Mistikus Cinta

0
Kitab Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah karya Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Haddad.ra
"Keadaan hidup seseorang sesuai dengan sahabat karibnya, maka hendaknya setiap orang memerhatikan siapa yang dijadikannya sebagai sahabat." 

Persahabatan dan pergaulan amat besar pengaruhnya dalam mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi seseorang, ataupun sebaliknya, kemaksiatan dan mudarat. Hal ini bergantung pada siapa yang diajak berteman, bergaul, dan berkawan. Apakah dengan orang-orang saleh dan baik-baik ataukah dengan orang-orang fasik dan jahat. Pengaruh tersebut tidak tampak seketika, tetapi sedikit demi sedikit dan sesuai dengan lamanya persahabatan dan pergaulan, dengan orang-orang baik-baik atau dengan yang jahat tadi. 

Nabi Saw. pernah bersabda: "Seseorang akan dikumpulkan bersama kawan karibnya (atau seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang dicintainya)." (Hadis sahih dari Ibn Mas’ud) 

“Keadaan hidup seseorang sesuai dengan sahabat karibnya, maka hendaknya setiap orang memerhatikan siapa yang dijadikan sahabat.” (HR Bukhari) 

"Perumpamaan teman berbincang yang baik, ibarat seorang penjual wewangian. Adakalanya engkau diberinya atau membeli darinya atau beroleh bau wanginya. Dan, perumpamaan sahabat yang jahat ibarat peniup puputan', adakalanya engkau terbakar percikan apinya atau terkena bau busuknya." (HR Muslim) 

Neraca untuk Menilai Pergaulan 

Barang siapa ingin mengetahui adakah dari sahabatnya ia beroleh penambahan iman, agama, dan amal; ataukah justru menderita kekurangan darinya, hendaknya merenungkan kembali keadaannya sebelum persahabatan dan pergaulannya dengan orang tersebut. Yakni, dalam hal keteguhan iman dan agamanya, demikian pula akhlak mulia yang disandangnya, niat-niat baik yang dipendamnya, serta semangatnya yang kuat untuk melakukan ketaatan dan kebajikan. Kemudian, memerhatikan keadaannya dalam semua itu setelah bergaul dan berteman. Jika ia mendapati bahwa sifat-sifat dan amal baik itu telah bertambah kuat dan kukuh, semangatnya untuk itu serta tekadnya untuk mempertahankannya pun makin bertambah, maka ia dapat merasa lega bahwa pergaulan dan persahabatannya itu telah mendatangkan manfaat baginya dalam agama dan jiwanya. Di samping itu, jika ia meneruskan persahabatannya dan menjadikannya sebagai kebiasaan yang dipegangnya erat-erat, pasti akan membawanya pada manfaat yang lebih besar serta kebaikan yang lebih berlimpah, insya Allah. Namun, jika ia memerhatikan keadaan dirinya setelah pergaulannya itu dan melihat bahwa perilaku dan semangat keagamaannya, seperti tersebut di atas, justru menjadi lebih lemah dan goyah, hal itu menunjukkan bahwa pergaulan dan persahabatannya itu telah mendatangkan mudarat yang senyata-nyatanya bagi agama dan jiwanya. Di samping itu, jika ia meneruskannya, niscaya hal itu akan menjerumuskannya ke dalam mudarat dan kejahatan yang lebih besar dan lebih banyak. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya). 

Dengan cara itu pula, hendaknya ia memerhatikan kembali sifat-sifat buruk yang ada pada dirinya sendiri sebelum persahabatan tersebut dan sesudahnya. Dengan neraca yang kami sebutkan di atas, hendaknya ia menimbang masing-masing sifat dan perilaku dirinya sendiri dan membandingkannya dengan sifat-sifat kebalikannya pada diri teman-teman sepergaulannya. Hendaknya ia menyadari pula bahwa kemenangan akan berada di pihak yang lebih kuat dan lebih dominan, dalam kebaikan maupun dalam kejahatan. Artinya, apabila kebaikan di antara sesama teman itu lebih kuat dan lebih dominan, dapat diharapkan bahwa teman yang jahat akan tertarik pada kebaikan dan kepada pelakunya. Tetapi, apabila kejahatan lebih kuat dan lebih dominan, dikhawatirkan bahwa orang yang baik akan tertarik pada kejahatan dan kepada pelakunya. 

Inilah makna-makna yang amat pelik yang benar-benar dimengerti oleh orang yang berpengalaman dan tercerahkan jiwanya, dalam perkembangan berbagai perilaku seperti ini. Menerangkannya secara mendetail membutuhkan uraian amat panjang. Cukup kiranya kita perhatikan sabda Nabi Saw: "Teman berbincang yang baik lebih utama daripada duduk bersendiri, tetapi kesendirian lebih utama daripada duduk bersama teman yang jahat." Memang, Nabi Saw. telah dikaruniai Allah Swt. kemampuan yang tinggi dalam mengucapkan kata-kata singkat tetapi padat artinya, lebih daripada manusia mana pun, yang dahulu maupun yang datang kemudian. 


Kitab Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah karya Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Haddad.ra



https://mistikus-sufi.blogspot.co.id/p/donasi.html
Visit Donasi Mistikus Cinta

DMCA.com
Anda sedang membaca Kitab Hikam Al Haddad - Pengaruh Pergaulan dalam Perilaku Seseorang. Diizinkan copy paste untuk dipublikasikan: Kitab Hikam Al Haddad - Pengaruh Pergaulan dalam Perilaku Seseorang, namun jangan lupa untuk meletakkan link posting Kitab Hikam Al Haddad - Pengaruh Pergaulan dalam Perilaku Seseorang dari Blog Mistikus Cinta sebagai sumbernya, apabila tidak mau menyebut sumber dari BLOG. Mohon jangan COPAS. Jika menurut anda artikel ini bermanfaat mohon bantu share. Untuk menyambung tali silaturahmi silahkan Liked FB Fanpage Mistikus Cinta - Follow Twitter @Mistikus_Sufi - Ikuti dan Share Channel Telegram @mistikuscinta. Terima kasih.

Post a Comment Blogger Disqus

Komentar diseleksi terlebih dahulu sebelum ditampilkan.

 
Top