Mistikus Cinta

2
Tasawuf pada masa Rasulullah saw, adalah realita tanpa nama, tasawuf saat ini, adalah nama tanpa realita, kecuali hanya sedikit yang menjalankan realitanya dalam bimbingan Mursyid yang Sejati, Mursyid Hakiki.

Tasawuf bukan membaca buku-buku Tasawuf dan mengkaji dari berbagai teori tasawuf seperti Ibnu Arabi, Syadzili, Qodiri, Mawlana Jalaluddin Rumi seperti banyak kajian tasawuf diberbagai Masjid saat ini.

Karena hal ini hanya baru mempelajari mengenal tasawuf bukan bertasawuf.

Sungguh sangat berbeda jauh antara bertasawuf dan mempelajari buku atau hadir dalam ceramah tasawuf jauh, dampak dan pemahamannya bagai setetes air dibanding samudera.

Bertasawuf adalah hubungan antara Guru dan Murid, tasawuf adalah melaksanakan dzikir yang diberikan Syaikhnya dan mengambil Mursyid dengan berbaiat.

Bertasawuf adalah adalah bersama para guru dalam suhbah (jamaah asosiasi) dengan Mursyid yang juga merupakan Wali Allah, maka ia akan mendapatkan ilmu sekaligus Hikmah.

“Ilmu” seperti pesawat terbang yang indah bentuknya. “Hikmah” seperti Bahan Bakarnya.

Begitu banyak orang yang bangga dengan keluasan dan keindahan ilmunya, tetapi tanpa bahan bakar hikmah ia tetap didarat tak dapat terbang.

Hikmah didapatkan dari mendengarkan langsung dan bersama Wali Allah, sementara ilmu hanya berasal dari ulama biasa, ustad biasa, ulama buku-buku, ulama Awroq.

Sementara Bertasawuf adalah mengenal, mencicipi manisnya spiritual bersama Ulama Azwaq, Ulama Rasa.

Ilmu yang kita pelajari dengan ego maka terkadang membebani sementara Hikmah tak dapat terlupa dan menguatkan.

Nabi SAW bersabda, "Yang menghancurkan ilmu adalah LUPA”

Kita terlupa seiring dengan bertambahnya umur kita dan menjadi semakin tua.

Hikmah berasal dari pertemuan dengan Wali Allah, mendengar nasehat dan bimbingan dan bertemu, karena ada dua macam ilmu. Ilmu Awroq (tulisan) dan Ilmu Azwaq (Rasa).

Ketika kita mendengar seorang Kekasih Allah / Wali Allah berbicara, maka ilmu rasa yang ditransfer langsung kedalam kalbu kita.

Ketika kita menulis dari ceramah Wali Allah, maka yang semula kita terima dalam bentuk Hikmah, berubah menjadi Ilmu artinya meskipun awalnya merupakan Hikmah tetapi karena telah menjadi bentuk tulisan maka dia berubah menjadi ilmu biasa.

Hikmah berasal dari RASA, pertemuan langsung dengan Para Wali Allah.

Berjamaah dengan wali Allah, bagaikan ibadah 70 tahun, maka carilah para Wali Allah.

Namun sayang hanya sedikit dari kita yang berusaha mencari Kekasih Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh agar dapat bertemu para Wali Allah, atau ketika mendengar nama seorang disebutkan bahwa dia adalah salah satu Wali Allah, terkadang mereka tidak percaya.

Itulah sebabnya Umar ra ketika berencana membunuh Nabi saw dan ketika berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad salallahu alaihi wasalam, maka ia masuk islam.

Inilah ilmu Rasa yang ditransfer melalui tatapan mata, melalui pertemuan langsung, dimana mereka merubah benci menjadi cinta.

Ada dua jenis ilmu, Ilmu yang berasal dari ucapan ulama biasa dan Ilmu yang sejati ditransfer dari hati ke hati.

Sehingga kemudian sang murid merasa bahwa dia memiliki inpirasi untuk mengerjakan kebaikan, cara ini lebih cepat memberikan hasil, demikianlah para Guru mengirimkan inspirasi kedalam hati setiap muridnya.

Jika perintah berasal dari luar, ego biasanya menolaknya tetapi jika berasal dari keinginan hati nurani sendiri maka dia merasa terhormat untuk mengerjakannya dengan ikhlas.

Ilmu Ulama seperti setetes dari samudera ilmu wali Allah, ilmu seorang Wali seperti setetes dari samudera Ilmu Para Sahabat ra, Ilmu Sahabat seperti setetes dari Ilmu Nabi saw, dan ilmu Nabi saw hanya setetes dari Samudera Ilmu Allah Azza wa Jalla.

