Mistikus Cinta

0
Ats-Tsa'labi mengatakan, pada zaman Bani Israil ada seorang laki-laki yang bernama Isya. Dia termasuk salah satu ulama Bani Israil yang biasa membaca kitab-kitab terdahulu. Dalam kitab-kitab tersebut dia menemukan sifat-sifat Nabi Muhammad. Semua sifat tersebut dia kumpulkan dalam satu lembaran. Lembaran itu disembunyikannya di dalam sebuah peti yang terkunci. Kuncinya dia sembunyikan di tempat yang tidak pernah diperhatikan.

Dia memiliki seorang anak yang bernama Baluqiya. Menjelang Isya meninggal, dia berwasiat kepada anaknya untuk menjadi Qadhi (hakim) di kalangan Bani Israil setelahnya. Setelah beberapa lama ayahnya meninggal, tiba-tiba dia melihat sebuah peti. Peti itu didapatkannya terkunci. Dia tanyakan peti itu kepada ibunya. Ibunya menjawab, "Aku tidak tahu apa yang ada di dalam peti itu dan tidak tahu di mana kuncinya."

Selanjutnya, gembok peti itu dihancurkan oleh Baluqiya dan membuka petinya. Di dalamnya dia melihat ada lembaran yang bertuliskan tentang sifat-sifat Rasulullah, dan berkata bahwa dia adalah penutup para nabi dan para rasul, serta surga diharamkan bagi para nabi sehingga dia dan umatnya masuk terlebih dahulu.

Setelah selesai membacanya, dia bawa lembaran tersebut kepada ulama Bani Israil. Ketika mereka mendengar sifat-sifat Nabi Muhammad, mereka berkata kepada Baluqiya, "Bagaimana bapakmu mengetahui hal ini, tetapi dia tidak memberitahukannya kepada kami? Demi Allah, seandainya bukan karena engkau, pasti kuburannya akan kami bakar karena dia telah menyembunyikan berita tentang junjungan para Rasul kepada kami."

Selanjutnya, Baluqiya memutuskan untuk meninggalkan ibunya. Dia berkata, "Wahai ibu, aku telah menemukan bahwa Nabi akhir zaman akan diutus. Aku akan pergi dan tidak akan kembali hingga aku mengetahui beritanya. "Ibunya berkata, "Semoga Allah memenuhi cita-citamu."

Baluqiya pergi dari Mesir dalam rangka mencari Nabi Muhammad. Dia berkeliling dari timur sampai barat hingga sampai ke laut ketujuh. 

Dia menemukan berbagai keajaiban yang tidak dilihat oleh orang lain.
Di antara sejumlah keajaiban itu adalah apa yang dia lihat di sebuah jazirah.

Disana terdapat ular-ular besar yang mengatakan, "Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."

Baluqiya berkata kepada ular-ular itu, "Assalamualaikum" Ular-ular itu berkata kepadanya, "Kami belum pernah mendengar ucapan seperti itu." 

Baluqiya berkata,
"Ini adalah tradisi Adam."
Mereka bertanya, "Dari kelompok mana engkau?"
Baluqiya menjawab, "Saya termasuk golongan Bani Israil."
Mereka berkata, "Kami tidak mengetahui Adam dan Bani Israil." 

Baluqiya berkata, "Jika demikian, bagaimana kalian mengetahui Muhammad?"

Mereka menjawab, "Semenjak kami diciptakan Allah dengan sifat ini, kami diperintahkan untuk mengatakan hal itu. Kami adalah ular-ular Jahannam." 

Baluqiya bertanya, "Bagaimana berita tentang Jahannam?" Mereka menjawab, "Jahannam itu hitam dan berbau busuk. Dalam setiap tahun bernapas dua kali. Sekali pada musim kemarau, itulah panas dari dirinya. 

Dan sekali lagi di musim dingin. Itulah kebaikan dari dirinya."

Setelah itu, Baluqiya memasuki sebuah jazirah yang lain. Di sana, dia menemukan ular-ular yang lebih besar dari yang pernah dia lihat pertama kali, seperti pangkal pohon kurma. Di sekitar ular-ular tersebut, dia melihat ada ular kuning. Apabila ular-ular besar itu berjalan, maka ular-ular kuning berjalan di sekelilingnya. Ketika ular-ular itu melihat Baluqiya, mereka berkata, "Siapa engkau?"

Baluqiya menjawab, "Saya Baluqiya dari Bani Israil." 

Mereka berkata, "Kami belum pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya. Aku dikuasakan atas semua ular yang ada di dunia. Seandainya aku tidak ada, pasti ular-ular memaksa Bani Israil untuk lari dan membunuh mereka dalam satu hari saja."

