Mistikus Cinta

0
Kebutuhan Akan Kepastian
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani an Naqshbandi
Ditranslasi dari Liberating The Soul, Vol.1

Sangat tak mungkin bagi seseorang untuk meninggalkan sifat-sifat buruk setani dan berjalan dijalan yang lurus, kecuali Allah swt menolong mereka. Oleh sebab itu kita harus memohon pertolongan Allah untuk segala sesuatu. Kalian tak dapat menjauhi perbuatan buruk bila kalian tak memohon pertolongan Allah, dan kalian tak dapat meletakkan langkah kalian dengan benar tanpa memintaNya. Oleh sebab itu ketika kalian ingin meninggalkan perbuatan nafsu setani, kalian harus memohon pertolongan Allah dengan mengucapkan, Audzu billah hi minas syaitonir rojim. Kalimat ini akan memberi perlindungan, menjadi benteng bagimu.

Setiap saat kalian merasa setan akan mengganggumu, kalian harus katakan, “Oh, Tuhanku, setan menginginkan aku menjadi hambanya, untuk menjadi pengikutnya. Oh Tuhanku jagalah aku dari setan terkutuk”. Ini kalimat yang penuh makna, meski kita hanya mengucapkannya dengan lidah kita, hal ini akan memberi perlindungan, apalagi bila kita mengucapkan dengan hati kita, maka akan menjadi sangat kuat.

Dan ketika kalian memohon untuk mendapat jalan yang benar, kalian harus mengucapkan, ”Bismillahir rohman nir rohim“. Zaman akhir ini ketika kita ingin melangkah dijalan yang benar, 100 setan akan mengeroyokmu dan mencegahmu agar tidak bisa bergerak untuk melangkah kejalan yang benar. Dan ketika kalian mengatakan, ”Bismillahir rohman nir rohim” ini akan membuat setan menjauh dan memberimu kekuatan untuk melangkah dijalan yang benar.

“Ya..!!, Hal ini benar adanya,” Bismillahir rohman nir rohim” sangat powerful, sangat kuat. Ini adalah kunci dari setiap kekuatan ajaib. Semakin kuat hal ini kau yakini, meski kalian letakkan kakimu diatas sungai, maka kalian dapat berjalan diatasnya. Hanya keyakinan yang kuat yang dapat mencapainya. Setiap orang mengetahui sesuatu, tetapi hanya beberapa orang yang memiliki “keyakinan” sempurna. Ilmu pengetahuan bisa saja dimiliki setiap orang, tetapi “keyakinan” hanya beberapa orang yang terpilih saja yang memilikinya. 

Hasan al Basri, semoga Allah merahmatinya, adalah Imam yang terkenal. Pada masanya Habib al’Ajami yang bukan berasal dari Arab, tetapi ia orang Persia atau Bukhara. Dia tidak membaca Qur’an seperti layaknya orang Arab, dia bahkan seorang yang buta huruf. Suatu ketika Hasan al Basri datang dan melihat Habib al Ajami solat Maghrib. Ketika Hasan al Basri mendengar bahwa Habib al-Ajami tidak bisa mengucapkan al-hamdu, tetapi ia mengucapkannya el-hemdu maka Hasan Al-Basri tidak mengikutinya menjadi makmum, tetapi ia sholat sendiri. Tiba-tiba Hatif ar-Rabbani, suara Allah datang melalui kalbunya, Allah swt kadang menelpon hamba yang dicintaiNya, dan mereka mendengar apa yang diucapkanNya.” Kecuali sholat yang kau lakukan tidak mengikuti dibelakang Habib al-Ajami, Aku menerima seluruh sholatmu yang lain”.

Allah swt mengatakannya melalui ilham yang dikirimkannya, dan Hasan al Basri mendengarkannya. Allah berkata, ”Engkau tinggalkan berjamaah hanya karena kata-kata yang diucapkannya, tidak melihat hati dari Imam dimana Aku bersamanya. Aku melihat siapakah yang menjadi Imam dan Aku tak melihat pembacaannya, Aku melihat kedalam hatinya. Jika hatinya bersamaKU, maka Imam itu benar. Jika hatinya tidak bersamaKU, meskipun ia membaca Quran dengan sangat indah, maka malaikat yang akan mengantarkan sholatnya kepadaKu. Tetapi siapapun yang sholat dan hatinya bersamaKu maka Aku sendiri yang langsung menerima sholatnya tanpa perantaraan malaikat”.