Ketika kita mendengar ceramah terkadang ego menolak, karena berasal dari luar.

Tetapi Ilmu Wali Allah bekerja dengan dua cara, dari luar dan dari dalam, dari luar berupa ucapan, dari dalam berupa ilham ilahiah yang dimasukkan kehati setiap muridnya.

Dan ketika muridnya melakukannya ia merasakan hal itu dari inspirasinya sendiri sehingga ia ikhlas melakukannya tanpa beban sedikitpun.

Itulah cara kerja Wali Allah dalam membersihkan dan membenahi para muridnya.

Tasawuf adalah Ilmu Rasa, Pengalaman dengan terjun langsung.

Seorang siswa kedokteran ahli bedah, tidak bisa menjadi ahli bedah hanya dengan membaca buku-buku tentang ilmu bedah.

Seperti orang yang menulis tentang mabuk tetapi ia sendiri belum pernah merasakan mabuk.

Seorang ahli bedah haruslah telah menjalani praktek bedah, latihan dengan langsung membedah dibawah bimbingan dokter ahli bedah yang ahli yang telah berkali-kali membedah manusia.

Demikianlah Wali Allah yang telah berkali-kali membedah Ego dan Nafsu untuk dapat dikendalikan dari Nafsu Amarah menjadi Nafs Muthmainnah.

Demikian pula dalam Ilmu Tasawuf, ada banyak Profesor, DR. Msc, MA, Ulama, Ustad yang mendalami tasawuf dan mengajar tasawuf, tetapi ketika ditanya siapa Mursyidnya, mereka mengatakan tidak memiliki mursyid. Artinya bagaimana seorang penulis tentang jantung bicara tentang membedah jantung padahal dia bukan dokter ahli jantung, padahal dia belum pernah melakukan pembedahan?

Maka bagaimana seorang yang belum pernah memiliki Mursyid bicara tentang tasawuf padahal dia belum bertasawuf?

Tasawuf adalah pengalaman rasa, bukan ilmu tulisan, bukan ilmu buku-buku.

Tasawuf adalah Ilmu Azwaq (Ilmu Rasa) bukan ilmu Awroq, Ilmu tulisan.

Tasawuf adalah mengambil bai’at dari Mursyid hakiki dan melaksanakan dzikir yang telah ditetapkan sesuai tariqahnya, dan menjalankan amalan hanya dengan perintah Syaikh / Mursyid yang Hakiki.

Ada begitu banyak sufi palsu, ada begitu banyak Guru sufi palsu yang hanya menjelekkan citra sufi.

Secara syariah mereka tidak mengerjakan Syariah yang benar, secara sunah mereka menjauhi sunah.

Tak ada Tariqah tanpa Syariah, karena seumpama syariah adalah lilin penerang untuk menjalani jalan tariqah agar tak tersesat dan menuju hakikat.

Imam Malik, Imam Mazhab Maliki mengatakan Syariat tanpa tasawuf adalah zindik (kafir tersembunyi), dan tasawuf tanpa syariat adalah sesat.

Jadi muslim sejati harus memiliki keduanya, untuk mencapai maqam mukmin (memiliki iman yang sejati) dan mencapai maqam muhsin (ihsan, dimana ketika sholat seolah berhadapan dengan Allah, dan bila kita tidak melihatNya maka Allah selalu melihat kita)

Setiap orang perlu pembimbing ruhani sejati, Berdoalah,”Ya Allah kirimkanlah para KekasihMU untuk membimbing hamba yang lemah ini” Siapa berdoa, maka ia akan mendapat jawabannya.

Siapa yang mencari Mursyid sejati, maka ia akan menemukannya.

Tetapi saat ini setiap orang bangga dengan dirinya, mereka mengatakan gurunya cukup dengan buku-buku.

Sementara dia tidak mengenali mana buku yang ditulis dengan ego penulisnya. Jika cukup Quran dan hadist saja menjadi gurunya maka Allah tidak perlu menurunkan seorang Nabi untuk menjelaskannya.

Manusia dewasa ini ketika mereka sakit berat dan harus menjalani operasi, mereka bagaikan orang lemah yang setuju harus menandatangani berita acara operasi.

Bahkan tanpa mereka perlu membacanya, karena mereka telah pasrah dengan penyakitnya.

Tetapi ketika qalbu mereka sakit, ketika hati mereka berkarat, ketika mereka tak mampu mengalahkan egonya, mereka tetap tak mau mencari obat dari Sang Pembimbing Ruhani Sejati para Wali Allah.