Baluqiya melanjutkan perjalanan hingga dia sampai di suatu tempat yang disana terdapat pohon kurma dari emas. Apabila matahari muncul menyinarinya, maka ia mengeluarkan sinar seperti kilat sehingga tidak ada mata yang mampu untuk melihatnya karena kuat sekali kilauannya. Di jazirah ini juga ada pepohonan yang besar buahnya. Baluqiya mengulurkan tangannya untuk mengambil buah dari salah satu pohon tersebut. Pohon itu menyeru, "Menjauh dariku hai khati' (yang suka bersalah)!

Baluqiya pun mundur dan duduk. Tiba-tiba ada satu rombongan turun dari langit. Di tangan mereka ada pedang terhunus. Ketika mereka melihat Baluqiya, mereka berkata, "Bagaimana engkau sampai ke tempat ini?" 

Baluqiya berkata, "Saya dari Bani Israil, nama saya Baluqiya. Lalu kalian siapa?" 

Mereka menjawab, "Kami adalah kaum jin yang beriman. Asalnya kami berada di langit. Kemudian Allah menurunkan kami ke bumi. Kami diperintahkan untuk memerangi jin kafir di muka bumi. Sekarang kami akan memerangi mereka."

Baluqiya pergi meninggalkan mereka. Tiba-tiba ada malaikat bertubuh besar yang sedang berdiri. Tangan kanannya ada di timur, sedangkan tangan kirinya ada di barat. Dia berkata, "Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."

Baluqiya mendekati dan mengucapkan salam kepadanya. Dia berkata, "Siapa engkau?" 

Baluqiya menjawab, "Aku adalah seorang laki-laki dari Bani Israil. Aku pergi dalam rangka mencari penutup para nabi. Lalu siapa engkau?" 

Dia menjawab, "Aku adalah malaikat yang ditugaskan mengurusi gelapnya malam dan terangnya siang." Baluqiya berkata, "Apa dua baris yang ada di keningmu?" 

Dia menjawab, "Dalam dua baris tersebut tertulis tambahan malam dan siang serta pengurangannya. Aku tidak menahan malam kecuali dengan ukuran yang ditentukan."

Baluqiya melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ada malaikat yang sangat besar. Dia berkata, "Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah."

Baluqiya mengucapkan salam kepadanya, malaikat itu pun menjawabnya. Baluqiya bertanya, "Siapa engkau?" 

Dia menjawab, "Aku adalah malaikat yang ditugaskan menangani angin. Aku tidak akan melepaskan angin kecuali atas seizin Allah. Aku menggenggam laut. Seandainya tidak demikian, tentu semua yang ada di muka bumi akan binasa."

Baluqiya meninggalkannya, dia melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke gunung Qaf. Ternyata ia terbuat dari yakut hijau. Ia mengelilingi dunia seluruhnya. Karena pancaran sinar gunung tersebut, langit terlihat berwarna biru. Allah menugaskan penanganan gunung ini kepada seorang malaikat. Apabila Allah hendak mengguncangkan sebagian bumi. Dia memerintahkan malaikat tersebut untuk menggerakkan lapisan yang tersambung dari belahan bumi tersebut ke gunung Qaf. Apabila Allah hendak menenggelamkan sebuah desa beserta isinya, maka Dia mengizinkan kepada malaikat itu untuk memotong lapisan kampung tersebut dari bumi.

Baluqiya bertanya kepada malaikat itu, "Apa yang ada di belakang gunung ini?"
Dia menjawab, "Di belakang gunung ini ada 40.000 kota selain kota-kota dunia.
Kota itu terbuat dari emas dan perak.
Tidak ada siang dan malam. 

Penduduknya adalah para malaikat yang tidak pernah lelah bertasbih kepada Allah."
Baluqiya bertanya, "Apa di belakang kota-kota itu?" 

Dia menjawab, "Dibelakangnya ada 70.000 hijab (penghalang). Setiap hijab besarnya seukuran dunia. Tidak ada seorang pun yang mengetahui di balik hijab itu, kecuali Allah."

Baluqiya meninggalkan malaikat itu, dia melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sebuah gunung. Disana ada malaikat-malaikat yang rupa mereka seperti kijang. Baluqiya mengucapkan salam kepada mereka, mereka pun membalasnya. Baluqiya bertanya kepada mereka, "Siapa kalian?" 

Mereka menjawab, "Kami adalah sebagian malaikat Allah. Di sini kami beribadah kepada Allah semenjak kami diciptakan."

Lalu Baluqiya bertanya kepada mereka tentang gunung besar yang menghadap kepada mereka, yang menyinarkan cahaya seperti matahari. Mereka menjawab, "Itu adalah gunung dunia yang terbuat dari emas. Semua logam emas yang ada di bumi bersumber darinya."

