di akhirat.

“Mereka tidak akan merasa padanya kematian, hanya kematian pertama, dan Dia pelihara mereka daripada azab jahanam”. (QS. Dukhaan, ayat 56).

Nabi s.a.w menceritakan bahwa keadaan orang mukmin yang mencapai yang hak melalui dzikir, “Orang mukmin tidak mati. Mereka hanya meninggalkan hidup yang sementara ini dan pergi kepada kehidupan abadi”. Dan mereka lakukan di sana apa yang mereka lakukan dalam dunia. Nabi s.a.w bersabda, “Nabi-nabi dan orang-orang yang hampir dengan Allah terus beribadat di dalam kubur seperti yang mereka lakukan di dalam rumah mereka”. Ibadat yang dimaksudkan itu adalah penyerahan dan merendahkan diri rohani kepada Allah bukan sembahyang yang lima waktu sehari. Tawaduk yang di dalam diri, dengan diam, adalah nilai utama yang menunjukkan iman yang sejati.

Makrifat tidak dicapai oleh manusia dengan usaha tetapi ia adalah anugerah dari Allah. Setelah dinaikkan kepada maqam tersebut orang arif menjadi akrab dengan rahsia-rahsia Allah. Allah membawa seseorang kepada rahsia-rahsia-Nya apabila hati orang itu hidup dan sadar dengan dzikir atau ingatan kepada-Nya dan jika hati yang sadar itu bersedia menerima yang hak. Nabi s.a.w bersabda, “Mataku tidur tetapi hatiku jaga”.

Pentingnya memperoleh makrifat dan hakikat diterangkan oleh Nabi s.a.w, “Jika seseorang berniat mempelajari dan beramal menurut keinginannya itu tetapi mati sebelum mencapai tujuannya, Allah melantik dua orang malaikat sebagai guru yang mengajarnya ilmu dan makrifat sampai ke hari kiamat. Orang itu dibangkitkan dari kuburnya sebagai orang arif yang telah memperoleh hakikat”. Dua orang malaikat di sini menunjukkan roh Nabi Muhammad s.a.w dan cahaya cinta yang menghubungkan insan dengan Allah. Pentingnya niat dan hajat selanjutnya diceritakan oleh Nabi s.a.w, “Ramai yang berniat belajar tetapi mati ketika masih di dalam kejahilan tetapi mereka bangkit daripada kubur pada hari pembalasan sebagai orang arif. Ramai ahli ilmu dibangkitkan pada hari itu dalam keadaan rusak akhlak hilang segalanya dan jahil keseluruhannya”. Mereka adalah orang-orang yang bermegah dengan ilmu mereka, yang menuntut ilmu karena muslihat duniawi dan berbuat dosa. 

Mereka diberi amaran:
“Dan (ingatkanlah mereka) hari yang akan dibawa orang-orang kafir ke neraka (dan dikata), ‘Kami telah habiskan bagian kamu yang baik di dalam penghidupan dunia. Dan kamu telah bersuka-sukaan dengannya. Maka pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang keji lantaran kamu pernah berlaku sombong di dunia secara tidak benar dan lantaran kamu telah melewati batas”. (QS. Ahqaaf, ayat 20).

Nabi s.a.w bersabda, “Setiap amal bergantung pada niat. Niat dan tujuan orang beriman lebih baik dan bernilai pada pandangan Allah daripada amalannya. Niat orang yang tidak beriman lebih buruk daripada apa yang nyata dengan amalannya”. Niat adalah asas amalan. Nabi s.a.w, “Adalah baik membina amal kebajikan di atas tapak yang baik, dan dosa adalah perbuatan yang dibina di atas tapak yang jahat”.

“Barangsiapa hendak ke taman akhirat Kami tambah untuknya pada ke tamannya, dan barangsiapa mau ke taman dunia Kami akan beri kepadanya sebahagian daripadanya, tetapi tidak ada baginya bahagian akhirat”. (QS. Syura, ayat 20).

Cara terbaik ialah mencari guru kerohanian yang akan membawa hati kamu hidup. Ini akan menyelamatkan kamu di akhirat. Ini adalah penting; ia mesti dilakukan segera ketika masih hidup. Dunia ini kebun akhirat. Orang yang tidak menanam di sini tidak boleh menuai di sana. Jadi, bercocok tanamlah di dalam dunia ini dengan benih yang diperlukan untuk kesejahteraan hidup di sini dan juga di akhirat. Dunia ini dengan benih yang diperlukan untuk kesejahteraan hidup di sini dan juga di akhirat. 

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Adab Dzikir Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Adab Dzikir Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Adab Dzikir Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top