Mistikus Cinta

0
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani
(Guide Book Naqsybandi)

Seorang mukmin menertibkan dirinya sendiri; dia mengkritik dan menilai hanya untuk kepentingan Tuhan. Penghitungan akhir (hisab) bisa menjadi ringan pada orang-orang karena mereka dulunya terbiasa menilai diri sendiri dalam kehidupan ini. Dan Penghitungan Akhir pada Hari Pengadilan kelak menjadi amat keras pada mereka yang menjalani hidup ini dengan sembrono dan mengira bahwa mereka tidak akan pernah dipanggil untuk di hisab. (Al- Hasan ibn Ali ibn Abi Talib)

Dalam thariqat kita, untuk menghilangkan kegelapan dalam hati, adalah penting bagi semua pencari untuk menyiapkan sebuah buku tulis dan menulis sifat-sifat buruk dari ego masing-masing. Setiap orang bisa mencatat sedikitnya 200 kelakuan-kelakuan buruknya.

Dengan menuliskannya akan menjadi kunci untuk menghancurkannya. Siapa yang belum pernah melakukannya, maka harus segera melaksanakannya. Diantara sifat-sifat buruk ini adalah mencuri, berbohong dan marah. Salah satu yang paling buruk adalah kemarahan. Jika kalian marah pada seseorang, maka kendalikan diri sendiri selama 40 hari.

Syaikh Nazim menulis bagi diri beliau sendiri lebih dari 100 kelakuan buruk, jadi kita tidak mungkin kurang dari itu. Ketika kalian mengamati sifat-sifat buruk ego itu, kalian akan merasa jijik. Proses ini akan merobohkan ego yang menghasut (an-nafs al–ammara). Jika kalian menulis apa yang masuk dalam hati dengan bantuan spiritual syaikh, maka ego akan takut. Jika ada yang menemukan buku catatan kalian, biarkan mereka melihatnya, karena lebih baik merasa malu dalam dunia ini daripada di Hari Pengadilan kelak.

Sebagai tambahan, para pencari harus menyediakan waktu di setiap akhir hari untuk menghitung diri sendiri: apa yang telah dia perbuat dan mengapa dia melakukannya? Apakah dia telah lalai dan mengapa? Siapa yang dia jahati dan siapa yang telah dia tolong? Lalu ambil tasbih dan minta ampunan Tuhan (istighfar) bagi tiap kesalahan dalam perbuatan atau kelalaian itu.

Keseimbangan berawal dari diri sendiri, karena diri ini adalah akar dari segala masalah dalam spiritualitas. Dalam mendekatkan diri pada Hadirat Tuhan, para pencari harus membangun aspek ilahiah dari dirinya. Seseorang mungkin akan bergegas dalam ibadah-ibadah sunah dan puasa, bersedekah lebih banyak, dll. Namun, dalam mencari kebenaran, hal-hal tersebut tidaklah cukup.

Karena biasanya orang-orang yang beribadah akan melewatkan sebuah langkah yang penting yaitu al muhasabah–pemeriksaan diri sendiri.

Tanpa aspek ini, seluruh ibadah yang dilakukan adalah dalam keyakinan bahwa kita sedang meraih tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, padahal faktanya hal itu menjadi penghalang kemajuan kita. Bagaimana bisa? Ketika ibadah-ibadah itu tidak secara murni dilakukan demi mencari ridha Allah semata dan kita terus melanjutkannya dibawah prasangka berpuas diri bahwa seluruh apa yang kita lakukan adalah untuk meningkatkan perkembangan spiritual kita. Pada saat itu, kita kemudian bersantai-santai menikmati kesuksesan dalam disiplin dan pekerjaan spiritual.

Jangan lupa dukung Mistikus Channel Official Youtube Mistikus Blog dengan cara LIKE, SHARE, SUBSCRIBE:




Anda sedang membaca Muhasabah | Silahkan Like & Follow :
| | LIKE, SHARE, SUBSCRIBE Mistikus Channel
| Kajian Sufi / Tasawuf melalui Ensiklopedia Sufi Nusantara, klik: SUFIPEDIA.Terima kasih.
Sudah berapa lama Anda menahan rindu untuk berangkat ke Baitullah? Melihat Ka’bah langsung dalam jarak dekat dan berkesempatan berziarah ke makam Rasulullah. Untuk menjawab kerinduan Anda, silahkan klik Instagram | Facebook.

Post a Comment Blogger Disqus

 
Top