Oleh sebab itu orang yang sholat terbagi menjadi dua macam, pertama adalah orang yang sholat dan ketika ia mengucapkan,”Allahu Akbar”, dia meletakkan segala sesuatunya bersama Allah semata, dan Allah swt mengambil sholatnya langsung dalam hadiratNya. Tetapi untuk seseorang yang mengucapkan, ”Allahu Akbar”, tetapi hatinya berkelana, memikirkan pekerjaannya, makan minum, maka malaikat yang membawa sholatnya itu kepada Allah. “Oh Hasan al Basri, Aku akan menerima seluruh sholatmu demi para Imam yang kau tinggalkan karena caranya ia melantunkan Quran. Dan Imam Hasan al Basri mencucurkan air mata mendengarnya.

Suatu ketika Hasan al Basri sedang duduk dipinggir sungai Tigris di Baghdad, menunggu Perahu untuk menyeberangi sungai. Habib al-Aljami datang dan berkata,” Oo.. Ustadz, tuanku apakah yang engkau tunggu?. Hasan al Basri menjawab, ”Aku menunggu perahu untuk menyeberang”. “Engkau adalah Imam dan engkau duduk menunggu perahu disini untuk menyeberang?”. “Mari kesini, katakanlah ‘Bismillah’ dan menyeberanglah”. Kemudian Habib berkata,” Bismillah hir rohman nir rohim” dan menyeberangi sungai Tigris. Hasan al-Basri hanya bisa menangis,” Orang ajam ini, orang yang asing dan buta huruf menyeberangi sungai dengan ‘keyakinannya’ dan aku masih duduk disini”.

Ya, Hasan al-Basri memiliki pengetahun kekuatan kalimat “Bismillah hir rohman nir rohim”, tetapi Habib al Ajam memiliki keyakinan yang kuat sementara Hasan al-Basri tidak cukup memiliki keyakinan untuk mengucapkan, ”Bismillahir rohman nir rohim” dan berjalan di air. Oleh sebab itu lebih baik memiliki “keyakinan yang kuat” dibanding memiliki ilmu. Hal ini sangat penting. Tetapi saat ini manusia selalu berlari setelah belajar cukup banyak. Apa keuntungannya? Kalian dapat belajar begitu banyak tetapi juga akan lupa begitu banyak. Tetapi “keyakinan” tak akan pernah meninggalkanmu. Keyakinan adalah inti dari ilmu pengetahuan. Kau bahkan dapat menanamnya dan ia akan tumbuh.

Suatu ketika ketika Habib al Ajami sedang duduk di khaniqah (tempat dzikir), takiyah (darwis pertapa). Hasan al-Basri datang berlari kepadanya, ”Ooh Habib, cepat sembunyikan aku”. Hasan berkata karena tentara Kalifah Hajaj sedang mengejar untuk menangkapnya. “Masuk kedalam dan sembunyikanlah dirimu”. Hasan masuk kedalam dan menemukan tempat untuk bersembunyi. Tak lama kemudian tentara datang dan menanyakan Habib, dimana Hasan al Basri,” Apakah engkau melihat Hasan al Basri?”. “Ya, saya melihat Hasan, ia ada didalam”. Tentara kemudian masuk kedalam rumah mencari Hasan al Basri, mereka mencari disetiap tempat tetapi tak menemukannya. 

“Apakah engkau tidak malu berbohong kepada kami!, dimana dia Hajaj akan menghukum orang yang tidak membantunya dan bekerjasama dengan Hasan al Basri, kau katakan dia didalam, apakah kau tidak malu berbohong seperti itu!”. ”Dia didalam, aku tidak berbohong dia memang didalam”. Sekali lagi tentara itu mencari didalam rumah, dan dengan sangat marah mereka pergi karena tak menemukan Hasan al Basri.