Baluqiya meninggalkan mereka, dia melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke sebuah laut yang luas. Di sana ada dua ikan yang sangat besar. Dia mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka pun membalasnya. Keduanya bertanya kepada Baluqiya, "Siapa engkau, wahai makhluk Allah?" 

Dia menjawab, "Aku Baluqiya, dari Bani Israil. Aku datang dalam rangka mencari Nabi Muhammad, penutup para nabi. Apakah kalian memiliki sesuatu yang bisa aku makan?" 

Karena kegaiban Allah, mereka memberinya roti. Dimakannya roti itu dan setelahnya tidak merasa lapar lagi.

Selanjutnya, dia sampai ke sebuah jazirah. Di sana dia melihat seekor burung yang sangat besar, indah rupanya dan memiliki sesuatu yang bisa membuat akal tercengang karena keindahannya. Burung itu ada di atas sebuah pohon yang dibawahnya ada hidangan. Baluqiya mendekati burung itu, mengucapkan salam dan bertanya, "Siapa engkau?" 

Burung itu menjawab, "Aku adalah salah satu malaikat yang ada di surga. Aku diutus oleh Allah mengirim hidangan ini kepada Adam dan Hawa ketika keduanya berkumpul di Gunung Arafah. Keduanya telah menyantap sesuatu darinya. Lalu Allah menyuruhku untuk meletakkan hidangan tersebut disini dan aku berdiam diri di dekatnya hingga hari kiamat. Dia juga memerintahkanku untuk memberikan sesuatu darinya kepada orang yang datang kesini."

Maka Baluqiya memakan sesuatu dari hidangan itu, tetapi sedikitpun hidangan itu tidak berkurang, ia kembali seperti keadaannya semula.

Baluqiya bertanya kepada sang burung tentang hidangan itu.
Dia menjawab, "Sesungguhnya makanan dunia akan berkurang dan berubah bila didiamkan. Sementara makanan surga tidak akan pernah berkurang dan berubah."

Baluqiya bertanya, "Apakah ada seseorang yang pernah memakan hidangan ini?"

Dia menjawab, "Ada, sesungguhnya Khidhr Abdul Abbas, terkadang datang ke sini dan memakan hidangan ini. Setelah itu dia pergi lagi."

Mendengar itu, Baluqiya memutuskan diri tinggal di tempat itu untuk bertemu Khidhr, minum kopi bersamanya dan menanyakan berbagai hal kepadanya.

Pada suatu hari, ketika Baluqiya sedang duduk menunggu, tiba-tiba Khidhr mendatanginya dengan mengenakan pakaian putih. Baluqiya berdiri menyambut dan mengucapkan salam kepadanya. Khidihr membalasnya. 

Baluqiya berkata, "Wahai Abdul Abbas, aku telah berpergian dalam rangka mencari Nabi akhir zaman hingga akhirnya aku sampai ke tempat ini. Aku diam di sini menunggu kedatanganmu agar engkau memberitahuku tentangnya."

Khidhr menjawab, "Hai Baluqiya, sesungguhnya nabi akhir zaman tidak akan muncul saat ini, dan engkau tidak akan bertemu dengannya sekarang ini."

"Hai Baluqiya, tahukah engkau berapa jarak antara kamu dengan ibumu?"
Baluqiya menjawab, "Tidak tahu."

Khidhr berkata, "Jaraknya adalah 50 tahun. Maukah kamu aku letakkan kamu di hadapan ibumu?" Baluqiya menjawab, "Ya." 

Khidhr berkata, "Pejamkanlah kedua matamu."

Baluqiya berkata, "Aku pejamkan kedua mataku, aku tidak tahu apa-apa kecuali ibuku telah ada di sampingku. Aku buka kedua mataku, lalu aku mengucapkan salam kepada ibuku."

Kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibuku, siapakah yang telah membawaku kepadamu?" 

Ibu Baluqiya menjawab, "Aku melihat seekor burung putih telah meletakkanmu disini. Lalu dia menghilang dengan cepat." 

Baluqiya menceritakan semua kisahnya kepada ibunya. Kemudian dia pergi kepada Bani Israil dan mengucapkan salam kepada mereka, mereka pun membalasnya. 

Mereka bertanya tentang keadaannya sewaktu kepergiannya. Dia ceritakan kepada mereka dan semua keajaiban yang dilihatnya dicatat oleh mereka selama 40 tahun. 

Mereka tidak bisa menghitung keajaiban yang pernah dia lihat. Menurut sebuah riwayat, Baluqiya berumur 1.000 tahun.


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Kisah Baluqiya Dari Bani Israil. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Kisah Baluqiya Dari Bani Israil, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Kisah Baluqiya Dari Bani Israil dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top