Mereka para Awliya (Wali-Wali Allah) tak butuh uang anda, tak butuh pujian, mereka orang yang ikhlas bekerja sepanjang hari tak kenal lelah tanpa bayaran, cukup Allah dan Rasulullah saw bagi mereka.

Ketika kalian akan menyebrang padang pasir yang tak dikenal, kalian perlukan penunjuk jalan agar tak tersesat, agar tahu bahaya yang menanti disetiap langkah, mungkin badai pasir, binatang buas, ular, pasir yang menelan dsb.

Tentu saja penunjuk jalan itu telah melalui padang pasir itu berkali-kali sehingga mengetahui karakter padang pasir itu.

Demikian juga apakah kalian pikir meniti jalan ruhani jauh lebih mudah daripada menyebrang padang pasir tak dikenal?. Mereka yang dikuasai ego, memerlukan bimbingan guru ruhani sejati yang telah mengalahkan egonya, dan mengetahui cara memotong tangan-tangan gurita ego dari korbannya.

Setiap orang perlu mencari Wali Allah sebagai pembimbing, bukan hanya ulama biasa yang terkadang masih memiliki ego yang tinggi.

Sehingga terkadang kita mengerjakan kebaikan dengan Ego, Nafsu dan Riya yang tersembunyi dalam setiap amalan yang dikerjakannya.

Carilah Wali Sejati yang akan membimbing kalian, begitu banyak jalan tariqah sufi ini telah ditunjukkan, tetapi ego selalu menolak.

Ketika kita akan melangkah kepada yang Haqq, maka seratus setan dalam bentuk manusia, jin mencegah kalian untuk mendekati yang Haqq.

Berjuanglah untuk mencari yang Haqq.

Ada dua kubu dalam islam, Islam yang Penuh Cinta, sehingga jalan sufi dikenal sebagai jalan cinta dan yang kedua yang penuh dengan kebencian.

Mereka sibuk mencari kesalahan golongan lainnya dengan empat kata, Kafir, Bid’ah, Syirik dan Haram. Hanya jalan CINTA yang nanti akan Allah ridhoi. Hanya jalan cinta yang merupakan jalan Nabi saw.

Mengapa kalian tak megikuti cara Nabi saw ketika dihujani batu di Thaif tetapi Beliau saw tetap mendoakan umatnya agar selamat, tanpa dendam, itulah jalan cinta.

Mengapa kita perlu Mursyid? Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan tanpa Mursyid maka mursyid kalian adalah setan.

Ya setan bermain dengan ego kalian, karena kalian selalu akan terhambat mencapai kemajuan spiritual bila tak memiliki bimbingan.

Bahkan untuk belajar matematika saja kalian perlu guru.

Tentu berbeda matematika SD dan Perguruan tinggi atau tingakatan Phd.

Tentu berbeda islamnya kalian ketika kecil dan untuk mencapai iman dan ihsan. Untuk mencapainya kalian perlu mensucikan jiwa kalian, membersihkan dari ego, membersihkan karat hati dari maksiat.

Jalan pintas tercepat adalah memiliki guru para Wali Allah yang penuh cinta, dialah pembimbing sejati.

Itulah sebabnya didalam Al-Quran dikatakan masukilah rumah melalui pintu-pintunya.

Artinya mengenal agama ini melalui pintu-pintunya dan terhubung hingga Rasulullah saw.

Nabi saw mengenal islam melalui Malaikat Jibril as, Abu Bakar ra mengenal agama melalui Nabi saw, terus hingga tabiin, tabiit, Imam Mazhab dan sampai kepada Wali Akhir Zaman ini.

Merekalah yang perlu kalian ikuti. Insya Allah siapapun yang mencari dan berdoa, untuk mendapatkan Pembimbing Sejati Para Kekasih Allah, maka mereka akan mendapatkannya.

"Amin Ya Robbal Alamin"

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.

Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah.

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk (Waliyyan Mursyida) kepadanya." (QS. Al Kahfi: 17)


https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

Anda sedang membaca Tasawuf Pada Masa Rasulullah SAW. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Tasawuf Pada Masa Rasulullah SAW, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Tasawuf Pada Masa Rasulullah SAW dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya. Silahkan Liked - Follow FB Fanpage Mistikus Cinta | Follow Twitter @Mistikus_Sufi | Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta | Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.


Sebarkan via LINE - WA:

Post a Comment Blogger Disqus

  1. Subkhanallah......penjelasan yang jelas dan gampang di cerna....masihkah yang belum mengerti tassawuf menganggap bid'ah ....perlu membacanya

    ReplyDelete

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top