Mistikus Cinta

0
Fatahillah
Fatahillah adalah tokoh yang dikenal mengusir Portugis dari Sunda Kelapa dan memberi nama "Jayakarta", yang kini menjadi kota Jakarta. Ia dikenal juga dengan nama Falatehan. Ada pun nama Sunan Gunung Jati dan Syarif Hidayatullah, yang sering dianggap orang sama dengan Fatahillah, kemungkinan besar adalah mertua dari Fatahillah.

Ada beberapa pendapat tentang asal Fatahillah. Satu pendapat mengatakan ia berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang kemudian bersamaan dengan datangnya Bangsa Portugis di Malaka ia pun lalu ke tanah Jawa, atau Demak tepatnya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah putra dari raja Makkah (Arab) yang menikah dengan putri kerajaan Pajajaran. Pendapat lainnya lagi mengatakan Fatahillah dilahirkan pada tahun 1448 dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.

Namun sebenarnya, Fatahillah yang bernama lahir Fadilah Khan murni tidak berasal dari Nusantara. Beliau pernah ikut berperang bersama pasukan Turki untuk menduduki Konstantinopel. Setelah pendudukan Konstantinopel dan merubahnya menjadi Istambul, beliau diundang untuk bergabung untuk membesarkan Kesultanan Demak. Ia diundang agar bisa membawa para ahli pembuat meriam untuk bergabung dengan Kesultanan Demak untuk menghadapi Portugis. Tidak satupun kerajaan di Nusantara di masa itu yang memiliki tekhnologi pembuatan meriam.

Ada sumber sejarah yang mengatakan sebenarnya ia lahir di Asia Tengah (kemungkinan di Samarqand), menimba ilmu ke Baghdad, dan mengabdikan dirinya ke Kesultanan Turki, sebelum bergabung dengan Kesultanan Demak.


Sunan Gunung Jati = Fatahillah?

Sunan Gunung Jati berbeda dengan Fatahillah. Sunan Gunung Jati adalah seorang Ulama Besar dan Muballigh yang lahir turun-temurun dari para Ulama keturunan cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain. Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah, putra Syarif Abdullah Maulana Huda, putra Nurul Alam, putra Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah Musafir besar dari Gujarat, India yang memimpin putra-putra dan cucu-cucunya berdakwah ke Asia Tenggara, dengan Champa (pinggir delta Mekkong, Kamboja sekarang) sebagai markas besar. Salah seorang putra Syekh Jamaluddin Akbar (atau lebih dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar) adalah Syekh Ibrahim Akbar (ayahanda Sunan Ampel).

Bakat kerohanian dan kepemimpinan Syekh Mawlana Akbar tampak jelas turun ke dalam diri Sunan Gunung Jati. Sehingga bagi kaum sufi Sunan Gunung Jati adalah pemimpin spiritual hingga kini untuk wilayah nusantara, sedangkan bagi sejarawan Sunan Gunung Jati adalah peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.

Sedangkan Fatahillah adalah seorang Panglima Perang Pasai, yang bernama asli Fadhlulah Khan, orang Portugis melafalkannya sebagai Falthehan. Ketika Pasai dan Malaka direbut Portugis, beliau hijrah ke tanah Jawa untuk memperkuat armada kesultanan-kesultanan Islam di Jawa (Demak, Cirebon dan Banten) setelah gugurnya Raden Abdul Qadir bin Yunus (Pati Unus, menantu Raden Patah Sultan Demak I).

Menurut Saleh Danasasmita sejarawan Sunda yang menulis sejarah Pajajaran dalam Bab Surawisesa, Fadhlullah Khan dinyatakan masih berkerabat dengan Walisongo, karena kakek buyut beliau Zainal Alam Barakat adalah adik dari Nurul Alam Amin (kakek Sunan Gunung Jati) dan kakak dari Ibrahim Zainal Akbar (ayahanda Sunan Ampel) yang semuanya adalah putra-putra Syekh Maulana Akbar dari Gujarat. Ia dinyatakan sebagai putra dari Mahdar Ibrahim bin Abdul Ghafur bin Barkah Zainal Alim atau Zainal Alam Barakat.

Beliau disebutkan pula sempat berguru kepada seorang ulama besar Aceh pada waktu itu, Syekh Abdul Rauf Singkel bin Ali al-Fansury atau lebih dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala. Dan ketika beliau menginjak dewasa, oleh sang Guru Fatahillah diperintahkan untuk pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agamanya selama tiga tahun.

Sekembalinya dari Makkah, beliau mengetahui bahwa Bangsa Portugis telah menguasai Malaka, untuk itu beliau kemudian sempat memimpin pasukan Pasai menggempur pertahanan Portugis di Malaka pada tahun 1511. Namun, kemudian beliau datang ke Demak untuk meminta bantuan, dan tentu saja diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Trenggana, penguasa Kesultanan Demak pada waktu itu.

Ada 2 kemungkinan datangnya Fadhlullah Khan dari Pasai. Kemungkinan Pertama beliau sudah menjadi anak buah Pati Unus dan bergabung dengan pelarian Malaka ketika Pati Unus memimpin armada Islam tanah Jawa menyerang Malaka pada tahun 1513 dan 1521, tetapi beliau termasuk yang selamat dalam perang besar tahun 1521 (seperti Raden Abdullah putra Pati Unus), setelah Armada Gabungan kembali ke tanah Jawa, beliau diangkat menjadi pengganti Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam Gabungan tanah Jawa dan dinikahkan oleh Sunan Gunung Jati dengan putri beliau, Ratu Ayu janda Pati Unus untuk memperkuat kekerabatan.

