Mistikus Cinta

0
Adab Dzulhijah
Imam Ghazali menyatakan dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, “Puasa sangat dianjurkan pada beberapa hari yang istimewa, di antaranya dapat ditemukan pada setiap tahun, yang lain ada pada setiap bulan, dan yang lainnya dalam setiap minggu. Yang dapat ditemukan pada setiap tahun setelah Ramadan adalah:
  • Hari ‘Arafah (9 Zulhijah)
  • Hari ‘Asyura (10 Muharam)
  • 10 hari pertama di bulan Zulhijah
  • 10 hari pertama di bulan Muharam

    Kita dianjurkan untuk berpuasa pada bulan-bulan yang dimuliakan, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.”

    Keutamaan 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijah

    “Demi Fajar! Dan malam yang sepuluh! Dan yang genap dan yang ganjil!” [89:1-3]

    Allah telah memberkati Jumat sebagai hari yang terbaik dalam seminggu, Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun, dan 10 hari terakhirnya sebagai hari-hari terbaik di bulan Ramadan. Serupa dengan hal itu Dia juga telah menyatakan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah sebagai masa yang penuh dengan kebaikan.

    Untuk membedakannya, Allah memanifestasikan kesucian rentang waktu “Sepuluh Malam” ini dalam Al Quran. Menurut sejumlah ulama dalam Islam, ‘Sepuluh Malam’ merujuk pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan atau sepuluh hari pertama di bulan Muharam atau lima hari ganjil terakhir di bulan Ramadan, yang juga termasuk, Malam Kemuliaan, Kedua Malam Idul Fitri dan Idul Adha, Mi’raj, ‘Arafah, dan Malam Pertengahan (Nisfu) Sya'ban. Tetapi sebagian besar ulama itu percaya bahwa ’Sepuluh Malam’ itu merujuk pada 10 malam pertama di bulan Zulhijah. Alasannya karena haji dilaksanakan selama kurun waktu tersebut.

    Ditambah lagi dengan adanya hari ‘Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijah. Sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah adalah hari-hari yang terpenting dalam setahun. Dan hari ‘Arafah adalah hari yang terpenting di antara yang sepuluh itu. Oleh sebab itu ia merupakan hari terpenting dalam setahun. Allah memberikan kemuliaan terbesar kepada hamba-Nya dengan jalan mengampuni mereka. Kebahagiaan di Akhirat sangat dipengaruhi oleh pencarian terhadap ampunan Allah, hari ‘Arafah adalah hari pengampunan. Rasulullah bersabda bahwa Muslim yang berpuasa di hari ‘Arafah akan diampuni dosa-dosanya sepanjang tahun.

    Selain itu masih ada lagi hari yang baik di bulan ini, yaitu Hari Raya Kurban atau Idul Adha yang jatuh pada 10 Zulhijah. Ini adalah hari di mana Nabi Ibrahim diuji untuk mengorbankan putra yang paling dicintainya, Nabi Ismail sehingga setiap Muslim dianjurkan untuk memperingati peristiwa ini dan mengambil hikmahnya.

    Rasulullah mengatakan bahwa sepuluh hari pertama ini adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, memohon, salat dan ibadah lainnya. Di laporkan dari Abu Hurayrah bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada hari-hari lain yang lebih disukai Allah daripada 10 hari pertama di bulan Zulhijah.” Puasa di siang harinya adalah sama dengan puasa setahun penuh, dan ibadah di malam harinya setara dengan ibadah di malam Laylat al-Qadar. (Tirmidzi dan Ibnu Majah).

    ‘Abd Allah ibn Mas’ud berkata, “Rasulullah bersabda, “Tidak ada hari lain dalam setahun di mana suatu perbuatan baik mempunyai nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan hari yang sepuluh (yakni 10 hari pertama di bulan Zulhijah).” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan berjihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Bahkan dibandingkan jihad di jalan Allah.” Haytami berkata, “Tabarani meriwayatkan hal itu dalam al-Mu’jam al-Kabir dan semua perawi hadis dalam rantai transmisinya adalah perawi yang sahih.

    Juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah selain di 10 hari pertama bulan Zulhijah. Jadi dalam periode ini perbanyaklah tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaha Ilallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar).” (HR. Tabarani)

    Hazrat Abu Qatadah al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa di hari ‘Arafah (9 Zulhijah). Beliau bersabda, “Puasa itu bisa menebus dosa-dosa kecil di tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang.” (Muslim). Puasa ini adalah Mustahab, tidak berdosa jika tidak melakukannya.

    Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tetap terjaga dan melakukan ibadah di malam Idul Fitri dan Idul Adha, hatinya tidak akan mati ketika hati orang-orang yang lain mati.” (Targhiib)

    Hazrat Muadz bin Jabal meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jannah (surga) adalah wajib bagi siapa yang tetap terjaga dengan niat beribadah pada malam 8, 9, dan 10 Zulhijah, malam Idulfitri dan malam Nisfu Sya'ban.” (Targhiib)

    Rasulullah bersabda, “Siapapun yang berpuasa pada tanggal 1 Zulhijah seolah-olah ia ikut dalam Jihad di jalan Allah selama 2.000 tahun tanpa istirahat sedikit pun. Bagi yang berpuasa di hari kedua seolah-olah ia telah beribadah kepada Allah selama 2.000 tahun dan puasa di hari ketiga seolah-olah ia telah memerdekakan 3.000 budak di masa Nabi Ismail. Untuk puasa di hari keempat ia menerima ganjaran sama dengan 400 tahun ibadah. Untuk hari kelima ganjarannya setara dengan memberikan pakaian kepada 5.000 orang yang telanjang, puasa di hari ke-6 setara dengan ganjaran bagi 6.000 syuhada dan puasa di hari ketujuh, semua pintu di ketujuh neraka menjadi haram baginya dan untuk puasa di hari kedelapan, seluruh pintu surga akan dibuka baginya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa puasa pada hari pertama Zulhijah bagaikan telah mengkhatamkan Al Quran sebanyak 36.000 kali. 

    Catatan: puasa-puasa tersebut adalah Mustahab, tidak ada keharusan untuk melakukannya. Selain itu kita juga dilarang berpuasa pada hari Tasyrik (hari ke-11, 12, dan 13 bulan Zulhijah) sebagaimana `Aisyah dan Ibnu `Umar meriwayatkan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan berpuasa pada hari Tasyrik, kecuali mereka yang tidak mampu berkurban.

    Doa selama 10 hari pertama bulan Dzulhijah

    Barangsiapa yang membaca doa berikut ini pada 10 hari pertama di Bulan Zulhijah, setiap hari 10 kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang (ia terpelihara dari dosa).

    Laa ilaaha illallaah `adadad-duhuur/Laa ilaaha illallaah `adada amwaajil buhuur/Laa ilaaha illallaah `adadan-nabaati wasy-syajar/Laa ilaaha illallaah `adadal qathri wal mathar/Laa ilaaha illallaah `adada lamhil `uyuun/Laa ilaaha illallaah khayrum mimmaa yajma`uun/Laa ilaaha illallaah min yawminaa haadzaa ilaa yawmi yunfakhu fish-shuur

    Idul Adha (Hari Raya Kurban)

    Salat Idul Adha adalah sunnah mu’akkad atau sunnah yang sangat dianjurkan dan lebih baik bila dikerjakan secara berjamaah. Dalam Mazhab Hanafi salat ini adalah wajib dan harus dilakukan oleh seluruh orang yang telah memenuhi persyaratan seperti ketika melakukan salat Jumat, yakni laki-laki dewasa yang berbadan sehat dan tinggal di daerah setempat di mana salat dilaksanakan.

    Selain itu disunnahkan atau diwajibkan dalam Mazhab Hanafi bagi setiap Muslim dewasa dan wanita untuk mengorbankan minimal seekor biri-biri atau kambing saat Iduladha. Ini bisa dilakukan setelah salat di hari pertama hari raya sampai dengan waktu matahari terbenam di hari kedua. Seseorang boleh mewakilkan pengorbanannya kepada orang lain, baik di tengah kehadirannya atau tidak.

    Dianjurkan pula untuk tidak makan sesuatu sampai selesai mengerjakan salat.

    Juga dianjurkan untuk mandi sebelum salat, kapan saja setelah subuh, bahkan jika seseorang tidak ikut melakukan salat.