Kemudian Hasan al Basri Keluar, ”Oo Syaikh apa yang kau lakukan? Saya datang kepadamu meminta perlindungan, dan engkau mengatakan aku berada didalam”. “Ya Hasan, Ya Imam, najaut min sidqi-l-kalam”, engkau diselamatkan oleh kejujuranku. Aku katakan yang sebenarnya dan Allah melindungimu karena aku bicara jujur. Aku katakan, Ya Allah, ini adalah Hasan al Basri, hambamu, ia datang kepadaku dan meminta pertolongan untuk menyembunyikannya. Aku tak dapat melindunginya, hingga aku percayakan dia kepadaMU Ya Allah, dan aku percaya Engkau akan melindunginya. Aku hanya berkata seperti itu kepada Allah lalu membaca Ayat Kursi. 

Oleh sebab itu meskipun tentara telah mencari keseluruh penjuru dan telah memegang kepalanya, tetapi mereka tidak dapat melihatnya. Ya, jika Allah melindungi hambaNya, hal itu adalah benar. Awliya adalah wakil Allah swt. Jika seseorang datang kepada seorang wali dan memohon untuk perlindungan, maka ia akan melindunginya didunia dan diakhirat nanti. Inilah karamah Awliya, mukjizat para Nabi as dan mukjizat untuk para Awliya. Kita membutuhkan keyakinan itu. 

Sekali lagi, Hasan al Basri datang untuk menjenguk Habib al Ajami. Ketika Hasan tiba Habib membawa dua potong roti, meletakkannya didepan Hasan al-Basri sebagai penghormatan kepada tamunya. Ketika baru saja Hasan al Basri akan makan, seorang yang lapar datang dan meminta makanan untuk ridho Allah. Kemudian Habib mengambil kedua potong roti itu dari Hasan al Basri dan memberikannya kepada pengemis lapar itu. 

Kemudian Imam Hasan bertanya,”Oo Syaikh, engkau memang orang baik, tetapi bila engkau memiliki pengetahuan Syari’ah itu akan lebih baik untukmu Syaikh”. “Engkau harus tahu meski sedikit tentang Syari’ah, aku bermaksud mengatakan, seharusnya engkau memberikan satu potong roti saja untuk pengemis lapar itu dan satu potong roti untukku akan lebih baik daripada memberikan kedua potong roti tadi kepada orang itu”.

Habib al Ajami tidak berkata apapun. Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya, kemudian Syaikh menyuruh Hasan al Basri untuk melihat siapa disana. Ternyata seseorang membawa sekeranjang penuh makanan. “Bawa keranjang itu kesini”, “Sekarang makanlah, engkau tahu begitu banyak ilmu Syariah, tetapi sedikit keyakinan. dia berkata kepada Hasan al Basri. “Meski engkau memiliki begitu banyak ilmu Syari’ah, tetapi engkau memiliki begitu sedikit keyakinan. Kamu harus berusaha untuk memiliki lebih banyak lagi keyakinan.”

Karena Habib al Ajam memiliki “kepastian” apabila ia memberi seorang yang membutuhkan karena Allah, maka Allah “pasti” akan membalasnya lebih banyak dari yang ia berikan. “Engkau marah ketika aku memberikan dua potong roti kepada pengemis itu, coba lihat, jika aku tak memberikan kedua potong roti tadi, maka makanan ini tidak akan datang. Aku yakin ketika aku memberi, maka Allah akan mengembalikan paling sedikit sepuluh kalinya”.

Ya. Oleh karena itu keyakinan lebih banyak memberikan keuntungan kepada setiap orang dan kita sangat membutuhkan “keyakinan” itu. Bila tanpa keyakinan maka ilmu pengetahuan tak akan ada gunanya. Hal ini seperti hiasan ornament yang membolehkan seseorang berkata, ”Kami adalah dokter, kami adalah ilmuwan”.

Apakah “keyakinan” itu?. Seseorang mengatakan, ”Jika aku meletakkan tanganku didalam mulut naga dan hatiku berkata tidak apa-apa, maka aku tidak takut bahwa naga itu akan memakan tanganku”. “Bukan, bukan itu, saya yakin dengan pasti, bila Allah memberi perintah untuk menggigit, maka naga itu akan menggigit tanganmu. Oleh karena itu dengan keyakinan apabila Allah mengizinkan naga itu tidak akan menggigit, maka aku tidak takut meletakkan tanganku kedalam mulut naga itu”.