Kemungkinan ke 2 adalah, beliau tidak ikut perang Malaka pada tahun 1513 dan 1521, tapi sudah hijrah lebih dulu ke tanah Jawa setelah jatuhnya Pasai pada tahun 1512. 9 tahun kemudian beliau diangkat oleh Sunan Gunung Jati menggantikan Pati Unus yang gugur setelah dinikahkan dengan Ratu Ayu, putri Sunan Gunung Jati yang ditinggal Pati Unus.

Dari analisa tersebut di atas kemudian mengkompromikan 2 kemungkinan yakni setelah jatuhnya Malaka (1511) kemudian Pasai (1512), bisa dikatakan seluruh tokoh besar dan para Panglima Muslim dari Pasai dan Malaka yang selamat kemudian hijrah ke tanah Jawa sebagai satu-satunya basis Kerajaan Islam yang masih eksis (di Asia Tenggara) dan sangat aneh bila kemudian tidak ikut bergabung dengan Armada Islam tanah Jawa pimpinan Pati Unus dalam ekspedisi 1521 yang sangat besar, selain karena dendam yang belum terlampiaskan terhadap Portugis, juga para Tokoh dan Panglima Pasai dan Malaka (yang dalam pengasingan di tanah Jawa) bila tak ikut kewajiban Jihad pasti akan dikucilkan.

Di Demak dan Cirebon, Fadhullah Khan mendapat gelar sebagai Wong Agung Pasai, sedangkan di Banten beliau mendapat gelar Tubagus Pasai.

Ketika Pati Unus gugur dalam perang laut dahsyat untuk merebut kembali Malaka dari tangan Portugis, Fadhullah Khan diangkat oleh Sunan Gunung Jati menggantikan Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam di tanah Jawa.

Kegagalan ekspedisi Malaka (1521) membuat kesultanan-kesultanan Islam di tanah Jawa mengambil sikap defensif dan memancing Portugis untuk datang. Sehingga Bulan Juni 1527, Portugis yang telah merasa di atas angin mencoba menerobos Sunda Kelapa, langsung diluluhlantakkan oleh armada Islam dibawah pimpinan Fatahillah, kemenangan besar ini kemudian dirayakan sebagai hari lahir Jayakarta dan kemudian disebut Jakarta. Fadhullah Khan atau Tubagus Pasai diberi gelar baru yaitu Fatahillah (yang berarti Kemenangan Allah SWT).

Fatahillah juga berperan sangat besar pada penaklukkan daerah TALAGA sebuah negara kecil yang dikuasai oleh seorang raja Budha bernama Prabu Pacukuman. Kemudian kerajaan Galuh yang hendak meneruskan kebesaran Pajajaran lama, dengan rajanya yang bernama Prabu Cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal yaitu Aria Kiban. Tetapi Galuh tak dapat membendung kekuatan Cirebon, akhirnya raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu.

Setelah kemenangan demi kemenangan diraih, Fadhullah Khan diangkat Sunan Gunung Jati sebagai Penasehat Kesultanan Cirebon, sedangkan kota Jayakarta diserahkan ke menantu Fadhullah Khan, yaitu Tubagus Angke. Setelah wafatnya Tubagus Angke, tampuk pemerintahan diserahkan kepada putra beliau yaitu Pangeran Jayakarta yang kemudian pada tahun 1619, karena kalah dalam konflik dengan VOC, meninggalkan Jayakarta yang sebelumnya dibumi hanguskan terlebih dahulu.

Fadhullah Khan kemudian menjadi pemegang jabatan/penjabat raja karena ketiga putra Syarif Hidayatullah yaitu Pangeran Pasarean, Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana, meninggal sebelum sempat naik tahta. Sedangkan Pangeran Hasanudin telah naik tahta sebagai sultan Banten. Fadhullah Khan sendiri sebelumnya telah ditunjuk menjadi wakil sultan, saat Sunan Gunung Jati sibuk berdakwah. Dan ia juga ditunjuk sebagai pelindung Pangeran Dipati Carbon, putra Pangeran Pasarean yang sebelumnya akan diangkat menjadi pengganti Sunan Gunung Jati. Namun Pangeran Dipati Carbon juga meninggal sebelum sempat naik tahta.

Fadhullah Khan, setelah kematian Sunan Gunung Jati, hanya memerintah selama 2 tahun atas nama Pangeran Dipati Carbon sebelum kemudian meninggal pada tahun 1570, oleh karena itu namanya tidak disebut sebagai raja Cirebon dalam silsilah resmi raja-raja Cirebon, justru Pangeran Dipati Carbon yang disebut. Apalagi Fadhullah Khan hanya menantu dan sekedar penjabat raja.

Dari pernikahannya dengan Ratu Ayu, lahirlah Ratu Nawati Rarasa yang kemudian menikah dengan putra Pangeran Pasarean, Dipati Pakungja atau Dipati Ingkang Seda Ing Kemuning, yang kemudian memiliki anak bernama Pangeran Agung Pakung Raja, yang setelah wafatnya Sunan Gunung Jati menjadi penerus kepemimpinan di Cirebon.

Fadhullah Khan sebelum menikahi Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati yang menjadi janda akibat meninggalnya Pati Unus. Sebelumnya ia menikah dengan Ratu Pembayun putri Sultan Trenggana, yang juga menjadi janda dari Pangeran Jayakelana.


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Fatahillah. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Fatahillah, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Fatahillah dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top