    Dianjurkan bagi laki-laki untuk mengenakan pakaian terbaiknya dan menggunakan parfum. Disunnahkan untuk pergi ke Masjid lebih awal dan dengan berjalan kaki, kemudian pulang ke rumah dengan rute yang berbeda. Lebih disukai untuk salat berjamaah di lapangan terbuka daripada di masjid.

    Petunjuk Praktis Pelaksanaan Shalat Hari Raya
    1. Hukum shalat Hari Raya adalah sunnah
    2. Disunnahkan mandi sebelum berangkat ke masjid Memakai pakaian yang bagus
    3. Disunnahkan sarapan sebelum shalat Idul Fitri dan tidak sarapan ketika Idul Adha
    4. Bagi imam disunnahkan mengundur sedikit pelaksanaan shalat idul fitri untuk menyelesaikan zakat fitrah dan disunnahkan menyegerakan pelaksanaan shalat Idul Adha untuk segera menyembelih qurban.
    5. Hendaknya berjalan kaki sambil bertakbir terus-menerus mulai berangkat dari rumah hingga tiba di masjid
    6. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan sebelum khutbah
    7. Tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat Hari Raya
    8. Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada rakaat pertama diawali dengan takbiratul ihram dan 7 kali takbir. Raka'at kedua membaca takbir sebanyak lima kali (selain takbir saat berdiri)
    9. Di antara dua takbir boleh membaca tasbih, tahmid dan shalawat, sebagaimana riwayat dari Ibnu Mas'ud RA
    10. Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan
    11. Bacaan surat setelah fatihah pertama adalah surat Qaf dan rakaat kedua adalah surat al-Qamar. Selain itu Rasulullah SAW terkadang membaca surat al-A'la pada rakaat pertama dan al-Ghasiyah pada rakaat kedua
    12. Disunnahkan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulangnya
    13. Hendaknya semua muslim, laki-laki. perempuan, anak-anak, dewasa, maupun orang tua keluar ke masjid untuk mendengarkan khutbah sebagai syiar Islam. bagi wanita yang haid maka disediakan tempat husus diluar masjid untuk mendengarkan khutbah
    14. Apabila khatib lupa tidak bertakbir sebanyak 7 kali (setelah takbiratul ihram langsung membaca Fatihah) atau tidak bertakbir pada rakaat kedua sebanyak 5 kali, maka shalat tetap sah dan tidak perlu sujud sahwi.
    KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA DI BULAN DZULHIJAH

    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".

    Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".

    Macam-macam amalan yang disyariatkan:

    1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah

    Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".

    2. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arafah

    Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: "Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".

    Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun". (Hadits Muttafaq 'Alaih).

    Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".

    3. Takbir dan Dzikir pada Hari-hari Tersebut 

    Sebagaimana firman Allah Ta'ala: ".... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". (Al-Hajj : 28).

    Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma: "Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". (Hadits Riwayat Ahmad).

    Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhum keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya.

    Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu" Artinya : "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".

    Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah: "Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". (Al-Baqarah : 185)

    Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

    Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.

    4. Taubat serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa 

    Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

    5. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya" (Hadits Muttafaq 'Alaihi).

    6. Banyak Beramal Shalih 

    Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

    7. Disyariatkan pada Hari-hari itu Takbir Muthlaq

    Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

    8. Berkurban pada Hari Raya Qurban dan Hari-hari Tasyriq

    Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: 

    "Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". (Muttafaq 'Alaihi).

    9. Dilarang Mencabut atau Memotong Rambut dan Kuku bagi orang yang hendak Berkurban

    Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'Anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya".

    Dalam riwayat lain: "Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".

    Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah:

    " ..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". (Al-Baqarah : 196)

    Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

    10. Melaksanakan Shalat Iedul Adha dan mendengarkan Khutbahnya

    Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

    11. Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas

    Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.



    Jangan lupa dukung Mistikus Channel Official Youtube Mistikus Blog dengan cara LIKE, SHARE, SUBSCRIBE:




    Anda sedang membaca Adab Dzulhijah | Silahkan Like & Follow :
    | | LIKE, SHARE, SUBSCRIBE Mistikus Channel
    | Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.
    Sudah berapa lama Anda menahan rindu untuk berangkat ke Baitullah? Melihat Ka’bah langsung dalam jarak dekat dan berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah. Untuk menjawab kerinduan Anda, silahkan klik Instagram | Facebook.

    Post a Comment Blogger Disqus

     
    Top