Imam Shaarani, salah satu dari hamba yang “tawakul”, seseorang yang percaya kepada Allah sepenuhnya, ia berkata,” suatu ketika aku sedang dalam perjalanan, dan waktu itu dekat saat maghrib. Aku melihat kubah dan aku berjalan mendekatinya. Ketika aku masuk, aku melihat kuburan disana dibawah reruntuhan bangunan. Tiba-tiba seorang petani berlari kearahku dan berkata,`”Oo ..Syaikh jangan tinggal disini, kau ikut kami saja, desa kami dekat sini. Disini adalah tempat yang sangat berbahaya, apalagi bila malam tiba. Begitu banyak ular yang sangat besar datang dan pergi, apabila ada orang yang tidur disini, pagi harinya kami hanya menemukan tulang mereka saja. Mereka memakannya, hanya tulangnya yang tersisa. Oleh karena itu kami memperingatkan engkau untuk tidak tidur disini”.

Kemudian Imam Shaarani berkata kepada petani itu, ” Oo… saudaraku, ketika engkau katakan hal itu, aku tak dapat pergi, aku tak dapat pergi walau hanya satu langkah saja. Karena ketika kalian memperingatkan aku akan ular besar itu, egoku begitu takutnya akan ular itu, dan tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu aku tidak dapat pergi bersama kalian. Aku tak dapat menerima tawaran kalian. Aku harus tidur ditempat ini malam ini. Ini lebih baik untuk mendidik nafsuku bahwa aku akan dimakan ular itu. Karenanya tak mungkin aku meninggalkan tempat ini.

“Oo.. Syaikh engkau mengetahui yang terbaik, engkau adalah Syaikh dan kami orang biasa. Kami mengundangmu dan kami juga telah memperingatkanmu akan ular besar itu”. “Ya, terimakasih banyak”. Kalian boleh pergi dan aku akan disini malam ini. Jika kalian menawariku ketempat kalian tanpa memperingatkanku tentang bahaya ular ini, tentu aku dengan senang hati akan menerima tawaran kalian. Tetapi ketika kalian mengatakan ular yang sangat berbahaya dan ini adalah tempat yang berbahaya, maka aku tak dapat pergi dari sini meski hanya satu langkah, pergilah kalian”.

Mereka akhirnya para petani itu pergi, dan pagi-pagi sekali mereka bergegas ketempat itu kembali dengan membawa kain untuk menguburkan tulang belulang Syaikh Shaarani. Tetapi mereka melihat Shayikh sedang duduk berdzikir dan ular besar itu berbaring melingkarinya disebelahnya seperti kayu. Ketika Syaikh berbaring mereka melingkarinya seperti kasurnya dan berkeliling menjaganya sambil berdesis. Ya, bila kalian mengetahui dan percaya Allah swt, maka Allah akan melindungimu. Jika kalian dekat dengan Allah, maka segala sesuatu akan dekat dan bersahabat denganmu.

Inilah “kepastian”, dan hal ini sangat Penting!”. Dan kita semua harus berusaha untuk menumbuhkan keyakinan kita. Tidak hanya mempelajari seluruh isi Al Quran dan Hadist Tetapi juga berusaha mendapatkan kekuatan rahasia dari huruf al Quran, hal ini akan memberikan “kepastian” untuk diri kita. Siapapun yang memiliki sesuatu, ia bisa memberi, jika dia tidak memiliki bagaimana dia akan memberi. Kalian meminta roti pada seseorang, jika ia punya ia akan memberikannya kepadamu, jika ia tak punya, bagaimana ia akan memberikannya kepadamu. 

Kepastian adalah merupakan sifat Nabi. Kepastian mereka telah membawa Malaikat Jibril turun dari surga kepada mereka. Dan begitu juga dengan kepastian Awliya. Anda bisa mengandalkan kepastian mereka. Semua Awliya memiliki kepastian dan anda tidak akan menemukan seorang Wali tanpa kepastian. Jadi kita memohon kepada Allah untuk mencari kepastian tersebut. Ada lampu yang hanya 5 watt ada yang 100 watt, sebanyak itu mereka meminta ‘kepastian’ kepada Allah, maka sebanyak itu yang akan diberikan. Kita sangat membutuhkan hal itu. Semoga Allah memberkahi dan memaafkan kalian, dan menjamin kepastianNya dari orang-orang yang disayangiNya, Amin

Wa min Allah at Tawfiq


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Kebutuhan Akan Kepastian. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Kebutuhan Akan Kepastian, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Kebutuhan Akan Kepastian dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top