Mistikus Cinta

0
Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani dalam Mercy Oceans (Book Two)

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani bercerita mengenai Grandsyaikhnya Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri yang merupakan seorang Wali Kutub alam semesta selama 40 tahun. Tak seorang pun dapat meraih derajat kewalian sebelum mencapai derajat rendah hati. Hal ini maksudnya jelas: menolak segala jabatan untuknya, tidak mempunyai jabatan, bagaikan bumi di bawah kaki semua orang. Jika tidak ada bumi tak seorang pun bisa berdiri.

Wali membawa semua orang. Syaikh Abu Ahmad berkata mengenai egonya, “Jika para pengikutku dan orang-orang desa mengenalku seperti aku mengenalinya, mereka tidak akan mengizinkan aku tinggal bersama mereka, bahkan mereka akan melempariku dengan batu dan mengusirku.” Begitu rendah hati, beliau melihat dirinya sebagai orang yang mempunyai ego terburuk, dan berpikir, “Allah menjaga egoku, tetapi tetap saja dia yang terburuk.” Beliau memandang derajat tinggi yang disandangnya berasal dari Allah semata, bukan dari dirinya sendiri.

Abu Bakar ash-Shiddiq ra mempunyai derajat tertinggi di antara semua ummat setelah Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang paling benar dan jujur dalam iman dan keyakinannya. Rasulullah bersabda, “Jika iman seluruh ummatku ditimbang dengan imannya Abu Bakar, maka imannya Abu Bakar akan lebih berat.” Tetapi Abu Bakar ra berkata kepada dirinya, “Wahai Shiddiq yang tidak patuh, dalam pandanganku, apapun yang mereka katakan, kamu harus bertaubat dan memohon ampun.” Di mana kita ketika memandang diri kita sendiri? Derajat terendah adalah derajat yang tertinggi. Abu Yazid k berkata, “Tak seorang pun dapat mencium realitas iman kecuali dia memandang level egonya lebih buruk daripada Fir’aun, Namrud, Setan dan Abu Jahal.” Kita mungkin akan berkata, “Baiklah, Aku terima. Aku memang seperti itu, egoku yang terburuk.” Tetapi ada sejumlah ujian untuk itu. Jika ada yang memanggil kita dengan sebutan, “Hei Keledai!” kemudian kita merasa geram kepada mereka dan menyahut, “apa!”, berarti kita telah membuktikan bahwa kita memang keledai.

Menghormati semua orang adalah tugas kita, ini adalah ajaran agama kita. Jalan Sufisme yang sejati memerintahkan kita untuk menghormati semua orang. Seseorang bisa saja tidak peduli dalam jalannya atau mempunyai karakter yang tidak baik dan bisa jadi akan menyerangmu. Kalian tidak perlu untuk turun ke tingkatannya dan berkelahi dengannya. Syaikh Saadi Syirazi k, seorang penyair Sufi bercerita dalam suatu kisah. Suatu ketika ada seseorang yang digigit seekor anjing.

Dia tidak bisa tidur semalaman karena kesakitan. Anaknya bertanya apa yang telah menimpa dirinya. Dia berkata “Hari ini seekor anjing menggigitku,” anak itu bertanya, “Mengapa engkau tidak menggigitnya kembali?” “Oh anakku, Aku bisa saja menahan sakitku, tetapi Aku tidak akan menjadi anjing seperti dia.” Ketika kita menerima bahwa ego kita bagaikan binatang buas, kalian tidak akan marah dengan siapa pun. Itu adalah kerendahan hati dan merupakan dasar bagi pembangunan karakter baik.


Kumpulan Suhba Maulana Syaikh Muhammad Nazhim Adil al-Haqqani dalam Mercy Oceans - Samudera Ampunan (Book Two)


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Hei Keledai!. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Hei Keledai!, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Hei Keledai! dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Silahkan kunjungi Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top