Mistikus Cinta

0
Menyebut nama Syekh Abdul Hamid atau sering kita sebut Datu Abulung pasti dibenak kita terkenang akan seorang ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham Wihdatul Wujudnya, sepak terjang beliau memang tak banyak yang mengetahui karena beliau tidak ada meninggalkan kitab karangan seperti ulama-ulama lainnya, keilmuan beliau cuma dapat kita ketahui secara lisan dari mulut ke mulut atau dari pewaris para murid beliau, banyak pendapat yang berbeda tentang kisah beliau ada yang menyatakan bahwa ilmu beliau salah atau manyalah (bahasa Banjar) tapi sebagian masyarakat Banjar bahkan hampir seluruhnya menyatakan bahwa Datu Abulung ini adalah seorang wali Allah, terlepas dari segala kontroversi yang ada riwayat beliau sangat dicari oleh sebagian masyarakat Banjar.

Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan pada abad ke 18 setidaknya ada tiga tokoh ternama di Kerajaan Banjar selain Datu Suban dan para muridnya yang sakti mandraguna, pada masa itu para ulama Banjar memang sangat terkenal dengan segala karamah dan kesaktiannya, diantara tiga orang tokoh ternama dan terkenal tersebut adalah:
  1. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan
  2. Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari atau Datu Nafis
  3. Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung
Dan sosok Datu Abulung inilah yang penuh misteri hingga saat ini, pada masa itu pemerintahan kerajaan diperintah oleh Sultan Tahlilullah, saat itulah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Hamid muda diberangkatkan oleh kerajaan Banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi kerajaan Banjar, mereka diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah, tercatat Datu Kalampayan belajar kepada beberapa orang guru (baca riwayat Datu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari), sedangkan Datu Abulung juga belajar kepada beberapa orang guru yang sayangnya tidak tercatat karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru-guru pengarang, sepulangnya dari menuntut ilmu ditanah suci Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya di Mekkah kepada masyarakat sekitarnya, diantara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawuf, namun ilmu tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat, Datu Abulung mengajarkan bahwa;

Tiada yang maujud hanya Dia
Tiada maujud lain-Nya
Tiada aku melainkan Dia
Dia adalah aku
aku adalah Dia

Dalam pelajaran Syekh Abdul Hamid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat), sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum yaitu Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah, Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu bagi-Nya, ajaran Datu Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid Al-Bustami, Husein bin Mansyur Al-Hallaj yang kemudian memasuki Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin di Sumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.

Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut, bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke telinga Sultan, sebelum Datu Abulung dipanggil sultan terlebih dahulu minta pendapat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syekh Muhammad Arsyad) tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah beberapa kitab kemudian diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama, adalah kewajiban Ulama dan Umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur-unsur yang membahayakan, jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkannya, Menolak mafsadah (keburukan) lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat. Melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum malah terkadang wajib (Zafri Zam Zam, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, 1979, hal 13). 

Berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu Abulung, salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatangi Datu Abulung setelah sampai ditempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau, satu riwayat menceritakan pemanggilan tersebut, prajurit itu berkata Hai Syekh Abdul Hamid... anda dipanggil baginda Sultan, kemudian dijawab oleh Datu Abulung "Syekh Abdul Hamid tidak ada yang ada hanya Allah... mendengar hal tersebut prajurit tersebut mengadukan kepada sultan, kemudian sultan menyuruh kembali dan memanggil "Allah" tersebut, setelah sampai ditempat Datu Abulung prajurit itu kembali berkata "hai Allah anda dipanggil baginda Sultan" yang kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung "Allah tidak ada yang ada hanya Nur Muhammad" mendengar hal itu prajurit kembali ke kerajaan dan mengatakan hal tersebut kepada Baginda Sultan..kemudian sultan berkata panggil ketiganya Syekh Abdul Hamid, Allah dan Nur Muhammad, barulah setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan sultan barulah Datu Abulung berkunjung keistana, ditengah perjalanan menuju istana dipasanglah perangkap yang apabila terpijak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ketubuh orang yang menginjaknya, saat itu terbukti kebenaran ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung, ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya di udara dan berhenti tepat dibelakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya. 

Setelah sampai di istana dan terjadi tanya jawab, sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung, kemudian beliau berucap 'Ashadu alla ilahaillallah' tiba-tiba tubuh beliau menghilang, kemudian terdengar lagi suara "wa ashadu anna muhammadarrasulullah'' timbullah kembali badan beliau, semua orang kagum melihat hal tersebut, tapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Syekh Abdul Hamid Abulung dengan dimasukkan kedalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri, dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai ke dasar sungai.


Tanpa diketahui oleh semua orang suatu keanehan terjadi apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan timbul dari permukaan sungai, dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut dan melakukan sholat, setelah selesai sholat maka secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali kedasar sungai, pada suatu malam menjelang subuh sepuluh orang pencari ikan yang sampai pada sekitar tenggelamnya Syekh Abdul Hamid lamat-lamat mereka mendengar suara azan, perlahan-lahan mereka mendekati sumber suara azan tersebut dari kejauhan mereka melihat keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut, sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama islam, karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakan orang sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh, setelah selesai belajar orang sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan.

Setelah direndam dalam air Datu Abulung tidak juga mati dan akhirnya diketahui kerajaan maka akhirnya Datu Abulung kembali dibawa kekerajaan, dihadapan sultan akhirnya Datu Abulung mengatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apapun kecuali dengan senjata yang ada di dinding rumah beliau dan menancapkannya didalam daerah lingkaran yang beliau tunjukkan di belikat beliau, setelah sholat dua rakaat, senjata tersebut ditancapkan dibelikat beliau sudah ditandai tersebut maka memancarlah darah segar dari tempat itu dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat ''LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH"' innaa Lillaahi wa Innaa ILaihi Rajiuun.


Setelah sekian lama kubur beliau akhirnya ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Alm. Tuan Guru H. Muhammad Nor Tangkisung yang juga diyakini adalah seorang Kekasih Allah letaknya sebelah hilir dari Kampung Dalam Pagar, dan sekarang dipelihara makamnya oleh warga setempat, selain itu keanehan makam yang terletak dipinggir sungai itu berapa kali tergerus air sungai dan turun kebawah tapi setelah itu makam itu naik dengan sendirinya dan tanah dibawahnya juga mengikuti makam tersebut....walllahu a'lam....

Kalau ada kekurangan dan kesalahan al faqir mohon maaf sebesar besarnya kepada saudara-saudaraku semua, wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum warahmatullahi wabarakuh....


Sumber: Datu Datu Terkenal Kalimantan (Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan)



https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

DMCA.com
Anda sedang membaca Syekh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung). Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Syekh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung), namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Syekh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung) dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya, apabila tidak mau menyebut sumber dari BLOG. Mohon jangan COPAS. Jika menurut anda artikel ini bermanfaat mohon bantu share. Untuk menyambung tali silaturahmi silahkan Liked FB Fanpage Mistikus Cinta - Follow Twitter @Mistikus_Sufi - Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta. Terima kasih.

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top